Memontum.Com

POLITEKNIK NEGERI MALANG

Azrul: Persebaya Memang Ladang Bisnis

  • Minggu, 6 Januari 2019 | 17:23
  • / 28 Rabiul Akhir 1440
Azrul: Persebaya Memang Ladang Bisnis
MEET THE PRESIDEN PERSEBAYA : Presiden Persebaya Azrul Ananda (dari kanan nomer tiga) saat berfoto bersama generasi emas Persebaya pada acara Meet The Presiden Persebaya di Nur Pacific Surabaya, Minggu (6/1)

* Bantah dan Tuntut Tudingan Pengaturan Skor

Memontum SurabayaCEO Persebaya, Azrul Ananda meresmikan pemindahan bibit-bibit muda pasukan Green Force. Ke empat pemain yang disebut-sebut sebagai generasi emas itu Muhammad Iqbal, Ernando Ari Sutaryadi, Brylian Negietha dan Vito.

“Untuk pemain-pemain muda ini mereka akan berangkat ke Inggris. Selamat menimba ilmu dan kita tunggu ilmunya nanti semoga bisa menjadi yang terbaik untuk Persebaya ke depan. Karena menyusun Persebaya itu bukan hanya setahun tapi harus diperhitungkan bertahun-tahun harus seperti apa,” ungkap Azrul di acara Penandatanganan Kontrak Generasi Emas Persebaya, di RM Nur Pasific, Surabaya, Minggu (6/2/2019).

Putra dari mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan ini berujar jika generasi emas yang direkrut Persebaya ini bisa bermanfaat bagi tim di lima tahun ke depan. “Jadi kalaupun yang namanya bisnis bisa berjalan tiga hingga lima tahun dan adik-adik ini Insyaallah dapat dijadikan bekal Persebaya untuk lima tahun ke depan,” tuturnya.

Selain itu Azrul ingin, klub yang ia kelola ini dapat dijadikan menjadi klub yang seprofesional mungkin. Menurutnya profesional itu bukan hanya sekedar perkataan, melainkan bagaimana sistem yang bekerja termasuk prosedural-prosedural dalam melakukan banyak hal di Persebaya.

Mantan CEO Jawa Pos Group ini mengeluh soal sistem kontrak pemain. Ia beranggapan bila prosesdur yang diterapkan belum memenuhi standar profesionalisme dalam hal kebijakan kontrak pemain.

“Misal manajemen tidak mungkin berbicara kepada kontrak pemain yang kita inginkan itu belum berakhir. Kalau pun kita ada kesepakatan pun kita tidak mungkin mengumumkan itu sampai kontrak nya bener-bener berakhir. Dan jadwal Persebaya itu cenderung abstrak. Kadang setahun, seperempat bahkan ada lintas tahun bisa selesai. Sehingga dengan hal ini, pemain itu tidak ada kontrak standar di persepakbolaan Indonesia,” keluhnya.

“Jadi kalau kita ngomongin kontrak profesional itu agak susah. Jadi di Indonesia ini kalau ngomongin kontraknprofesional secara keseluruhan itu masih belum. Maka dari itu manajemen Persebaya berusaha membuat sistem profesional dalam bersepakbola di Indonesia,” tambah Azrul.

Di Indonesia menurutnya kalau bicara soal sepak bola sedikit mirip dengan gaya-gaya politik. Karena ada banyak hal-halnyang masih harus penuh adanya pembelajaran. Termasuk dalam negosiasi, “saya berharap bakat-bakat muda di Persebaya U 16 dan 17 ini kedepannya masuk dalam generasi kelak Indonesia itu sepakbolanya benar-benar profesional.”

Karena dirinya merasa kasian ketika melihat realita yang sedang terjadi sekarang ini. Sekarang kebanyakan pemain cenderung berhati-hati terkait negosiasi keluar masuk pemain. Tetapi Azrul mengakui di luaran sana banyak Bonek yang mengecam manjamen terkait strategi bisnis yang diterapkan Azrul kepada Persebaya.

Namun ia berkomitmen, inilah cara manajemen untuk memperbaiki Persebaya. Tetapi lanjut Azrul, jika cara ini dianggap oleh masyarakat Surabaya tidak baik, sangat mudah bagi dirinya bersama kolega untuk tidak di Persebaya lagi.

“Mereka hati-hati dengan pemilik klub perantara klub atau agen pemain. Ya itulah faktor-faktor yang membuat Indonesia tidak bisa profesional. Kalau teman-teman menganggap manajemen ini jelek ya sudah lah. Mohon maaf, saya dimintai tolong untuk mengurus Persebaya ini agar Persebaya bisa menjadi lebih baik. Dan saya masih ingat Persebaya ini dulunya ada hutang segala macam, kalau dulu segera tidak ambil tindakan saya yakin situasinya pasti akan berbeda,” serunya.

Sebagian besar Bonek menganggap Persebaya sudah menjadi ladang bisnis baginya. Menanggapi hal itu, Azrul pun membenarkan bahwa Persebaya memang ia bisniskan agar suporter manajemen bersikap seperti layaknya pengelola dan penikmat bola yang profesional.

Namun ia memberi tahu jika ayahnya berdarah hijau atau fans fanatik Persebaya. Jadi ayahnya dari dulu sangat ingin Persebaya menjadi klub sepakbola yang lebih baik.

Azrul mencoba memilah-milah, jikalau tuduhan kepada manajemen selama ini masih tidak baik, ia pun membuktikan bahwa Persebaya pernah juara liga 2 dan berhasil menduduki peringkat lima Liga 1 Indonesia.

“Persebaya inilah yang cari untung bukan saya cari untung dari Persebaya. Saya ndak digaji oleh Persebaya. Saya ada perjanjian, kelak nanti saya sudah tidak sanggup dan sudah tidak mau, saya akan mengembalikan Persebaya ke nol! Tanpa hutang. Sangat mudah bagi saya,” nadanya sedikit meninggi.

Oleh karena itu, tanggung jawab dirinya sebagai CEO Persebaya harus menjadi klub yang sehat, independen dan profesional. Karena dengan cara ini tak menutup kemungkinan Persebaya akan bertahan dengan rentan waktu yang panjang.

Tetapi mungkin cara manajemennya kurang dipahami dan tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat. Ia pun legawa, karena ia menganghap ini semua bagian dari proses.

“Klub mana yang tidak ingin jadi juara? Pasti ingin. Tapi ambisi itu saya tegaskan harus dicapi demgan benar. Saya ingin Persebaya juara itu dengan proses yang baik, bukan dari proses entahlah seperti apa. Saya ingin jadi juara yang bangga,” pungkas Azrul.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional