Connect with us

Kota Malang

Lestarikan Keris di Era Milenial, Sinergikan Sains, Agama, Budaya, Sejarah, Seni dan Teknologi

Diterbitkan

||

Rektor UB Prof Nuhfil memasukkan keris, sebagai simbolis pembuka seminar. (rhd)

Memontum Kota Malang—-Dalam budaya Jawa, keris dilambangkan sebagai simbol kesempurnaan, kejayaan, kekuatan, dan juga ketinggian spiritualitas. Namun di zaman milenial ini, pemahaman tentang keris telah bergeser jauh hanya dipandang sebagai karya masa lampau bahkan terkesan mistis. Padahal keris mengandung “rahasia” yang luar biasa, mulai dari teknologi pembuatannya, ketinggian makna filosofisnya, simbol jati diri sang Empu melalui kekuatan spiritualnya, di mana hal-hal ini tidak pernah digali dalam perspektif ilmu pengetahuan modern.

Menyadari hal itu, Pusat Studi Peradaban LPPM Universitas Brawijaya (PSP LPPM UB) menggelar acara Seminar Nasional dan Lomba Essay Nasional Keris Nusantara, dengan tema “Literasi Keris di Era Milenial : Pertautan Antara Sains, Agama, Budaya, Sejarah, Seni dan Teknologi” di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya, Senin (15/10/2018).

 Peserta menyimak pemaparan pemateri. (rhd)

Peserta menyimak pemaparan pemateri. (rhd)

Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR., MS mengatakan, saat ini UB memiliki 2 tantangan sekaligus, yaiti PTN-BH dan World Class University (WCU). Selaras dengan hal itu, Rektor UB memberikan tantangan agar civitas akademika UB turut memberikan kontribusi dalam menjawab tantangan tersebut. “Saya tantang Pusat Studi Peradaban menggelar seminar internasional di tahun depan. Saya optimis, karena pakarnya ada di UB. Layak ada Musium Keris di sini, mungkin secara spesifik tentang Raja Brawijaya. Malang ini memiliki potensi yang cukup tinggi, maka wajib bagi UB menjadi pioner lebih dulu,” terang Prof Nuhfil, dalam sambutannya.

Penyerahan cinderamata. (rhd)

Penyerahan cinderamata. (rhd)

Menghadirkan beberapa tokoh penting untuk membahas keris dari sisi sains, agama, budaya, sejarah, seni dan teknologi, diantaranya HM. Nasruddin Anshoriy Ch/Gus Nas (Pimpinan Pesantren Ilmu Giri, Selopamioro, Imogiri, Bantul), Ir. D.J. Djoko H. Santjojo., M.Phil., Ph.D (Peneliti senior di Research Center of Advanced System And Materials Technology (RC ASMAT)), Unggul Sudrajat, SS (Peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemendikbud RI), dan Ustdaz Salim A. Fillah (Pendiri Omah Dakwah Pro-U Media Yogyakarta).

Selain itu, Pusat Studi Peradaban juga menghadirkan Mpu Saefudin Supo Anom (Mpu/pembuat keris dan Tosan Aji Senior di Tumpang, Malang) dan H. Toha (pemenang juara II lomba karnaval selamatan desa, Kel. Tunjungsekar Tahun 2018) yang membuat replika keris Nogo Sosro sepanjang 10 meter, yang memberikan testimoni tentang pelestarian keris nusantara sebagai upaya memperkuat identitas bangsa.

Seminar ini dihadiri sekitar 250 orang peserta dari berbagai kalangan, antara lain : akademisi, praktisi (Empu), santri dari berbagai pondok pesantren, budayawan, pemerhati keris, mahasiswa, siswa SMP dan SMA, dan lain-lain. Dilanjutkan pemaparan materi Sesi I dari Unggul Sudrajat, SS dalam perspektif Ilmu & Sejarah dan M. Nasruddin Anshoriy Ch/ Gus Nas dari perspektif Seni & Budaya. Kemudian sesi II, diisi oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam perspektif Agama & Seni dan Ir. D.J. Djoko H. Santjojo., M.Phil., Ph.D. dari perspektif Sains & Teknologi.

Pada sesi akhir acara ini, Pusat Studi Peradaban memberikan closing statement, sekaligus melakukan lauching keris Pusat Studi Peradaban yang menjadi icon utama dalam acara ini. Pemenang lomba essay yang diikuti dari tingkat siswa SMP hingga doktor (S3) juga diumumkan pada sesi akhir untuk memberikan motivasi dan meningkatkan kesadaran dalam memelihara keris sebagai identitas bangsa. (rhd/yan)

Advertisement

Terpopuler