Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Tren Positif, Inflasi Kota Malang 2,25 Persen

  • Kamis, 26 Juli 2018 | 14:08
  • / 13 Djulqa'dah 1439
Tren Positif, Inflasi Kota Malang 2,25 Persen

Memontum Malang—-Pemerintah Kota Malang terus berupaya menekan laju inflasi guna menjaga stabilitas roda perekonomian. Hingga bulan Juni Tahun 2018 ini, pemerintah melalui berbagai upaya mampu menekan angka inflasi hingga angka 2,25 persen atau mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni 3,75 persen.

Trend positif keberhasilan Kota Malang dalam menekan laju inflasi bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2018 ini. Berdasarkan data tersebut pada tahun 2013, inflasi Kota Malang masih tembus pada angka 7,73 persen dan meningkat pada tahu 2014 menjadi 8,14 persen.

Penurunan angka inflasi secara signifikan justru terjadi pada tahun 2015. Dibanding tahun sebelumnya, angka inflasi pada tahun tersebut berhasil ditekan hingga 3,32 persen dan berhasil kembali ditekan lagi tahun 2016 menjadi 2,62 persen. Meski mengalami sedikit kenaikan di tahun 2017 menjadi 3,75 persen namun trend positif tahun 2018 bisa menjadi rujukan.

Dibanding Kota lain di Jawa Timur, angka inflasi Kota Malang tergolong cukup rendah. Data BPS, inflasi di Kota Surabaya sebesar 2,90 persen, Banyuwangi 2,72 persen dan Madiun 2,83 persen.

Menanggapi hal itu, Plt Wali Kota Malang, Sutiaji, menegaskan jika selama ini pemerintah kota terus berupaya menekan laju inflasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Pada pertengahan tahun ini, laju inflasi Kota Malang berhasil turun dan menembus angka 2,25 persen,” kata Plt Wali Kota Malang, Sutiaji disela acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada 25 Juli 2018.

Data Bagian Perekonomian Pemkot Malang menyebut, ada beberapa kelompok pengeluaran yang masih menjadi faktor inflasi. Pada kelompok pengeluaran -1 jasa transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masih menyumbang inflasi dengan prosentase 1,02 persen. Sedangkan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,26 persen, kesehatan 0,12 persen dan bahan makanan 0,06 persen.

Pada Kelompok Pengeluaran – 2, bidang pendidikan, rekreasi dan olahraga menyumbang angka inflasi 0,05 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,01 persen dan sandang pada minus 0,16 persen.

Masih berdasarkan data tersebut, sedikitnya ada 10 komoditas utama penyumbang inflasi di Bulan Juni untuk Kota Malang yakni Angkutan Udara dengan andil inflasi 0,1311 persen, daging ayam ras dengan andil inflasi 0,0424 persen, daging sapi 0,0220 persen, angkutam antar kota dengan andil 0,0216 persen dan tarif kereta api dengan 0,0195 persen. Selebihnya pada Tahu Mentah, Nasi dengan Lauk, Tarif kendaraan Travel, Ayam Goreng dan Daging Ayam Kampung tidak menyumbang andil begitu besar dalam inflasi Kota Malang.

“Ada beberapa faktor kenapa inflasi Kota Malang rendah sampai Juni 2018 ini, salah satunya yakni adanya kenaikan harga terendah dari 8 kota di Jawa Timur serta ada penurunan harga terbesar dari 8 kota inflasi di Jawa Timur,” ungkap Sutiaji.

Pemerintah Kota Malang berharap, mampu terus menekan angka inflasi dengan koordinasi bersama stake holder terkait hal ini, salah satunya dengan Bank Indonesia dan lembaga lainnya. “Kita terus berupaya menekan laju inflasi, apalagi Potensi pada bulan Juli untuk kenaikan inflasi cukup signifikan,” tandasnya.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo berkesempatan membuka Rakornas IX TPID 2018 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada Kamis 26 Juli 2018 . Presiden Joko Widodo didampingi sejumlah menteri seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, hingga Menteri Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Rakornas TPID IX Tahun 2018 ini mengusung tema besar yakni “Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Mewujudkan Stabilitas Harga dan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif serta Berkualitas”. Dalam sambutannyaa Presiden RI Joko Widodo, mengucapkan terima kasih kepada para kepala daerah yang hadir dalam Rakornas IX TPID Tahun 2018 ini. Menurutnya, capaian inflasi terendah dalam empat tahun terakhir yakni pada angka di bawah 4 persen tak lepas dari kinerja para kepala daerah dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar besarnya atas capaian inflasi karena pada empat tahun terakhir kita betul-betul bisa menekan angka inflasi di bawah 4 persen,” kata Presiden Joko Widodo.

Dijelaskan, upaya menekan angka inflasi ini harus terus dilakukan dengan kerjasama dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. “Saya melihat ada tren positif kerjasama antara pusat dan daerah. Ada Satgas Pangan di Pusat dan Daerah kerjanya sudah sangat baik,” ucap Presiden.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam sambutannya melaporkan kinerja hasil TPID kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menjelaskan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga terus dilakukan dalam upaya menekan angka inflasi.

“Inflasi pada tahun 2017 lalu cukup rendah, yaitu 3,6 persen dan karenanya berada dalam kisaran sasaran 4 persen plus minus 1 persen. Keberhasilan pengendalian inflasi ini didukung oleh inflasi di seluruh kawasan realisasi inflasi harga pangan atau yang sering disebut volatile food semakin menurun. Bahkan pada 2017 mencatat angka terendah dalam 13 tahun terakhir,” kata Perry

Hal ini lanjut Gubernur BI merupakan buah dari koordinasi kebijakan yang kuat antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat serta Bank Indonesia.

“Kami telah melakukan berbagai program inovatif yang telah dilakukan melalui tim pengendalian inflasi baik pusat maupun daerah bahkan keberhasilan pengendalian inflasi itu juga tercatat dan semakin menurun pada 2018 ini hingga pertengahan 2018 inflasi semakin rendah 3,1 persen pada Juni 2018,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Perry yakin inflasi akan tetap terkendali dalam rentang sasaran tahun ini, yaitu 3,5 persen plus minus 1. Bahkan realisasi inflasi periode bulan Idul Fitri 2018 lebih rendah dibandingkan tiga tahun terakhir yakni pada ahun 2015 sampai 2017.

“Tentunya keberhasilan kita bersama pengendalian inflasi ini sangat penting karena akan menentukan capaian inflasi di akhir tahun ini dan tahun-tahun depan,” ungkapnya. (hms/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional