Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG
iklan Ucapan Partai Demokrat HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Gerindra HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Golkar HUT Kota Batu
iklan Ucapan Partai Keadilan Nurani Nasional HUT Kota Batu
iklan Ucapan PDI HUT Kota Batu
iklan Ucapan KNPI HUT Kota Batu
iklan Ucapan Camat Batu HUT Kota Batu
space ads post kiri

Cabai Bisa Merangkak Mengejar Telur Ayam di Blitar

  • Jumat, 20 Juli 2018 | 13:17
  • / 7 Djulqa'dah 1439
Cabai Bisa Merangkak Mengejar Telur Ayam di Blitar
Harga abai di pasar tradisional mulai merangkak naik

Memontum Blitar Setelah harga telur ayam meroket naik, kini giliran komoditas cabai mulai merangkak ke atas. Gejolak berbagai komoditas ini juga dirasakan di sejumlah pasar tradisional di Kota Blitar.

Susilo, salah satu pedafang cabai di pasar Templek Kota Blitar mengaku, setelah harga telur yang mencapai Rp 27.000 per kilogram turun menjadi Rp 25.000 per kilogram, kini harga cabai yang semula Rp 27.000 per kilogram, naik menjadi Rp 48.000 per kilogram.

“Usai lebaran setiap tiga hari sekali selalu naik antara 2 sampai 3 ribu. Sampai hari ini harganya menyentuh Rp 48.000 per kilogram,” ungkap Susilo, Kamis (19/7/2018).

Menurut Susilo, naiknya harga cabai di Kota Blitar dipengaruhi berbagai faktor. Selain faktor cuaca, juga karena banyaknya petani cabai yang beralih ke tanaman lain seperti jagung. Karena tidak mau mengambil resiko dengan menanam cabai yang memang rentan terhadap perubahan cuaca yang bias berakibat sering gagal panen. Selain itu petani biasanya juga memilih untuk mengirim langsung cabai ke Jakarta. Dengan alasan harga di Jakarta lebih tinggi daripada hanya dijual di daerah saja.

“Saya ngambilnya langsung dari daerah Blitar selatan. Kalau beli langsung harganya bisa selisih 5 ribu daripada diantar. Tapi itupun kalau disana (Blitar selatan) ada barang. Kadang juga gak ada barang karena biasanya mereka kirim langsung ke Jakarta,” jelasnya.

Sementara Sanusi. Wanita yang sudah tahunan menjadi pemasok cabai di Pasar Legi Kota Blitar ini mengaku, jika tahun ini sudah tidak lagi jadi pemasok. Hal tersebut karena banyaknya petani yang mengirim cabainya ke Jakarta.

“Mereka minta harganya disamain sama Jakarta, kalau pemasok kecil kayak saya ya sudah gak kuat. Sekarang paling keras sehari saya hanya bisa jual 50 kilogram,” tandas Sanusi. (jar/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional