Connect with us

Bondowoso

Bupati: FKN3, Kopi Bondowoso Sudah Terkenal Sejak Abad ke 18

Diterbitkan

||

Memontum Bondowoso—-Pemerintah Kabupaten Bondowoso kembali menggelar Festival Kopi Nusantara (FKN3) yang ketiga kalinya. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud untuk terus memperkenalkan Kopi Bondowoso di kancah Nasional dan Internasional.

Menurut Bupati Bondowoso Drs H Amin Said Husni mengatakan bahwa, kopi Bondowoso sudah terkenal sejak abad ke 18. Namun masyarakat para pekebun kopi belum bisa mendapatkan kesejahteraan yang dihasilkan oleh Kopi.

“Awalnya masyarakat para pemilik kebun kopi yang ada di sekitar Ijen tidak bisa mengelola hasil kopi dengan baik, sehingga tidak bisa mendongkrak ekonominya. Maka pemerintah daerah membuat terobosan dengan membuat pelatihan dan bantuan kepada para pekebun kopi,” jelasnya Sabtu (25/08) malam di Alun-alun Ki Bagus Asra Ki Ronggo Bondowoso.

Lanjut Presiden Bondowoso Republik Kopi (BRK) ini, bahwa Kopi Bondowoso sudah terkenal dimana-mana, karena terdapat beberapa kebun Kopi milik PTPN diantaranya Kebun Pancur Sumbercanting, Kebun Belawan, Kebun Sempol dan beberapa kebun lainnya.

“Kalau dulu masyarakat yang ada di sekitar perkebunan kopi milik PTPN hanya menjadi buruh pemetik kopi saja. Namun saat ini setelah bekerjasama dengan Perhutani dan para pekebun kopi diberikan pelatihan tentang kopi, akhirnya mereka bisa mengelola kopi dengan baik dan benar,” tuturnya saat acara FKN3 di Alun-alun Bondowoso.

Masih kata Amin, kalau dulu sebelum ada campur tangan pemerintah daerah, kopi yang dihasilkan oleh kebun rakyat hasilnya hanya dipasarkan dibeberapa daerah yang ada di Bondowoso dan sekitarnya dengan harga yang sangat murah sehingga tidak bisa meningkatkan kesejahteraan para pekebun kopi.

“Awalnya para pekebun kopi menjual hasilnya hanya dengan harga 18.000 saja perkilonya, namun saat ini sudah naik hingga 80 ribu sampai 100 ribu tergantung kualitas kopi yang dihasilkan. Sehingga para pekebun sudah bisa menikmati hasilnya dan memperbaiki perekonomiannya,” ungkapnya.

Saat ini kata Bupati, para pekebun kopi yang tersebar di beberapa kecamatan di Bondowoso diantara, Tlogosari, Sumberwringin, dan Ijen sudah bisa menghasilkan kopi sebanyak 300 ton selama 1 tahun dari sekitar 1.4000 Hektar kopi.

“Ekspor kopi rakyat sudah berjalan ke beberapa negara di Asia dan juga Eropa, kemudian akan terus melebarkan sayap pasar internasional untuk ekspor ke negara-negara di Amerika latin, sehingga Kopi Bondowoso semakin terkenal dimana-mana,” imbuhnya.

Maka dari Bupati berharap kedepannya, BRK ini terus dikembangkan oleh pemerintahan berikutnya, karena hal ini sebagai upaya pemerintah daerah untuk mempertahankan Bondowoso Republik kopi.

“Bupati boleh berganti tapi BRK harus tetap abadi untuk mengenal Bondowoso melalui Kopinya,” pungkasnya.

H Munandar Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) mennyampaikan dalam sambutannya tema FKN3 kali ini.

“Pada event FKN3 ini kita mengambil tema yakni Semarak Kopi Bondowoso Dalam Meracik Warisan Sejarah Kopi Indonesia.

Ada tiga jenis perlombaan yakni, 1.Specialty Coffee Competition

2.Roasting Competition

3.Brewing Competition.

Digelar selama dua hari dari tanggal 24 sampai 25 Agustus,”jelas H Munandar dalam laporannya.

Sekedar diketahui hadir dalam acara FKN3 2018 Sekjen Kementrian Pertanian, Ir Syukur Irwantoro, Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur Roby Nahliasyah, serta perwakilan Puslit Kopi dan Kakao Jember. (mmx/yan)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *