Connect with us

Kota Malang

Wawalikota Malang Sutiaji Kangen Menulis

Diterbitkan

||

Cawalkot Malang Sutiaji duduk bersamanawak media dikantor KPU Kota Malang kemarin siang (man)

Memontum Kota MalangSosok calon Walikota Malang dari Partai Golkar dan Partai Demokrat, Sutiaji dimata wartawan sangat familier. Gayanya yang low profil menjadikan dia mudah bergaul dengan semua orang. Pemikirannya tentang pengembangan Kota Malang bisa diterima oleh semua pihak.

Tanpa pengawalan pribadi yang ketat Sutiaji mendatangi undangan komisioner KPU Kota Malang, Kamis (18/1\2018) siang. Dengan memakai baju koko warna biru bermotif batik putih lengkap dengan songkok hitamnya.

Wakil Walikota Malang ini memilih duduk dilantai bersama puluhan wartawan yang setiap hari meliput berita di gedung DPRD dan Balaikota Malang serta kantor KPU Kota Malang.

Tidak terlihat raut wajah minder bahkan risih saat duduk melantai bersama wartawan. Sesekali dia bercanda dengan awak media, siang kemarin mengikuti rapat pleno terbuka anggota KPU Kota Malang untuk mengumumkan hasil pemeriksaan kesehatan dari tiga pasang calon (Paslon) Walikota Malang.

Usut punya usut, Sutiaji memang sengaja ingin duduk dilantai bersama kalangan jurnalis Kota Malang. Apalagi saat itu kursi yang disiapkan sekretariat KPU Kota Malang sudah penuh.

“Saya kangen dengan profesi jurnalis. Makanya saya memilih duduk diantara teman-teman. Saya kangen dengan kebersamaan teman wartawan saat mencari dan meliput berita. Saya juga kangen menulis disurat kabar,” ucap Sutiaji, Kamis (18/1/2018) siang.

Diceritakan, profesi jurnalis baginya tidak asing. Sejak mehasiswa bersama teman temannya mendirikan surat kabar dikampusnya. Sampai tamat kuliah Sutiaji masih menekuni profesi jurnalisnya.

Waktu kuliah di Sekolah Tinggo Agama Islam Negeri (STAIN) Malang sekarang berganti nama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Maulana Malik Ibrahim, Sutiaji mendirikan berita kampus “Inovasi”.

Tokoh nasional sering menjadi sumber beritanya saat menulis dulu antara lain, mantan Ketua MPR RI Amien Rais. Mantan Menteri Pendidikan Malik Fadjar. Pakar ilmu politik Universitas Indonesia Arbit Sanit. Ekonom Dawam Rahardjo dan masih banyak lainnya.

Tahun 1988 Sutiaji bersama beberapa teman kuliahnya berusaha menulis disurat kabar dikampusnya. “Dulu ketika saya ingin wawancara dengan tokoh nasional. Saya harus mengirimkan telegram keteman saya di Jakarta. Bahan pertanyaannya kami tulis dalam telegram,” ujar Sutiaji.

Sebaliknya jika teman teman Jakarta ingin wawancara dengan tokoh di Kota Malang. Atau dengan Rektor STAIN Malang. Pertannyaanya dikirim lewat telegram dulu.

Hasil wawancaranya dikirim lagi ke Jakarta. Kemudian ditulis ulang disurat kabar yang ada di Jakarta. “Bagi saya profesi wartawan itu pekerjaan mulia. Sebab bisa mengungkap kebenaran dan mengemban rasa idealisme sebagai seorang wartawan,” ungkap dia sambil tersenyum.

Masih melekat dalam ingatannya, terakhir menulis kira kira tahun 1999 di Jawa Post. Setelah itu Sutiaji mulai terjun diorganisasi kemasyarakatan (Ormas) di Kota Malang.

Sutiaji pernah aktif menjadi anggota Ansor dan kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang. “Atas saran dan petunjuk para kyai. Saya dianggap bisa mewakili suara NU didunia politik. Akhirnya saya terjun kedunia politik hingga saat ini,” sebut dia.

Pada pemilu tahun 1999 pasca terjadi reformasi Sutiaji pernah ditawari menjadi anggota DPRD Kota Malang dari PKB tapi ditolak. Dengan alasan belum siap menjabat anggota dewan Kota Malang.

Tahun 2004, sempat menjadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Lowokwaru. “Tahun 1999 saya pernah menjadi juru kampanye (jurkam) PKB. Semua pekerjaan itu kami jalani dengan ikhlas. Akhirnya sampailah pada saat ini,” tutur Sutiaji.

Selanjutnya tahun 2009 dia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Malang dari Fraksi PKB. Lantas tahun 2013 saat Pilkada Kota Malang digelar. Dia terpilih menjadi Wakil Walikota Malang menemani H Mochammad Anton.

Menurut Sutiaji, zaman telah berubah. Perkembangan teknologi informasi sangat pesat perubahannya. Unit unit usaha baru sebagai pesaing bisnis surat kabar tumbuh bagaikan jamur dimusim penghujan.

Lalu ditengah beratnya tuntutan kebutuhan hidup. Sutiaji masih menaruh harapan besar kepada kalangan jurnalis untuk tetap menjaga independensinya serta tetap menjaga idealismenya sebagai seorang wartawan.

Wartawan harus tetap bisa mengungkapkan kebenaran. Harus bisa menyampaikan berita yang positif untuk masyarakat luas. Wartawan harus bisa menjadi alat pemersatu anak bangsa.

“Kadang profesi wartawan itu serba sulit. Apalagi harus benturan dengan kepentingan manajemen perusahannya. Tapi saya masih yakin bahwa wartawan di Indonesia khususnya di Kota Malang masih mampu menjaga idealismenya,” ucap Sutiaji.

Lebih lanjut disebutkan, saat ini posisinya menjadi Wakil Walikota Malang. Tentunya dibatasi aturan kalau ingin bergerak lebih jauh dibidang jurnalistik. Konsentrasinya sekarang ini membantu menyelesikan program kerja Walikota Malang. “Pada tahun ini saya dan Abah Anton sama sama mencalonkan diri sebagai calon Walikota Malang. Meski demikian tugas kami berdua sebagai Walikota dan Wakil Walikota Malang belum berakhir. Kita harus menyelesaikan seluruh program kerja yang kita janjikan saat kampanye lima tahun lalu,” tambahnya.

Menurut Sutiaji, walaupun tidak menekuni profesi jurnalist lagi. Dirinya ingin selalu hadir ditengah masyarakat. “Ada sebuah kebahagian sendiri dalam hati saya. Ketika bisa hadir ditengah masyarakat dan mampu memberikan jawaban atas semua persoalan yang terjadi di tengah mereka,” pungkas Sutiaji. (man/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Terpopuler