Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG
iklan Ucapan Partai Demokrat HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Gerindra HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Golkar HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Keadilan Nurani Nasional HUT Kota Batu
iklan Ucapan PDI HUT Kota Batu
iklan Ucapan KNPI HUT Kota Batu
iklan Ucapan Camat Batu HUT Kota Batu
space ads post kiri

Harga Telur Ayam Meroket, Telur Bentesan Jadi Primadona

  • Kamis, 19 Juli 2018 | 09:52
  • / 6 Djulqa'dah 1439
Harga Telur Ayam Meroket, Telur Bentesan Jadi Primadona
Telor bentesan di pasar tradisional menjadi primadona

Memontum Blitar Beberapa pekan terakhir, harga telur ayam di pasaran khususnya Blitar mengalami kenaikan. Di sejumlah pasar tradisional di Kota Blitar harga telur ayam tembus hingga Rp 26.000 per kilogram. Sedangkan harga telur bentesan, hanya berkisar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogramnya, tergantung tingkat kerusakan cangkang telur.

Pasca kenaikan harga telor ayam tersebut, telur ayam dengan kondisi cangkang retak, atau yang lebih dikenal dengan telur bentesan, belakangan menjadi primadona baru. Baik dikalangan ibu rumah tangga maupun para pengusaha makanan.

“Telor bentesan, harganya bervariasi tergantung kerusakan cangkangnya. Teur yang cuma retak dengan yang cangkangnya benar-benar pecah dan terlihat isinya, tentu harganya beda,” jelas Heri salah satu penjual telur ayam di Pasar Templek Kota Blitar, Rabu (17/07/2018).

Heri mengaku, tingginya harga telur ayam yang kondisi utuh juga mempengaruhi omset penjualan pedagang telur eceran seperti dia. Menurut dia, penurunan omset bahkan mencapai 60 persen setiap harinya.

“Biasanya sehari untuk telor yang utuh bisa habis 50 kilo, namun sekarang 10 kilo saja ngoyo (berat). Semua pilih yang bentesan,” keluh Heri.

Sementara Dina, produsen kue rumahan yang sering belanja di pasar Templek Kota Blitar mengaku, dengan naiknya harga telur dia memang beralih ke telur bentesan sebagai alternatif. Agar usaha kuenya tidak merugi.

“Untuk rasa dan kualitas kue meski pakai bentesan tetap sama. Jadi ya pilih bentesan biar gak rugi, karena yang utuh harganya selangit,” ujar Dina.

Berbeda dengan Reni seorang ibu rumah tangga. Dia mengaku tetap memilih telur utuh meski harganya mahal. Dengan alasan hanya dibutuhkan untuk konsumsi sendiri sehingga tidak terlalu memberatkan.

“Belinya cuma sekilo paling banyak, jadi tetap pilih yang utuh. Kalau yang bentes itu seperti kurang higienis karena sudah terbuka,” jelas Reni. (jar/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional