Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG
space ads post kiri

Demi Aspirasi Rakyat, Dhafir Tetap Semangat Blusukan

  • Rabu, 26 September 2018 | 07:44
  • / 15 Muharram 1440
Demi Aspirasi Rakyat, Dhafir Tetap Semangat Blusukan

Memontum BondowosoSetelah kalah dalam percaturan politik Pilkada, Ahmad Dafir tidak menjadi putus asa untuk tidak memberikan dan menghibahkan sisa hidupnya untuk mengabdi pada bangsa. Pria yang kini menjabat sebagai Ketua DPC PKB Bondowoso itu masih tetap akan mengabdi dan ia kini menjadi salah satu calon anggota DPRD dari dapil 2. Gaya hidupnya yang sederhana juga tak terlihat berubah meski sejak beberapa bulan lalu, Ahmad Dafir nyaris tak bersuara di media.

Hal tersebut sengaja dilakukan oleh Dafir karena ia seringkali turun menyapa dan menemui rakyat yang pada Pilkada 2018 kemarin telah menjatuhkan pilihan padanya, sehingga selama ini Dafir jarang terlihat di tempat tinggalnya, Desa Tegal Mijin, Kecamatan Grujugan.

Bahkan, kata Dafir, ketidakmunculannya di media menimbulkan banyak spekulasi semisal diisukan sakit dan menderita stroke. “Saya hampir tiap hari keliling ke desa-desasering bersepeda bertandang kepada masyarakat, untuk selalu meredam masyarakat dibawah supaya tidak bergejolak. Karena yang menang di Pilkada Salwa Arifin dan Irwan Bachtiar adalah sahabatnya.

“Jadi jangan dimaknai oleh sekelompok orang bahwa saya ini sakit. Alhamdulilah sampai saat ini saya diberikan nikmat sehat, ketika saya mampir dirumah warga yang ada stiker saya setelah mereka tahu saat saya buka masker dan kaca mata kemudian warga itu histeris,” ceritanya.

Ia berharap, pemerintahan yang baru memberikan pendekatan dan pengertian kepada masyarakat. Bahwa Bondowoso untuk keluar dari kabupaten tertinggal adalah PAD (Pendapatan Asli Daerah) harus mencapai 10% dari APBD.

Namun sebaliknya, bila tidak terpenuhi 10% maka Bondowoso akan tetap mendapatkan penilaian kabupaten tertinggal. Untuk itu, pemerintah harus memberikan pemahaman kepada petugas pajak dilapangan karena yang mempunyai kewajiban untuk membayar pajak itu adalah yang punya SPWT (Surat Pemberitahuan Tahunan Wajib Pajak).

“Siapapun pemimpinnya, apabila tidak mencapai 10% kabupaten Bondowoso akan tetap menjadi daerah tertinggal. Pemerintah daerah guna mendapatkan sumber PAD maka menugaskan kepala desa serta perangkatnya, dan itu adalah pembantu menagih pajak yang hasilnya disetor ke Bank Jatim,” jelasnya.

Dafir mengaku keberatan jika hanya karena tidak sukses setor pajak, lalu kades dikambinghitamkan dan dijadikan sebagai pemicu ketidaksuksesan. “Terkecuali masyarakat sudah setor pajak, dan kemudian hasilnya tidak disetorkan,”terangnya.

Sikap menyalahkan pihak lain karena ada masyarakat tidak menyetor pajak tidak mencerminkan pemerintah yang baik. “Pemerintah harus memberikan pemahaman dan pendekatan agar masyarakat memenuhi kewajibannya,” pintanya.

Saat ini, system anggaran menganut pada E-planning, yang pada awal tahun sudah direncanakan dan didalamnya ada pokok-pokok pemikiran DPRD. Selanjutnya untuk bahan dasar KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara untuk penyusunan RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah).

“Ketika ada oknum yang bilang, bahwa pihaknya mengganjal atau mempersulit bantuan apapun itu adalah fitnah. Artinya, apakah bantuan yang akan dianggarkan itu sudah tercantum di KUA-PPAS dan RAPBD ditahun sebelumnya sudah direncanakan,” tegasnya.

Jika kemudian setelah penyususnan anggaran selesai namun bantuan yang dimaksud tidak tercantum, maka jangan menuduh orang lain yang mengganjal. “Atau jangan-jangan dari awal bantuan itu tidak direncanakan,”katanya.

Tetapi memaksakan pengalokasian anggaran di penyusunan APBD, hal itu berpotensi menjadi incaran khusus oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). “Saya tidak mempunyai kepentingan dan jangan mudah menuduh. “Kepada semua pihak jangan suka menyalahkan orang lain agar orang lain tidak menilai ketidak mampuannya,” pungkasnya.(cw-1/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional