Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Kelvinsius Julio Fenik Gunawan, Berjuang Merubah Nasib Melalui Bidik Misi

  • Selasa, 2 Januari 2018 | 20:53
  • / 14 Rabiul Akhir 1439
Kelvinsius Julio Fenik Gunawan, Berjuang Merubah Nasib Melalui Bidik Misi
Kelvinsius Julio Fenik Gunawan bersama keluarganya. (ist)

Memontum Kota Malang Bagi siswa SMA atau SMK yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi untuk meraih cita-cita, tentu akan berjuang maksimal untuk meraih beasiswa Bidik Misi.


Bidik Misi adalah bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik, untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. Artinya Bidik Misi menanggung 100 persen untuk biaya studi, uang tunjangan hidup per bulan, dan fasilitas lain seperti seminar gratis. Dan biasanya dibuka mulai bulan Januari hingga September setiap tahunnya.

Hal ini dirasakan manfaatnya oleh Kelvinsius Julio Fenik Gunawan, alumni SMA Negeri 1 Batu tahun 2013, yang menjadi salah satu lulusan terbaik jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Brawijaya angkatan 2013 dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,73, serta alumni sukses Penerima Beasiswa Bidik Misi, dengan skripsi berjudul “Efek Waktu dan Suhu Operasi Proses Sililasi pada Pembuatan Aerogel Silika pada Pengeringan Tekanan Atmosferik (Ambient-Pressure Drying)”.

Menurut Kelvin, dirinya mengenal Bidik Misi dari guru Pembimbing Akademik dan guru BK di SMA Negeri 1 Batu, yang mengarahkan Kelvin untuk mengambil beasiswa tersebut, karena dirinya berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Bidik Misi secara langsung menjaring calon mahasiswa berprestasi saat masih duduk di bangku SMA. Ketika lolos, dirinya dan keluarga tak perlu mengkhawatirkan tentang kesanggupan financial studi lanjutnya di UB. “Dengan Bidik Misi ini, pendapatan orang tua saya dapat dialihkan untuk membiayai adik adik saya sekolah, sehingga studi saya tidak akan mengganggu pengeluaran dari orang tua,” ungkap syukur sulung dari 3 bersaudara ini.

Tak hanya itu, anak pasangan Frans Gunawan dan Suningsih ini merasakan bagaimana Bidik Misi mempengaruhi mindset dan kepercayaan diri kedua orang tuanya. Dulu orang tua Kelvin merasa sangat sulit untuk memastikan anak-anaknya duduk di bangku kuliah, karena terjebak dengan opini bahwa biaya kuliah sangat mahal. Namun setelah dirinya mendapat beasiswa Bidik Misi, orang tua Kelvin kini sering memberikan arahan pada teman-temannya dengan kondisi ekonomi bawah untuk mengkuliahkan anak-anaknya melalui jalur Bidik Misi ini, dan membalikkan keadaan ekonomi keluarga menjadi lebih baik.

“Ingat, kita orang-orang pilihan, be a man of value, jadilah manusia yang bermanfaat tidak hanya sekedar mengikuti alur kehidupan. Kalau kita diam dan menyerah, maka kita sudah jelas akan kalah. Kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri untuk menjunjung apa yang sedang kita pijak saat ini,” motivasi Kelvin pada para calon mahasiswa Bidik Misi dan orang tua.

Kelvin mengaku sering waktu bermain dan waktu istirahat tersisihkan, karena aktif dalam kegiatan organisasi dan kemahasiswaan. Segudang pengalaman kampus sebagai bagian penerima Bidik Misi, menanamkan dalam dirinya agar bekerja keras semaksimal mungkin di bangku kuliah. Kelvin tergabung dalam banyak kegiatan kepanitiaan di kampus, baik skala jurusan hingga skala nasional. Mulai dari menjadi anggota kepanitiaan hingga menjadi ketua pelaksana.

Dalam bidang kompetisi, Kelvin pernah menjadi perwakilan FT UB pada Chemical Engineering Car  Competition di Surabaya, Melbourne Australia, dan Johor Bahru Malaysia. Ditambah lagi lomba Plant Simulation di Universitas Pertamina. Sedangkan dalam organisasi, Kelvin aktif di Himpunan Jurusan Teknik Kimia selama 3 periode dan menjadi Sekretaris Umum di periode terakhir (2016/2017).

Selain prestasi non akademik, Kelvin termasuk juga sukses di bidang akademik. Dia percaya, kunci keberhasilannya adalah menyeimbangkan akademik dan non akademik (organisasi). “IPK dapat dikejar tak hanya dengan cara belajar formal, banyak yang belajar mati-matian, tapi tidak bisa mendapat hasil yang memuaskan. IPK tetap perlu dikejar dengan cara belajar giat, juga diimbangi dengan kehidupan sosial yang baik dengan civitas akademika yang ada. Sehingga mempermudah jalur kita untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,” tukasnya. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional