Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG

Perkuat Warisan Budaya, Trenggalek Gelar Ethnic Carnival 2018

  • Minggu, 12 Agustus 2018 | 15:49
  • / 30 Djulqa'dah 1439
  • Dibaca : 106 kali
Perkuat Warisan Budaya, Trenggalek Gelar Ethnic Carnival 2018
kesenian tari Turonggo Yakso dan Tiban turut menjadi bagian dari Trenggalek Ethnic Carnival 2018

Memontum Trenggalek—-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Trenggalek ke 73 serta Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ke 824, Pemerintah Kabupaten Trenggalek kembali menggelar Ethnic Carnival 2018. Ethnic Carnival ini digelar dengan tujuan mempertegas atau memperkuat ragam warisan budaya lokal khususnya di Trenggalek maupun penjuru tanah air pada umumnya yang patut dilestarikan.

Dalam pawai Ethnic Carnival tersebut menampilkan berbagai macam kesenian yang merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Diantaranya adalah Turonggo Yakso, yang merupakan kesenian asli Kabupaten Trenggalek. Turonggo Yakso yang pada awalnya bernama seni Baritan, yakni sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Dongko sejak beberapa tahun silam.


Turonggo Yakso menggambarkan tentang kemenangan warga dusun dalam mengusir marabahaya atau keangkara murkaan yang menyerang kampungnya. Turonggo Yakso sedikit berbeda dengan seni jaranan lain karena kuda yang ditumpangi berwujud kuda berkepala raksasa, yang menggambarkan angkara murka.

Selain Turonggo Yakso, juga ditampilkan seni Tiban, yang lekat dikenal dengan tari meminta hujan. Berasal dari kata dasar tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteks dengan peristiwa tersebut, maka Tiban merujuk pada hujan yang jatuh dari langit, yang dalam bahasa keseharian masyarakat lokal disebut udan tiban.

“Ada beberapa kesenian tradisional yang ditampilkan di Trenggalek Ethnic Carnival ini. Beberapa diantaranya adalah kesenian tari Turonggo Yakso dan Tiban. Tiban merupakan tari atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama di daerah Trenggalek, BlitarKediri dan Tulungagung. Seni Tiban merupakan tarian saling sabet ujung pecut dari lidi aren, yang dimaksudkan sebagai permohonan kepada yang Maha Kuasa berharap diturunkanya hujan, ” ucap Wakil Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin saat dikonfirmasi, Minggu (12/8/2018).

Wabup termuda ini juga menegaskan bahwa di Kabupaten Trenggalek juga kaya akan tradisi ritual yang turun temurun mengakar di masyarakat. Seperti tradisi Nyadran yang merupakan sebuah tradisi upacara adat bersih Dam Bagong yang dibagun oleh Adipati Menaksopal.

Juga Larung Sembonyo yang merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan akan hasil laut yang melimpah.

“Oleh karena itu, kesenian maupun upacara adat yang ada di Kabupaten Trenggalek ini dikemas dalam bentuk pawai Trenggalek Ethnic Carnival 2018. Selain kearifan budaya lokal, juga masih banyak lagi budaya tradisional bangsa Indonesia yang disuguhkan kepada pengunjung Trenggalek Ethnic Carnival, ” tegasnya.

Terbukti, antusias warga terhadap Trenggalek Ethnic Carnival begitu luar bisa. Terlihat ribuan penonton dari dalam hingga luar Trenggalek, memadati sepanjang rute Ethnic Carnival. Tahun ini Trenggalek Ethnic Carnival diikuti oleh peserta mulai dari tingkat SD/MI,  SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan peserta umum. (mil/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional