Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG
space ads post kiri

Teller Mini Bank SMK Antartika 2 Sidoarjo, Beromzet Rp 2,5 Juta Per Bulan

  • Senin, 8 Januari 2018 | 19:39
  • / 20 Rabiul Akhir 1439
  • Dibaca : 148 kali
Teller Mini Bank SMK Antartika 2 Sidoarjo, Beromzet Rp 2,5 Juta Per Bulan
MINI TELLER: Sejumlah siswi SMK Antartika 2 Sidoarjo sibuk menjadi teller di loket layanan Laku Pandai Buku Tabungan, Setoran Tunai dan Tarik Tunai serta e Payment Transfer, Pembayaran dan Pembelian yang ada di sekolah swasta ini. (wan)

Memontum Sidoarjo Kendati dikelolah para siswi kelas 11, Counter Teller mini bank yang beroperasi di SMK Antartika 2 Sidoarjo beromzet jutaan rupiah dalam setiap bulan. Padahal, teller itu belum dikelolah secara serius dan profesional oleh sekolah itu. Selama ini, counter teller yang dijaga 4 siswi setiap hari itu mampu menghasilkan uang laba bersih mencapai Rp 2,5 juta per bulan. Keempat petugas itu, 2 siswi sebagai teller, 1 siswi sebagai customer service dan 1 siswi lagi sebagai akuntan.

 

 

Hasil itu diberikan kepada para siswa dan siswi kurang mampu yang bersekolah di lembaga pendidikan itu. Counter teller itu, selama ini hanya memberikan sejumlah pelayanan. Diantaranya Laku Pandai yakni melayank Buku Tabungan, Setoran Tunai dan Tarik Tunai serta e Payment yakni Transfer, Pembayaran dan Pembelian. Selain itu, juga melayani pembayaran listrik, tagihan telepon dan pembayaran pulsa paska bayar.

 

“Counter teller ini sebagai sarana pembelajaran. Terutama untuk anak-anak didik Jurusan Perbankan. Mereka bisa jadi teller, customer service maupun akuntan sejak dini,” terang Kepala SMK Antartika 2 Sidoarjo, Imam Jawahir kepada Memo X, Senin (8/1/2018).

 

Dasar pemikiran pembukaan counter itu, lanjut Imam agar siswa dan siswinya mahir dalam analisa pembukuan. Selain itu agar lebih teliti dan jeli dalam pembukuan. Meski awalnya, tidak memikirkan keuntungan akan tetapi hasilnya bisa dirasakan para pelajar di sekolah ini.

 

“Kalau ada keuntungan diberikan ke anak-anak didik yang kurang mampu.  Sekarang dimulai dengan membantu anak didik kurang mampu dari hasil kegiatan perbankan ini. Untuk anak didik penerima BKSM PIP dan PKH setiap Rabu dan Jumat diberi makan serta minuman untuk mengurangi uang jajan mereka,” imbuhnya.

 

Padahal, saat ini lanjut Imam dirinya belum mewajibkan sekitar 2.000 siswa dan siswinya membayar di counter teller itu untuk tagihan listrik dan pembayaran tagihan telepon. Sedangkan para guru dan karyawan serta staf sudah diwajibkan membayar di counter teller itu.

 

“Ini hasil kerjasama dengan BNI 46. Kedepan kalau sepakat bukan hanya guru, para siswa dan siswi membayar kesini (loket sekolah) hasilnya bakal lebih besar,” tegasnya.

Imam merincih, untuk tagihan listrik sekolah itu mencapai Rp 12,5 juta per bulan. Sedangkan pembayaran guru seperti dirinya untuk listrik dan telepon sekitar Rp 1 juta lebih.

 

“Jadi penghasilan sebulan itu minim Rp 2,5 juta. Kalau perputaran uangnya tiap bulan jauh lebih besar,” ungkapnya. Sementara 4 siswi penjaga counter teller itu dari kalangan pelajar kelas 11. Alasannya, siswa dan siswi kelas 12 sudah dikonsentrasikan untuk belajar menyambut ujian nasional dan persiapan masuk Perguruan Tinggi (PT) swasta maupun negeri.

 

“Jadi yang jaga wajib siswa kelas 11, untuk kelas 12 fokus ujian nasional dan masuk Perguruan Tinggi (PT) baik negeri maupun swasta. Kami tak mau membebani siswa kelas 12,” pungkasnya. (wan/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional