Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang

Wacanakan Hapus Calistung, Diganti Pendidikan Akhlak dan Akidah

  • Kamis, 1 November 2018 | 17:26
  • / 21 Safar 1440
Wacanakan Hapus Calistung, Diganti Pendidikan Akhlak dan Akidah
Walikota Malang Sutiaji menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Memontum Kota Malang—-Pemkot Malang nampaknya benar-benar serius untuk menghapus kurikulum Baca Tulis Hitung (Calistung) bagi siswa baru kelas satu dan dua tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang, sebagai percontohan nasional dari Kemendikbud dalam upaya peningkatan Pendidikan Karakter di usia dini.

Pendidikan karakter ini menguatkan pendidikan akhlak dan penanaman akidah pada anak usia dini. Pasalnya, jika kedua hal ini dikomparasikan dan ditanamkan pada anak usia sekolah, maka kecerdasan spiritual akan terwujud pada peserta didik di masa mendatang. “Nantinya, kita ganti dengan pendidikan akidah dan akhlak pada anak didik, agar mereka tidak saja cerdas secara akademik, tapi seiring dengan itu juga cerdas secara spiritual. Memang tidak mudah, sebab membangun karakter bangsa merupakan investasi pendidikan yang akan terlihat 20 hingga 25 tahun ke depan. Harus kita mulai dari sekarang. Dari Malang, untuk Jatim dan Indonesia,” jelas Sutiaji, usai mengukuhkan 37 Kepala TK, SD, dan SMP Negeri di lingkungan Pemkot Malang, Kamis (1/11/2018).

Nantinya, siswa di kelas satu dan dua tidak lagi belajar Calistung, tapi belajar bagaimana menghormati orang tua, bagaimana budaya antre, belajar tidak mengambil hak orang lain, bagaimana gotong royong, sopan santun, dan sejenisnya. Berdasarkan hasil penelitian, anak usia sekolah jenjang SD pada kelas satu dan dua, memiliki saraf motorik yang kuat, sehingga pendidikan akhlak dan penguatan akidah di usia dini diharapkan mampu tertancap sampai kelak mereka dewasa.

“Ide yang digagas dari Kota Malang ini ditanggapi serius oleh Kemendikbud. Sebab pemerintah masih butuh formulasi terkait pendidikan karakter bangsa. Nantinya, Pemkot Malang akan mengandeng pakar-pakar pendidikan, psikolog, sosiolog, teknolog pendidikan, dan lainnya, untuk menyusun kurikulum tersebut. Terutama FKIP seluruh Perguruan Tinggi di Malang. Tak hanya berhenti di kelas dua, namun akan berlanjut ke kelas berikutnya sebagai pendamping,” terang Sutiaji.

Dalam pelaksanaanya, direncanakan akan melibatkan 5 hingga 10 sekolah sebagai percontohan di tiap kecamatan. Dari paparan awal, masyarakat cukup tertarik. Meski tak menutup kemungkinan ada yang menolak. “Kami tak harus memaksakan, tergantung orang tua siswa apakah akan diikutkan di kelas tersebut atau tidak. Sebab metode Calistung yang baru cukup diajarkan 2-3 bulan, siswa akan mudah memahami. Dalam pendidikan karakter, anak akan diajarkan dan langsung praktek dengan harapan menjadi perilaku dari kebiasaan baik. Misal masuk kamar mandi dengan kaki kiri, tak usah berpikir lagi, tapi langsung spontan seperti kebiasaan,” tukas Sutiaji.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Dra. Zubaidah, MM akan segera melakukan koordinasi melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan pihak-pihak terkait. “Untuk mewujudkan pendidikan karakter tersebut, saya akan melakukan FGD dengan para ahli pendidikan di Kota Malang, terutama terkait pendidikan dasar dengan melibatkan dewan pendidikan. Sebagai kota pendidikan, Malang harus menjadi pionir inovasi di bidang pendidikan,” jelas Ida, sapaan akrabnya. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional