Connect with us

Bondowoso

Belum Ditemukan Daging Sapi Glonggongan di Bondowoso

Diterbitkan

||

Memontum Bondowoso——Menjelang Hari Raya Idul Fitri, permintaan daging, hususnya daging sapi meningkat siginifikan. Meningkatnya permintaan daging sapi biasanya diiringi dengan kecurangan yang rentan dilakukan para jagal untuk memperoleh keuntungan lebih besar.

Seperti halnya menjual daging sapi glonggongan. “Kami sudah menggelar pertemuan dengan asosiasi jagal dan mengimbau kepada mereka agar menjual daging yang sehat,” kata Kabid Keswan Kesmavet, P2HP Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, drh. Cendy Herdiawan.

Cendy menambahkan, selama ini hasil inspeksi mendadak di sejumlah jagal, belum ditemukan adanya daging glonggongan, yang memiliki kadar air tinggi dan rentan terinfeksi bakteri penyakit.

“Sejak seminggu yang lalu kita terus memantau jagal di sejumlah pasar tradisional. Hingga saat ini kami belum menemukan daging sapi glonggongan,” kata Cendy panggilan akrabnya.

Ditemui terpisah, pemilik jagal di Pasar Induk Bondowoso, H. Rusdi mengaku, meskipun permintaan daging meningkat, ia selalu menjual daging segar yang sehat. Penyembelihanpun dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH).

“Setiap hari di bulan Ramadhan, saya bisa menghabiskan 2 sampai 3 kwintal daging sapi. Memasuki H-2 permintaan akan meningkat hingga dua kali lipat,” kata Rusdi di Pasar Induk Bondowoso.

Catatan Dinas Pertanian, selama ramadhan hingga H-1 lebaran, persediaan daging sapi mencapai 130 ton lebih atau setara dengan sekitar 1000 ekor sapi yang memiliki berat hidup rata-rata 300kg per ekor. (sam/yan)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bondowoso

Mayat Memakai Kateter Ditemukan Membusuk di Selokan Air

Diterbitkan

||

Petugas mengevakuasi mayat.
Petugas mengevakuasi mayat.

Memontum Situbondo – Mayat Mattasan (80), asal RT. 02, RW. 02, Desa Wringin anom, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ditemukan membusuk di saluran air, tepatnya di pinggir jalan Pantura sepanjang jalan raya Banyuputih, Kamis (15/10/2020).

Temuan mayat bernama Mattasan pertama kali diketahui oleh Wahyudi (40), ia curiga dengan bau busuk menyengat dari sebrang jalan rumahnya.

Saat dikroscek sumber bau tersebut oleh Wahyudi, asal Desa Banyuputih, ternyata jasad itu adalah Mattasan, dengan kondisi memprihatinkan, posisi terletang diselokan berbau busuk penuh belatung, lebih ironis korban masih menggunakan Kateter (biasa digunakan pasien untuk membantu mengosongkan kandung kemih), pada alat kelaminnya.

Keterangan Deny ketua RT Desa Setempat, Mattasan memiliki penyakit pada saluran kencing, korban dikerahui saat berjalan selalu menggunakan Kateter dan timba.

“Ini sudah kurang lebih tiga hari tidak diketahui mondar mandir, saya mendapat informasi dari warga kalo Mattasan sudah meninggal, ada kemungkinan ia terjatuh ke selokan tidak diketahui warga dan meninggal,” ungkap Deny.

Korban sebelumnya menempati rumah gubuk di jalan Pantura Banyuputih seorang diri, selama hidupnya sering dibantu warga sekitar dan keluarganya, korban memili menetap dirumah gubuk dipinggir jalan daripada berkumpul dengan keluarganya di Desa Wringin Anom Kecamatan asembagus.

Dari penemuan mayat tersebut, Kapolsek Banyuputih bersama anggota, serta Komandan koramil Banyuputih bersama Babinsa mendatangi lokasi kejadian dan langsung mengevakuasi korban ke ruang Jenasah RSUD Asembagus. Menggunakan ambulance RS Asembagus.

Kapolsek Banyuputih. AKP. Heru Purwanto. SH, membenarkan temuan mayat tersebut. “Sudah kami tangani dan saat ini sudah dievakuasi ke rumah sakit dan keluarga sudah mengetahui kejadian itu, korban meninggal diduga terjatuh ke parit di pinggir jalan Pantura Banyuputih,” kata Kapolsek Banyuputih. (tik/mzm)

 

 

Lanjutkan Membaca

Bondowoso

Disarankan BOP Covid-19 Kecamatan Ditambah

Diterbitkan

||

Drs. H. Harimas, Msi, Asisten 1 Skretariat Pemkab Bondowoso.
Drs. H. Harimas, Msi, Asisten 1 Skretariat Pemkab Bondowoso.

Memontum Bondowoso – Minimnya anggaran BOP (Biaya Operasional) Covid 19 untuk Pemerintah Kecamatan mempengaruhi upaya penyempitan penyebaran Virus Corona. Anggaran tersebut dihitung sesuai dengan jumlah desa

Menurut Drs. H. Harimas, M.Si., Asisten 1 Sekretariat Pemkab Bondowoso, hitungannya 1 Desa Rp 2,5 juta setahun. Jadi kalau di Kecamatan tersebut ada 10 Desa, BOP Covid 19 dijatah Rp 25 juta setahun.

“Menurut saya anggaran sebesar itu kurang. Pasalnya, dalam menjalankan operasi, pihak kecamatan melibatkan instansi samping. Polsek, TNI, dan pihak terkait lainnya,” kata Koordinator Pemerintah Kecamatan ini.

Idealnya, tambah pejabat senior Pemkab Bondowoso ini, hitangannya setiap Desa Rp 5 juta, kalau Rp, 2,5 juta kurang. Mudah-mudahan dalam P-APBD nanti, anggaran tersebut ditambah.

Ditambahkan, kalau anggarannya cukup yang ditambah dalam PAK. Kalau tidak cukup, BOP yang ada itu dimaksimalkan. Sebab, sesuai data yang dirilis Gugus Tugas Covid 19, warga Bondowoso yang terpapar virus Corona terus bertambah.

Camat Curahdami, Dodik Siregar .

Camat Curahdami, Dodik Siregar .

Dikonfirmasi terpisah, Camat Curahdami, Dodik Siregar mengatakan, anggaran Covid 19 cukup. Di Kecamatan Curahdami ada 11 Desa, jadi dapat BOP virus Corona Rp 27,5 juta setahun. “Kalau ditambah kami bersukur. Semakin besar anggaran BOP CoViD 19, hasilnya akan lebih maksimal,” kata mantan Camat Tlogosari.

Sebab, lanjutnya, dalam setiap menjalankan operasi, terutama dalam menyadarkan masyarakat agar tetap menjalankan Protkes (Protokol Kesehatan). “Kami melibatkan kepolisian, TNI, dan pihak lain terkait. Dalam bentuk tim,” tandasnya. (sam/mzm)

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler