Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Dangkal Saat Kemarau, Elevasi Ketinggian Selorejo Masih Batas Aman

  • Selasa, 30 Oktober 2018 | 18:20
  • / 19 Safar 1440
Dangkal Saat Kemarau, Elevasi Ketinggian Selorejo Masih Batas Aman
Pendangkalan di sekitar spill way atau pintu air. (rhd)

Memontum Malang–Saat musim kemarau, Bendungan Selorejo yang berada di wilayah Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, mengalami penurunan debit dan elevasi ketinggian air. Tak tanggung-tanggung, turun 1 sentimeter setiap 2 jam, atau 12 sentimeter setiap 24 jam/hari. Terlebih, saat ini juga terjadi sedimentasi akibat menumpuknya sampah plastik, diapers, eceng gondok, dan endapan tanah yang ikut mengalir dari hulu sungai. Sehingga kuantitas atau debit air semakin berkurang.

Padahal air di bendungan Selorejo masih dibutuhkan untuk pembangkit listrik, pertanian, PDAM, dan industri. Menanggapi hal ini, pihak Perum Jasa Tirta (PJT) I melalui Inni Dian Rohani, Kepala Departemen Humas dan Informasi Publik Perum Jasa Tirta (PJT) I mengatakan Selorejo masih dalam kategori aman. “Airnya masih mampu mengairi ke hilir di Kediri dan Jombang,” jelas Dian, sapaan akrabnya.

Petugas menunjukkan ketinggian air di sekitar pintu air yang terlihat dangkal. (rhd)

Petugas menunjukkan ketinggian air di sekitar pintu air yang terlihat dangkal. (rhd)

Menurutnya, batas ketinggian permukaan air atau elevasi ketinggian maksimum 622,00 mdpl, dan batas minimum elevasi ketinggian air adalah 609,00 mdpl. “Itu tertera di pintu spill way, atau pintu air. Saat ini elevasi ketinggian air mencapai 613,54 mdpl. Dan debit air, normalnya 8 kubik per detik, sementara aktual saat ini masih 9 kubik. Jadi, Bendungan Selorejo saat ini masih masuk dalam kategori tidak kekurangan air atau aman,” tambah Dian, didampingi Purniawan, penjaga pintu air Bendungan Selorejo, dan pengawas Suprianto.

Di bidang pariwisata, fasilitas penggunaan sampan atau perahu sedikit berkurang. Namun dampak positif pendangkalan, nelayan lebih mudah mendapatkan beberapa jenis ikan. “Saat pendangkalan, kecenderungan ikan bergerombol dalam lubang yang dibikin ikan-ikan tersebut. Jadi lebih mudah ditangkap atau didapat. Kebanyakan jenis Nila, disusul Tombro, bisa sekitar 5 ton,” ungkap Dian.

 Perahu-perahu bersandar menjauh dari tepi bendungan karena pendangkalan. (rhd)

Perahu-perahu bersandar menjauh dari tepi bendungan karena pendangkalan. (rhd)

Disinggung kemungkinan terjadi elevasi di bawah 609,00 mdpl atau kekurangan air, maka harus mengurangi efektivitas kinerja bendungan dengan dilakukan penjadwalan pembangkit turbin. “Nantinya, turbin yang biasanya operasional 24 jam akan dikurangi, misalnya tinggal 10 jam. Untuk mencegah itu, seperti kondisi sedang surut saat ini, PJT I melakukan pengerukan sedimen di waduk yang dilakukan setiap tahunnya, mulai Maret 2018 hingga November 2018. Selain mencegah intake-intake (pipa air) untuk pengaliran tidak tertutup sedimentasi, tujuan lainnya saat musim hujan mulai turun dapat menampung air sepenuhnya,” terang Dian.

Bendungan Selorejo masuk kategori Bendungan Tahunan, dimana ada tahap pengisian (dengan menampung air hujan, red) mulai November sampai Mei, dan tahap pengosongan (alami oleh kemarau, red) mulai Juni hingga November, pada tiap tahunnya. “Mulai akhir November, kami sudah siaga banjir. Jika melebihi elevasi maksimal 622,00 mdpl, maka pintu air dibuka untuk dialirkan ke hilir sungai dan kinerja turbin juga dimaksimalkan,” tukas Dian. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional