Connect with us

Jombang

3 Anak Tewas di Kamar Mandi, Ibu Kandung Jadi Tersangka

Diterbitkan

||

Memontum JombangEvi (26) ibu dari ketiga bocah dan balita AR (7), AN (4) dan ZI yang tewas di kamar mandi ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian Jombang. Penetapan sebagai tersangka itu berdasarkan hasil dari otopsi yang dilakukan oleh tim dokter RSUD Kediri dan juga pengakuan dari tersangka Evi, Rabu (17/1/2018).

“Secara kronologisnya sudah kita himpun dan dilakukan pemeriksaan pada saksi- saksi Ibu Evu kita kenakan pasal pembunuhan,” ujar Kapolres Jombang AKBP Agung Marlianto.

Agung Marlianto mengatakan, dari hasil otopsi jenasah yang dilakukan oleh tim forensik RSUd Kediri menyimpulkan bahwa ketiga anak tersebut mengalami kehabisan nafas.

“Tadi malam sekitar pukul 19.00 dari hasil pemeriksaan tim forensik setelah dilakukan otopsi menyimpulkan bahwa ketiga anak tersebut mengalami kehabisan nafas, kehabisan nafas itu bisa karena racun, ditenggelamkan atau hal-hal yang lain, dan bukti di lapangan cocok dengan salah satu jenazah balita Zi, yang tidak mengeluarkan buih di mulutnya,” ujar Agung Marlianto

Sedangkan dari tim dokter kejiwaan, lanjutnya, “Dari hasil pemeriksaan psikis, Evi membenarkan bahwa pada pukul 21.00, ibu Evi mengaku membawa ketiga anaknya ke dalam kamar mandi karena didasari kekecewaan terhadap suaminya yang selalu cemburu kepada Evi.”

“Senin pukul 21.00 wib, Evi mengaku membawa putranya ke kamar mandi, Zi balita berumur empat bulan ditenggelamkan di kamar mandi. Sedangkan kedua anaknya AR dan AN diminumkan racun serangga. Itu dilakukakan karena Evi kecewa dengan suaminya karena selalu cemburu dan juga menganggap salah satu putranya yang nomer dua, dicurigai bukan anaknya,” terangnya.

Sementara itu, lanjut Agung, kemungkinan ini akan berkembang juga karena didasari oleh penelantaran. Sang suami (Gus Din, suami Evi dan ayah dari AR, AN dan Zi) akan kita kenakan pasal penelantaran anak dan masih kita perkuat alat buktinya. Akan tetapi masih menjadi kontroversi, apakah nikah sirih itu bisa dikenakan UU kekerasan dalam rumah tangga. Karena rumah tangga di sini harus tunduk kepada UU Perkawinan no 1/1974 dimana ada catatan yang harus masuk di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi muslim dan dicatatan sipil kalau non muslim.

“Kita akan perkuat alat bukti dan akan kita berikan sanksi penelantaran terhadap keluarga dan anak. Tetapi ini masih menjadi kontroversi juga. Kemarin kita koordinasikan dengan Kajari. Bagaimana dengan kawin sirih ini masih dalam pembicaraan kami dengan kejaksaan,” pungkas Kapolres Jombang Agung Marlianto.(ham/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jombang

Pawai Bunga Meriahkan Sedekah Desa Janti

Diterbitkan

||

Pawai Bunga Meriahkan Sedekah Desa Janti

Memontum Jombang – Dalam rangka sedekah desa dan gelar potensi desa Janti 2019 mengelar pawai budaya pada Minggu 22/9/19 .yang bertempat di start lapangan desa Janti dan finish di TK Mamba,ul Ulum. Acara ini diikuti peserta dari rukun tetangga desa Janti kecamatan Jogoroto kabupaten Jombang.

Agenda tahunan ini sudah dilaksanakan sejak 2015 sampai sekarang 2019. Salah satu penonton mengatakan para peserta pawai budaya sangat kreatif. Apalagi kostum pakaian adat yang menarik dan berkarater diperankan membuat suasana semakin meriah, tutur Tutik Zahroh.

Dalam pawai budaya tersebut masing masing RT /RW mendelegasikan satu kelompok peserta pawai budaya dengan beradu kreatif mulai kostum ogoh ogoh, arak arakan gunungan serta hasil bumi diiringin dengen tongtek dan marching band. Tak hanya itu sejumlah atraksi tari tradisional hingga tari modern juga ditampilkan.

Usai digelar pawai budaya, rangkaian kegiatan, Kepala Desa H Musta’in mengatakan, kegiatan pawai budaya tahun 2019 dan sedekah desa ini, juga menggelar potensi desa. Ini sebagai puji syukur. Dia mengimbau agar meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan warga menuju masyarakat yang adil dan bermartabat. Selain itu, pawai budaya ini juga mengenalkan ke masyarakat luas tentang kearifan lokal dan ajang pelestarian Budaya Jawa. Harapannya kedepan kebersamaan masyarakat semakin lebih terlihat.

“Alhamdulilah seluruh masyarakat sudah mendukung sepenuhnya acara ini. Selain itu rangkaian kegiatan sedekah desa janti dan gelar potensi, juga dilakukan khotmil Quran dan doa bersama. Dilanjutkan hadrah bertempat kantor desa 28 September. Potensi desa seperti bazar dan umkm, pentas seni yang diikuti tokoh pemuda dan karangtaruna 29 September pagelaran wayang kulit dengan dalang Warsono Plong Mojowarno,” pungkasnya. (yud/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Jombang

Bupati Jombang Gelar Doa Bersama Akhir dan Awal Tahun

Diterbitkan

||

Memontum Jombang—–Bupati Jombang gelar Do’a bersama melepas tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019, dengan tema semoga kabupaten Jombang diberi keberkahan dan dijauhkan dari bencana, bertempat di pendopo kabupaten Jombang. Senin (31/12/2018).

Do’a bersama dihadiri oleh Forkopimda, wakil Bupati Jombang, Sekda, seluruh jajaran Organisasi  Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang, dan para tokoh berbagai agama yang ada di kabupaten Jombang, yaitu: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu, serta tokoh masyarakat dan masyarakat yang ikut memeriahkan datangnya pergantian tahun

Khotmil Qur’an dari tim khufadz tambak beras mengawali kegiatan, dilanjutkan dengan Istighosah bersama serta tausiyah oleh Cholil Dahlan dan doa bersama.


Selain berdo’a bersama untuk mengharap keberkahan dan dijauhkan dari bencana, juga untuk mengajak masyarakat kabupaten Jombang untuk bersama-sama meningkatkan percepatan pembangunan yang ada di kabupaten Jombang, papar Bupati Jombang, Mundjidah Wahab dalam sambutannya.

Munjidah menambahkan, jika dalam perjalanan tahun 2018 pemerintah daerah kabupaten Jombang terdapat kekurangan dalam berbagai hal, terutama dalam pelayanan masyarakat, bupati mewakili seluruh pemerintah daerah kabupaten Jombang meminta maaf. Selain itu, Mundjidah berharap di tahun 2019 nantinya, meminta seluruh masyarakat kabupaten Jombang untuk bersama-sama mewujudkan Jombang yang benar-benar kota santri, kota beriman, yang dilanjutkan dengan masyarakat yang berkarakter, yang mana tolak ujungnya berada pada masyarakat yang berakhlakul Karimah, pungkasnya.

Cholil Dahlan dalam tausiyah nya mengisahkan awal mula ditemukannya perhitungan tahun. Cholil mengatakan bahwa, perhitungan manusia dimana dan kapan saja bisa salah, karena itu Allah menurunkan Al-Qur’an yang memberikan penjelasan tentang perhitungan tahun didalam surah at-taubah yang menyatakan bahwa dalam satu tahun dibagi menjadi 12 bulan, yang mana pembagian tersebut bertujuan agar manusia dapat mengendalikan dirinya. pungkasnya (*yan)

Lanjutkan Membaca

Jombang

Bawaslu Libatkan Peran Mahasiswa dalam Pesta Demokrasi 2019

Diterbitkan

||

Memontum Jombang——-Untuk mensukseskan pesta demokrasi  pemilihan umum tahun 2019 mendatang. Badan Pengawas pemilu (Bawaslu) Kabupaten Jombang libatkan peran mahasiswa. Hal itu disampaikan ketua bawaslu Jombang Achmad Udi Masykur dalam acara goes to campus yang mengusung tema “Peran Mahasiswa dan Civitas Akademika Dalam Pengawasan Pemilu 2019, Rabu (28/11/2018).

“Karena meraka merupakan kaum milineal yang  berpengaruh terhadap perjalanan pemilu kita dimasa mendatang artinya tidak hanya tahun depan, tetapi berkaitan dengan pemilu di masa depan. Maka kemudian hal ini perlu kita lakaukan dalam kelompok strategis dalam hal ini mahasiswa yang dapat mwmbawa dampak yang signifikan,” ujarnya.

Udi berharap, mahasiswa berani berbuat membuat pemilu menjadi berbeda melalui gerakan pengawasan partisipatif yang juga telah mereka deklarasikan untuk bisa menjadi pengawas pemilu secara partisipatif, yang berarti pengawasan tidak hanya dilakukan bawaslu namun juga akan diperankan oleh teman – teman mahasiswa sebagai gerakan yang menuju perubahan.

Udi juga  menjelaskan, peran pengawasn mahasiswa nantinya dalam skup kecil.
mereka (mahasiswa.red) akan memainkan pengawasan di keluarga di tetangga kanan kiri, sedangkan dalam tahapan dan pemungutan suara mereka akan memainkan peran di TPS terdekat.

“Jadi kontrolnya mereka  kalau kemudian ada potensi mereka bisa melakukan potensi pencegahan secara mandiri, seperti yang mereka tanyakan berkaitan dengan isu-isu yang krusial, kampanye hitam, dan yang berkaitan dengan politik uang,” katanya.

“Artinya mereka cukup memberi featback terhadap isu-isu krusial yang hari ini perlu dilakukan gerakan yang masif,” Imbuhnya. Lebih lanjut, mahasiswa juga dapat melakukan gerakan struktural dengan mendaftar sebagai anggota KPPS melihat pembentukan kpps belum ditentukan.

“Mereka juga bisa menjadi petugas kpps, itu artinya potensi gerakan perubahan bisa melalui struktur dengan menjadi anggota kpps atau dengan kultur di luar struktur kalau  ada pelanggaran mereka akan berkoordinasi, melaporkan dengan pengawas pemilu setempat yang sudah kita singgung dalam acara tadi,” pungkas Udi. (ham/yan)

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler