Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST, Perjuangan Maksimal Raih IPK Tertinggi D4 Polinema

  • Minggu, 18 November 2018 | 18:06
  • / 9 Rabiul Uula 1440
Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST, Perjuangan Maksimal Raih IPK Tertinggi D4 Polinema
Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST. (rhd)

Memontum Kota MalangBagi Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST, menjadi Sarjana Terapan (D4) terbaik Polinema dengan IPK Tertinggi 3,86 dalam wisuda tahap II tahun 2018, merupakan sebuah penghargaan yang tak pernah diimpikannya. Sebab dalam menjalani perkuliahan di Polinema, yatim piatu anak ke-12 dari 13 bersaudara ini berjuang maksimal. Tak lain, karena ingin membuat bangga keluarga besar dan tak mau mengecewakan kakak-kakaknya yang telah membiayainya kuliah, serta pihak kampus yang memberikan beasiswa.

“Saya selalu belajar maksimal, dan tak malu bertanya. Kesulitan apapun harus bisa dikomunikasikan dengan baik, dengan dosen dan teman-teman yang cukup banyak membantu. Kalau kurang mengerti, saya tanya mereka. Setiap hari selesai kuliah, kami tak langsung pulang, namun membahas bersama mata kuliah yang kurang dimengerti. Jadi kami saling membantu. Dan kebanyakan teman-teman yang biasa ikut diskusi, IPK nya juga bagus,” terang Maulana, sapaan akrab gadis yang bekerja part time EO dan mengajar Pramuka ini untuk biaya hidupnya.

Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST, saat menerima penghargaan dari Direktur Polinema Drs Awan Setiawan, MM. (rhd)

Maulana Fitri Agustin Nur Wahyuni, S.ST, saat menerima penghargaan dari Direktur Polinema Drs Awan Setiawan, MM. (rhd)

Maulana mengaku pantang pulang sebelum tugas selesai. Artinya, jika dirasa mampu, tugas yang diberikan harus terselesaikan di hari yang sama, bahkan jika diharuskan dibawa pulang. “Kalaupun banyak, minimal setengah atau ada progress untuk diselesaikan. Baru dilanjutkan esok hari,” terang alumnus Sarjana Terapan (D4) jurusan Akuntansi prodi Akuntansi Manajemen ini.

Maulana mengambil tugas akhir berjudul “Analisis Pengaruh Tingkat Fixes Cost Terhadap Perusahaan Manufaktur”, studi kasus di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan menggunakan data sekunder tahun 2013-2016 di BEI. “Kalau menggunakan data primer, waktunya tidak cukup. Jadi opsinya data sekunder. Kendalanya, lebih pada referensi yang terbatas. Sehingga saya mengambil data dari jurnal yang sudah terpublikasi. Awalnya saya menentukan topik dan mencari referensi data. Setelah ketemu, baru saya ajukan dan kerjakan. Nah kebanyakan teman-teman menentukan topik, judul, dan diajukan, sementara data tidak ketemu. Sehingga bikin lama proses pengerjaannya,” jelas dara asal Turen, Kabupaten Malang ini.

Saat ini Maulana sudah diterima bekerja di Kantor Akuntan Publik Subagyo & Luthfi cabang Malang sejak Februari 2018. Maulana akan konsentrasi untuk mencari pengalaman kerja hingga 1-2 tahun mendatang. “Karena selaras antara keilmuan dari Polinema dengan KAP, jadi sangat memudahkan pekerjaan saya. 90 persen teori match dengan praktek. Nantinya, saya berencana akan mencoba peruntungan di BUMN,” jelas peraih beasiswa PPA sejak semester 4 ini. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional