Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG

Henry Loekito Dirikan Singo Warrior MMA Fight Camp Malang

  • Sabtu, 18 Agustus 2018 | 19:26
  • / 6 Djulhijjah 1439
  • Dibaca : 119 kali
Henry Loekito Dirikan Singo Warrior MMA Fight Camp Malang
Max Metino berikan coaching clinic di Singo Warrior MMA Malang. (rhd)

*Gandeng Max ‘Ombak’ Metino Tularkan MMA di Jatim

Memontum Kota Malang—-Tak banyak yang tahu, Mixed Martial Art (MMA) atau kompetisi seni bela diri campuran telah resmi masuk cabang olahraga profesional di Indonesia, di bawah Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). MMA sempat populer tahun 2002 dan surut pada 2005. Kemudian lambat laun mulai muncul lagi. Seiring diakui dan digemari penikmat MMA di Indonesia yang diinisiasi oleh Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI), Anindra Ardiansyah Bakrie (CEO TV One) pun mewadahinya dalam tontonan One Pride MMA di TV One mulai 2016.

Tingginya minat masyarakat Indonesia pada MMA, mampu melahirkan atlet MMA berkualitas yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Salah satunya Henry Kusuma Loekito, arek Malang kelahiran 29 Maret 1989. Tak hanya menjadi atlet, Henry juga mendirikan dojo (sasana) Singo Warrior MMA Fight Camp Malang, di kawasan jalan Terusan Batubara sebagai satu-satunya dojo di kota Malang sejak 2012, sekaligus pertama di Jawa Timur.

“Awalnya, saya mendirikan komunitas bersama para ahli beladiri pemegang sabuk hitam dalam Bhinneka Fight Club pada tahun 2008. Kami saling berlatih dan tukar teknik bertarung di gedung tua kosong. Untuk masuk pun, harus uji nyali dulu dengan bertarung. Kemudian saya kenal Max Metino tahun 2011, dan Max menjajal kemampuan saya. Akhirnya, saya diajak mengelola sebuah sekolah bela diri yang kemudian diberi nama Singo Warrior MMA Fightcamp Malang pada 2012,” urai Henry Kazama, nama sohor atlet sekaligus pelatih MMA bersertifikat ini.

 Henry Kusuma Loekito, saat bertanding di OnePride MMA TV One. (ist)

Henry Kusuma Loekito, saat bertanding di OnePride MMA TV One. (ist)

Menurut alumnus Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia Univeristas Ma Chung ini, ada banyak ratusan siswa yang telah bergabung, namun silih berganti karena kesibukan, lulus kuliah, pindah kerja, dan lainnya. “Saat ini yang aktif sekitar 20 siswa. Tak hanya cowok, cewek pun juga ada. Motivasi mereka macam-macam, ada yang ikut karena pingin bisa beladiri, diet, ingin keren, dan lainnya. Bahkan ada yang ingin jadi fighter. Untuk jadwal latihannya, Senin, Rabu, dan Jumat jam 19.00 WIB. Ada 5 metode yang harus dikuasai, yaitu teknik, strength, stamina, speed, dan power, untuk menguasai teknik striking (pukulan, tendangan, sikutan), take down (bantingan), dan grappling (kuncian),” jelas Hen-hen, sapaan akrabnya.

 Max 'Ombak' Metino bersama siswa Singo Warrior MMA Malang. (rhd)

Max ‘Ombak’ Metino bersama siswa Singo Warrior MMA Malang. (rhd)

Sementara itu, Max Metino datang ke Dojo Malang hanya 1-2 kali dalam setahun. Dalam tiap kunjungannya, Max Metino memberikan coaching clinic selama 2 hari, dimana setiap sesi diberikan coaching selama 5 jam. “Resiko dapat diperkecil, jika diawasi pelatih. Sebab resiko lebih besar saat di jalan, dimana tiap orang butuh mempertahankan diri atau ilmu beladiri saat terdesak. Memang tak harus jadi fighter, minimal sehat lah. Sebagian siswa inginnya sehat, diet, life style, dan jaga diri. Kalau pun fighter, harus bisa menggunakan dengan bijak. Selain itu, dengan belajar beladiri jadi lebih terlihat muda, energik, dan vitalitas tinggi,” jelas si Ombak, julukan Max, saat ditemui di Singo Warrior MMA Malang, Jumat (17/8/2018) sore.

Menurut Max, pembekalan beladiri hendaknya diberikan sejak usia dini. Selain melatih insting, juga sebagai pembentukan karakter. “Belajar MMA bisa mulai umur 18 tahun, tapi syaratnya sudah memiliki bekal dasar beladiri dan lolos cek medis. Pembentukan karakter ditunjukkan ketika usai bertarung masih bisa berteman, dengan salaman dan pelukan layaknya sahabat,” ungkap Dewan KOBI, sekaligus Dewan Wasit MMA ini.

Talent Scouting Atlet MMA ini menambahkan, saat ini beberapa cabor mulai mempelajari dan mengembangkan MMA. Sehingga para atlet cabor memiliki dobel kompetensi. “Ketika mereka juga menguasai MMA, mereka lebih bersemangat. Sebab peluang bertanding lebih banyak, baik cabor sebelumnya maupun di MMA. Misal atlet cabor tinju dan gulat, bisa belajar teknik tendangan, kuncian, serta lainnya dari MMA,” tukas pria 43 tahun, yang belajar beladiri tinju sejak tahun 80-an, kick boxing, wushu, brazilian jiujutsu, aikido, kung fu, taekwondo, dan semua beladiri lainnya, hingga menginisiasi MMA pada tahun 2000 ini. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional