Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang

2 Kader PMII Bondowoso Jadi Relawan di Palu

  • Minggu, 28 Oktober 2018 | 17:57
  • / 17 Safar 1440
2 Kader PMII Bondowoso Jadi Relawan di Palu

Memontum Bondowoso—–Bencana alam yakni Gempa di Palu dan sekitarnya, yang tealh memakan korban, 2.045 orang meninggal dunia, 671 orang hilang dan 10.679 jiwa luka berat. Selain itu, sebanyak 67.310 rumah, 2.736 sekolah rusak, 20 fasilitas kesehatan dan 12 titik jalan rusak berat. Serta sebanyak 82.775 warga mengungsi di sejumlah titik di Palu, Donggala, dan Sigi.

Tragedi itulah yang menggugah Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Bondowoso untuk mengirimkan kadernya sebagai relawan di sana.

Hal itu dibenarkan oleh M.Nanang Sholeh, Ketua Umum PC PMII Bondowoso. “Benar, bahwa PC PMII Bondowoso telah mengirim 2 kader ke Palu. Hal itu kami lakukan sebagai bentuk aksi nyata dalam membantu meringankan beban saudara kita di Palu,”jelas Nanang saat ditemui di lokasi Konferensi Kooordinator Cabang XXIII, Surabaya, Sabtu (27/10/2018).

Dua kader tersebut tak hanya menjadi relawan, tetapi juga menjadi jembatan saat PC PMII akan menyalurkan bantuan kemanusiaan yang telah dikumpulkan oleh PC PMII Bondowoso, dengan menggalang dana sejak 1 sampai 4 Oktober kemaren. “Kami juga melaksanakan penggalangan dana dan pengumpulan baju layak pakai untuk disalurkan kepada korban gempa, dan kami akan kirim kepada kader kami yang menjadi relawan di sana, “imbuh Nanang.

Kedua kader PMII Bondowoso sangat antusias sekali dalam menjadi relawan di Palu. “Kedua kader tersebut yang menjadi relawan di Palu adalah Musawir dan Taufiq Hidayah, mereka membuktikan bahwa jiwa sosial kader PMII harus dengan bukti kongkrit,”tandasnya.

Direncanakan, kedua kader tersebut akan menetap selama dua bulan untuk membantu meringankan beban para korban gempa di Palu. Dari hasil pantauan Pengurus PMII Bondowoso, kedua kader tersebut menyampaikan bahwa tidak hanya membantu korban dari segi fisik tapi juga dari sisi psikis. Utamanya pada anak kecil yang menjadi korban gempa. “Mereka di ssana juga mengajari baca tulis dan menyanyi untuk anak-anak korban bencana. Mereka yakin hal itu bisa mengurangi beban pikiran korban karena bencana gempa bumi dan sunami. Mereka harus tetap tersenyum walaupun sudah kehilangan keluarga, rumah dan sekolah mereka,”papar Nanang menyampaikan perkataan Musawir yang dipantau melalui telpon selulernya.

M.Nanang Sholeh juga menambahkan bahwa saat ini perhatian rakyat Indonesia tersita oleh tragedi pembakaran bendera HTI, sampai lupa bahwa saudara kita di Palu masih menderita. “Kejadian tersebut hanya bentuk provokasi yang ingin memecah belah Islam dan NKRI. Saya sangat menyesalkan, saat ini masyarakat lebih sibuk mengurusi bendera yang dibakar oleh Banser karena dianggap sebagai bendera salah satu ormas yang telah dilarang pemerintah, tapi lupa kepada saudaranya di Palu yang masih menderita,”tandasnya. (ifa/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional