Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG

Kembangkan Inovasi Milenial, Tingkatkan Daya Saing Indonesia

  • Jumat, 23 November 2018 | 05:59
  • / 14 Rabiul Uula 1440
Kembangkan Inovasi Milenial, Tingkatkan Daya Saing Indonesia
Mahasiswa UB berswafoto bersama para narasumber. (rhd)

*Diskusi Bersama KSP-Bekraf-Pemkot Malang-UB

Memontum Kota Malang—–Kota Malang terkenal dengan ekonomi kreatifnya. Bahkan muncul beberapa kampung kreatif yang makin produktif, karena ada dukungan dari pemerintahnya. Sebut saja, Kampung Warna-Warni, Kampung 3D, Kampung Biru Arema, Kampung 3G, Kampung Keramat, Kampung Keramik, dan lainnya. Dimana keberadaan kampung tersebut dengan dominasi ide kreatif dan inovatif dari kaum milenial. Untuk bertahan atau berkembang, Kota Malang harus memiliki daya saing, khusunya membawa Indonesia di tengah kompetisi ekonomi global yang demikian ketat untuk terus ditingkatkan.

Melalui acara bertemakan “Dialog Publik Daya Saing Indonesia”, di Studio UB TV, Gedung Rektorat UB lantai 2, Kamis (22/11/2018) sore, acara yang diinisiasi oleh Kantor Staf Presiden (KSP), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Pemerintah Kota Malang, dan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menghadirkan narasumber Kepala Staf Kepresidenan Jend. TNI (Purn) Dr Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekaraf) Triawan Munaf, dan Walikota Malang Drs H Sutiaji. Para peserta yang didominasi mahasiswa UB sebagai kaum milenial sangat tertarik dengan paparan yang disampaikan.

Membawa sebuah organisasi atau negara, membutuhkan branch marking sebagai sebuah kewajiban. Namun butuh proses panjang untuk mendapatkan hasil terbesar, menjadi terbaik, dan mengalahkan pesaing. “Anak saya lulusan UB, awal lulus dagang beras. Setelah belajar berbagai pengalaman, sekarang menjadi enterpreneur sejati. Pemuda lainnya, sama pilihannya, winner atau losser. Sama halnya, Shenzen di China menjadi eksportir terbesar dunia pada 2010, dengan GDP berlipat-lipat, setelah masa 30 tahun berjuang membuat inovasi. Demikian halnya Indonesia, yang saat ini berfokus pembangunan infrastruktur sebagai konektivitas dengan tujuan pembangunan ekonomi yang kuat, dengan harapan berdampak biaya distribusi lebih murah.
Hasilnya bisa mulai kita rasakan, meski pak Jokowi baru menjabat 4 tahun,” jelas Kepala Staf Kepresidenan Jend TNI (Purn) Dr Moeldoko.

Diskusi panel oleh Yanuar Nugroho, Triawan Munaf, dan Sutiaji, yang dimoderatori Didik Hartono. (rhd)

Diskusi panel oleh Yanuar Nugroho, Triawan Munaf, dan Sutiaji, yang dimoderatori Didik Hartono. (rhd)

Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengusung tema “Peranan Ekonomi Kreatif dalam Meningkatkan Daya Saing”. Ayah penyanyi Sherina Munaf ini mengatakan, melalui ekonomi kreatif berdampak terhadap PDB sekitar Rp 1.150 T di tahun 2017.
“Ekonomi kreatif adalah perwujudan nilai tambah dari suatu kekayaan intelektual yang lahir dari kreativitas manusia, berbasis ilmu pengetahuan, warisan budaya, dan teknologi. Dan era ekonomi kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tercatat, kontribusi PDB Ekraf terhadap PDB Nasional tahun 2015-2017, yaitu 2015 (7,39 persen), 2016 sekitar 7,44 persen, dan 2017 sekitar 7,57 persen. Terus meningkat dari tahun ke tahun,” jelas Triawan.

Sedangkan Walikota Malang Drs H Sutiaji mengusung tema “Menyemai Kreativitas Melejitkan Daya Saing” sebagai sebuah bagian ikhtiar mewujudkan kota Malang Bermartabat. “Hanya orang yang kreatif yang bisa menguasai dunia. Siapa, yaitu anak muda. Indeks Pembangunan Manusia di Kota Malang tertinggi di Jawa Timur, dan angka kemiskinan terendah kedua se-Jatim. Ini membuktikan bahwa masyarakat kota Malang memiliki daya inovasi dan kreatifitas yang tinggi. Terlebih dengan kaum intelektual sebagai kota pendidikan. Dampaknya, dapat menekan kemiskinan,” terang Sutiaji.

Dalam perkembangannya, Malang menargetkan diri sebagai Malang City Heritage, Malang Creative, Malang Services, Malang 4.0, Malang Halal, dan Malang Nyaman. “Untuk mewujudkan hal tersebut, tidaklah mudah. Perlu beberapa tahapan kecil sebagai kolaborator. Misal Malang Creative Center di 5 kecamatan, untuk mewujudkan Malang Creative, Malang Services, dan lainnya. Dan Pemkot Malang telah membuat Konsep Sinergi Peran Pentahelix, yang melibatkan Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha, Masyarakat Komunitas, dan Media,” tukas Sutiaji.

Dalam diskusi panel, Deputi II Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Ekologi dan Budaya Strategis Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho, menggantikan Moeldoko karena ada agenda lain. Yanuar membuka paparan dengan melontarkan pertanyaan mendasar kepada warga masyararakat Malang Raya: Apa masalah daya saing di kawasan Malang Raya? Mengapa pembangunan manusia menjadi prioritas pemerintah? Jawabnya adalah karena semua program pembangunan pertama-tama adalah tentang manusia. Karena sumber daya manusia menjadi kunci untuk peningkatan daya saing, maka semuanya harus dilakukan simultan dengan penguatan pendidikan vokasi. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional