Connect with us

Lamongan

Berbagai Nuansa Jadul Tersaji di Lamongan Tempoe Doeloe

Diterbitkan

||

Sejumlah bangunan bernuansa zaman dahulu berjejer rapih di sepanjang jalan Lamongrejo, Lamongan.

Memontum Lamongan—-Berbagai nuansa zaman dahulu tersaji di Lamongan Tempoe Doeloe yang diikuti kurang lebih 50 stand dari Perangkat Daerah, Kecamatan, Perbankan dan Perhotelan di Kabupaten Lamongan. Bahkan,  dalam acara yang berlangsung selama dua hari yakni pada Jum’at (24/8/2018) malam dan Sabtu (25/8/2818) malam di sepanjang jalan Lamongrejo, Lamongan ini juga menyajikan berbagai makanan tradisional seperti Gethuk, Serawut, Serebeh, Tiwul, Gulali, Mleret, Lopis, Petulo dan beberapa jajanan tradisional lainnya.

Tak hanya itu, nuansa zaman dahulu juga semakin terasa dengan disajikannya sejumlah kesenian tradisional, seperti Ludruk, Campur Sari, dan Keroncong.

Sejumlah bangunan bernuansa zaman dahulu berjejer rapih di sepanjang jalan Lamongrejo, Lamongan.

Sejumlah bangunan bernuansa zaman dahulu berjejer rapih di sepanjang jalan Lamongrejo, Lamongan.

Seperti di stan milik Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Lamongan yang mengambil konsep Gardu PMD. Menurut Kepala Dinas PMD,  Khusnul Yaqin,  pihaknya sengaja mengambil konsep itu karena di zaman dahulu gardu ini sebagai salah satu tempat yang biasa digunakan masyarakat untuk berkumpul atau cangkruk saling bercengkerama.

“Apalagi di sini juga disediakan musik keroncong, di desa dulukan musiknya keroncong jadi bisa menghibur masyarakat, ” katanya.

Selain untuk mengingatkan masyarakat dengan zaman dahulu,  sambung Khusnul  konsep Gardu PMD juga memiliki arti tersendiri.

“Kalau sekarang namanya Pos Kamling,  kalau dulu Gardu, Gardu Dinas PMD,  jadi Dinas PMD ini menjadi penjaga masyarakat di Desa,” jelasnya.

Sedangkan di stand milik Dinas PMD ini, juga terdapat pembuatan serabi yang dilakulan secara langsung sehingga para pengunjung dapat menikmati serabi yang masih hangat.

Disisi lain, konsep berbeda ditampilkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Lamongan. Disdukcapil mengambil konsep yang disebut dengan warung GISA (Gerakan Indonesia Sadar Administrasi). Yakni,  selain menampilkan suasana zaman dahulu dan menyajikan berbagai makanan tradisional,  Disdukcapil juga menyelipkan pelayan pengurusan KTP Elektronik.

“Inikan masyarakat pada ngumpul,  jadi kalau ada yang mau ngurus KTP bisa sekalian mengurus,” tutur Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Lamongan,  Sugeng Widodo. Minggu, (26/8/2018).

Tak hanya itu,  di stand milik Disdukcapil ini,  juga disediakan spot selfie KTP zaman dahulu yang bisa dibuat warga untuk ajang selfie dan juga ditampilkan sejumlah gambar perubahan KTP dari zaman dahulu hingga sekarang.

“Itu gambar mulai KTP di bawah tahun 1945 sampai sekarang,” ucapnya.

Selanjutnya, konsep berbeda juga ditampilkan di stan milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan. Jika stan lainnya memiliki dinding dari anyaman bambu dan beratap jerami,  di stan Disperindag ini mengambil konsep Dukun Cina.

Kepala Disperindag Lamongan,  Moh Zamroni menerangkan pihaknya mengambil konsep Dukun Cina ini karena mengadopsi dari rumah-rumah di Lamongan pada zaman dahulu.

“Dulu banyak rumah di Lamongan yang bentuknya seperti itu, kalau di dalam kota bisa dilihat di gang utara PDAM,  itu masih ada yang bangunannya seperti itu,  kemudian di daerah Kecamatan Glagah terutama di Desa Jatisari,” ujarnya.

Berbagai konsep bernuansa zaman dahulu inipun menarik ribuan warga Lamongan yang tumpah ruah sejak hari pertama pembukaan  Lamongan Tempo Doeloe.

Sementara itu, menurut Bupati Lamongan, Fadeli, Lamongan Tempo Doeloe ini, menjadi momen yang ditunggu masyarakat untuk berburu jajanan zaman dulu.

“Karena acara seperti ini untuk mengenang masa lalu, sekaligus merayakan kemerdekaan RI. Jadi supaya punya manfaat,” kata Fadeli.

Pada momen Lamongan Tempo Doeloe ini, Fadeli juga mengajak masyarakat untuk mengenang bagaimana kondisi Lamongan pada zaman dulu, agar dapat mensyukuri apa yang ada saat ini.

“Mengingatkan zaman perjuangan 73 tahun yang lalu. Lamongan masih gelap gulita, masih belum ada listrik. Listrik masuk Lamongan baru pada tahun 70an, gedung pemda itu saja baru ada tahun 54. Kalau tidak mengenang masa lalu, yang terjadi kita akan selalu kekurangan,” ujarnya.

Lebih lanjut,  Fadeli berharap, agenda seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin, dan terus diperbaiki. Karena ajang Lamongan Tempo Doeloe ini juga menjadi ajang promosi bagi Kabupaten Lamongan untuk menarik perhatian turis untuk datang ke Lamongan.

“Agenda seperti ini saya harapkan kita dokumentasi yang baik, dan dimasukkan ke website Lamongan Turisme, agar dilihat oleh seluruh dunia. Mangkanya ini harus terua diperbaiki,” tuturnya. (ifa/zen)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *