Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Rumah Potong Bebek Desa Badas, Diluruk Warga

  • Jumat, 27 Juli 2018 | 17:59
  • / 14 Djulqa'dah 1439
Rumah Potong Bebek Desa Badas, Diluruk Warga

Memontum Kediri Karena diduga telah membuang limbah pada aliran kali Poh Blembem Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, rumah potong bebek,  CV Putra Prima Mandiri di Dusun Blemblem Badas Kabupaten Kediri diluruk warga setempat.

Para pengunjuk rasa warga Badas itu selama ini mengeluhkan peternak bebek  kemitraan milik Cv. Putra Prima Mandiri, dan mereka menuntut agar ditutup, karena limbah bau yang sangat menyengat dan munculnya lalat yang menyerang rumah sekitar.


Selain itu warga Badas juga mengeluhkan sistem pengolah limbah pemotong bebek yang dibuang pada aliran sungai Blemblem.

Saat berunjuk rasa masyarakat ngotot peternakan mitra  CV. Putra Prima Mandiri  harus ditutup, namun setelah dimediasi oleh Muspika Basas, bertempat di balai Desa Badas kedua belah pihak dipertemuakan, yakni antara perwakilan warga dan dari perusahaan Cv. Putra Prima Mandiri yang dihadiri langsung oleh Eko sang pemilik.

Perundingan itu berjalan sangat alot, karena dalam mediasi tersebut warga yang diwakili Chudori tetap ngotot penutupan peternakan bebek, agar pabrik pemotongan dalam mengolah limbah sesuai dengan standat ipal dan perusahaan harus mau mengeluarkan Corporate Sosial Responcibelity.(CSR). ” Pokoknya warga Badas tetap menutut 3 tuntutan yaki menutup peternakan bebek mitra Cv. Putra Prima Mandiri, karena limbahnya sangat meresahkan masyarakat, agar Pengolahan limbah pabrik pemotongan dikelola dengan baik, dan Cv. Putra Prima Mandiri mau memberikan CSR pada masyarakat Badas,” katanya.

Sementara itu Eko Telo Direktur Cv. Putra Prima Mandiri  secara tegas siap memenuhi kemauan warga, karena selama ini apa yang menjadi kepentingan warga telah dijalankan semua.” Mengenai tuntutan warga untuk menutup peternakan bebek milik warga sebagai mitra, akan kita evaluasi dulu, kita benahi dulu, peternakan itu kan milik warga, saya kasihan itu menyangkut penghasilan warga kita, ” katanya.

Ketika ditanya terkait dengan limbah pabrik pemotongan bebek, Eko mengaku sebenarnya pengolah limbahnya sudah setandart, dan selalu dikontrol LH, ” Pengolahan limbah kita sudah standart, sedangkan yang terbuang di kali itu sudah berupa air dan aman bagi lingkungan, ” lanjutnya.

Menyangkut masalah CSR, Eko mengaku sebelum masyarakat meminta dana CSR, ia sudah dilakulan sejak pabrik berdiri, dan ia selalu berpartisipasi pada desa. ” Sejak awal pabrik berdiri,  kami selalu berpartisipasi, cuman saya tidak faham isrilah CSR, yang jelas kalau masyarakat dan desa Badas membutuhkan bantuan selalu kita utamakan, ” tegasnya.

Aksi masa warga Badas kemarin membubarkan diri saat adzan magrib setelah mereka mendapatkan penjelaaan beberapa poin kesepakatan dalam forum mediasi tersebut.(aji/yan)

1 Komentar

  1. supiyah Senin, 20 Agustus 2018

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional