Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG

Ratusan GTT Sumawe Sepakat Mogok Ngajar

  • Rabu, 26 September 2018 | 14:04
  • / 15 Muharram 1440
  • Dibaca : 286 kali
Ratusan GTT Sumawe Sepakat Mogok Ngajar
Misirin SPd Koorwil GTT Sumawe.(sur)

*Pilih Kerja Serabutan, Mulai Buruh Tani Sampai Cari Barang Bekas

Memontum Malang—–Terhitung sejak hari ini Rabu (26/9/2018) sebanyak 350 GTT (Guru Tidak Tetap) berstatus K2 maupun non K2 se-wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang sepakat mogok ngajar,termasuk 50 PTT (Pegawai Tidak Tetap) unsur pendidikan wilayah setempat juga mogok kerja.
Guna mencukupi hidup keseharian, mereka pilih
beraktifitas dimasing-masing kediaman dengan bekerja serabutan. Mulai dari
buruh tani hingga cari barang bekas. Mereka akan kembali aktif, setelah pemerintah terbitkan SK pengangkatan ke jenjang PNS.

Tragisnya,dampak dari aksi mogok tersebut,kegiatan belajar mengajar disejumlah SD menjadi lumpuh. Belakangan diketahui, ada beberapa lembaga SD dengan tenaga pendidik masih didominasi GTT. Seperti halnya SDN I Sekarbanyu, di situ hanya ada dua orang PNS, yakni satu Kepala Sekolah dan seorang guru. Sementara jumlah GTT disitu sebanyak 6 orang dengan jumlah siswa 187 orang.

Hal serupa juga di salah satu SDN TambakAsri,dengan satu PNS yakni Kepala Sekolah dan seorang guru. Adapun jumlah GTTnya sebanyak 7 orang. Begitu halnya di SDN 3 Sekarbanyu.Disitu hanya ada dua orang PNS,dan 5 GTT. “Kegiatan Belajar Mengajar di sejumlah SD tersebut,terhitung sejak hari ini lumpuh total,” urai Misirin Korwil GTT Sumawe Rabu (26/9/2018) siang tadi.

Kata Misirin, aksi mogok ini dipicu regulasi rekruitmen CPNS 2018 yang menurut mereka tidak berpihak pada keadilan. Utamanya bagi GTT/PTT yang sudah mengabdi puluhan tahun pada negara.Tetapi dengan gaji yang mereka terima sebesar Rp200ribu setiap bulan itu masih jauh untuk memenuhi kebutuhan.

Masih menurut sosok sekaligus Koorcam GTT Kabupaten Malang ini, aksi mogok mengajar ini sebenarnya dimulai sejak Selasa (25/9/2018) kemarin bertepatan dengan Hari PGRI. “Jika sampai beberapa hari ternyata belum ada kepastian dari pemerintah,aksi mogok mengajar ini terus kami lakukan.Juga bagi teman-teman yang non K2,paling tidak diberi perhatian insentif,itu sebagai ikatan dan semangat mereka agar mengajar lebih baik”,ulas Misirin.

Juga disinggung bagi PTT,mereka bisa diangkat jadi penjaga sekolah.Paling tidak,ada perhatian
Pemerintah. “Pekerjaan yang dilakukan dalam aksi mogok ini sebenarnya tidak sepadan.Itu sama artinya dengan menurunkan martabat seorang pendidik yang dibalut seragam berseterika dan sepatu necis.Tetapi dengan gaji sebesar Rp200 ribu setiap bulan,mungkinkah bisa menghidupi keluarga.Akhirnya mereka cari kerja tambahan dalam bentuk apapun asalkan halal”,tandas Misirin dengan nada melas.

Lepas dari itu, GTT yang mengabdi sejak tahun 2001 hingga sekarang ini berharap kepada pemerintah, khususnya Pemkab Malang, sebagai seorang pengabdi pengabdi pendidikan, mohon dengan hormat dan sangat agar diberi perhatian sesuai dengan kondisi riil dilapangan.

“Aksi mogok mengajar ini sebetulnya kami lakukan dengan rasa berat hati.Kami telah menterlantarkan anak-anak didik.Kami bertahan sampai saat ini demi kecerdasan putra-putri bangsa.Kami merasa berdosa.Tetapi disisi lain,kami juga butuh hidup untuk masa depan keluarga.Aksi mogok ngajar ini juga bukan intruksi dari siapapun termasuk koorwil UPT Pendidikan Kecamatan Sumawe,” papar Misirin mengakhiri.(sur/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional