Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang

Berseragam dan Kinerja Serupa PNS, Gaji Seperti Budak, GTT Gedangan Pilih Ngojek

  • Kamis, 27 September 2018 | 17:22
  • / 16 Muharram 1440
Berseragam dan Kinerja Serupa PNS, Gaji Seperti Budak, GTT Gedangan Pilih  Ngojek
Ngojek: Sulis SPd GTT Gedangan Pilih Jadi Tukang Ojek(Sur)

Memontum Malang—-Aksi mogok sejumlah GTT, PTT berstatus K2 maupun non K2 yang berlangsung secara nasional sejak Selasa (25/9/2018) kemarin. Sambil menunggu jawaban pemerintah terkait kepastian mereka diangkat menjadi PNS, mereka pilih kerja serabutan, seperti buruh tani, jualan ikan segar, penjaga wisata bahkan sebagian pilih jadi tukang ojek.

Seperti yang dilakukan Sulis SPd, seorang koorcam GTT, PTT Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang. Demi kelangsungan pendidikan dua orang anak dan mencukupi kebutuhan rumah tangga, GTT yang mengabdi sejak Tahun 2001 di SDN 3 Sindurejo Gedangan ini, terpaksa pilih jadi tukang ojek.

“Selama ini masyarakat kenal kami sebagai sosok seorang guru seperti kebanyakan guru PNS yang kesejahteraannya selalu terpenuhi. Namun kenyaan yang terjadi, itu hanya kesamaan status dan baju dinas. Mengenai kesejahteraan, tidak seperti yang diprediksi,” ujar Sulis ditemui wartawan media ini dipertigaan jalan Desa Sindurejo Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang Kamis (27/9/2018) siang tadi.

Sulis mengaku, sejak dua hari ini pihaknya pilih jadi tukang ojek.Itu dilakukan demi kelangsungan pendidikan dua putra-putri mereka dan kebutuhan rumah tangga. “Selama dua hari ini belum ada pendapatan,karena selama ini saya dikenal kalangan masyarakat luas sebagai seorang guru. Sebenarnya juga dengan berat hati kami terlantarkan anak-anak didik,tetapi harus bagaimana lagi,karena ini sebuah tuntutan hidup”,tambahnya.

Juga dijelaskan, jumlah GTT ,PTT K2 dan non K2 di Kecamatan Gedangan sebanyak 185 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 143 GTT dan 42 PTT.Khusus GTT,dengan pengabdian berpuluh-puluh tahun, mereka sepakat mogok ngajar hingga ada kepastian pemerintah terkait pengangkatannya ke jenjang PNS.

Disinggung mengenai dampak mogoknya GTT yang tersebar di 34 lembaga SD se-wilayah Kecamatan Gedangan?.Menurutnya ini jelas berdampak.Seperti lumpuhnya kegiatan belajar di sejumlah SD.”Ada beberapa SD yang aktifitas belajar mengajar saat ini lumpuh.Seperti SD3 Sindurejo, SDN2 Sindurejo, SDN4 Sidodadi, SDN3 Gedangan, SDN 6 Gedangan, SDN 4 Gajahrejo, SDN 3 Gajahrejo.

Itu jelas terjadi, karena hampir tiap lembaga rata-rata hanya ada 2 orang PNS termasuk Kepala Sekolah”, bebernya.

Alasan lain mogoknya GTT ini, karena peraturan pemerintah yang dianggap
tidak berpihak pada mereka, bahkan cenderung membunuhnya secara perlahan. Dan yang jelas, itu dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia khususnya bagi tenaga honorer K2 maupun non K2 diseluruh indonesia. Atas dasar dan pertimbangan tersebut, tenaga honorer K2 dan non K2 seluruh Indonesia menyatakan sikap kepada pemerintah, agar segera sahkan revisi UU ASN, angkat semua K2 menjadi PNS dan cabut Permenpan- RB Nomor 36 Nomor 37 tahun 2018. (sur/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional