Connect with us

Surabaya

Satria Tama, Kiper Timnas U-22, Sukses Juarai AFF

Diterbitkan

||

Satria Tama mendatangi kampusnya, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Sabtu (2/3) petang. Mahasiswa semester VI Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), jurusan Administrasi Negara itu mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) dengan didampingi Budiono, dosen walinya. Setelah urusan studi selesai, dia sempatkan main bola bareng remaja sekitar kampus. (nano prayitno)

*Jadikan Semua Pertama, Ingin Jadi Abdi Negara

Memontum Surabaya—-Satria Tama. Lengkapnya, Satria Tama  Hardiyanto. Dulu dia bukanlah siapa-siapa, dan tak dikenal banyak warga, apalagi se Indonesia Raya. Namun, setelah Tim Nasional (Timnas) U-22 menjuarai  ASEAN Football Federation (AFF) 2019, baru-baru ini, membuat namanya melambung. Khalayak, terlebih pegila bola di Tanah Air pun menyematkan label punggawa ‘Garuda Muda’ kepadanya.

Disela jeda latihan, Satria Tama menyempatkan pulang ke Jawa Timur. Tepatnya, di Sepanjang Tani, Kabupaten Sidoarjo. Dia diizinkan pelatih Indra Sjafrie pulang untuk menerima apresiasi dari Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indra Parawansa. Disela waktunya saat pulang itu pula, Satria menyempatkan datang ke kampusnya, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya untuk mengisi Kartu Rencana Studi (KRS). Dia masuk Unitomo tahun 2015. Bungsu dari tiga bersaudara ini tercatat sebagai mahasiswa semester VI, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Jurusan Administrasi Negara pada kampus Kerakyatan dan Kebangsaan (sebutan untuk Unitomo) itu.

Satria yang lahir di Sidoarjo, 23 Januari 1997, banyak bercerita pada Memontum.com, mengenai kelanjutan karirnya di dunia persepak bolaan Tanah Air, dan deadline ‘merumput’ yang ditentukannya. Semua karena kesadarannya bahwa tidak selamanya dia akan di ‘bola’. Karena itu dia kuliah, dengan harapan kelak bisa mengabdikan diri ke negara, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Soal pembagian waktu untuk bola, kuliah dan lainnya, Alhamdulillah saya bisa. Ayah saya sejak kecil membiasakan semua itu nomor satu. Sekolah nomor satu, ibadah nomor satu, bola nomor satu,” Satria mengawali perbincangan.

Ketika dia awal fokus ke bidang atletik, membuatnya banyak di lapangan dibanding sekolah. Kendati demikian dia tidak meninggalkan, apalagi melupakan kewajiban menempuh pendidikan. Karena konsisten membagi waktu sejak kecil, membuat Satria kini tak kesulitan antara bola dengan kuliah.

Terlebih kampus memberikan kemudahan dengan memberikan blanded learning yang memadukan perkuliahan tatap muka dengan jarak jauh melalui piranti dalam jaringan (daring). “Alhamdulillah saya bisa membagi waktu. Saya juga ingin sepenuhnya memanfaatkan kesempatan belajar atas beasiswa dari Unitomo,” sebut alumni SMAN 10 Surabaya ini.

Pada awal studi di lembaga pendidikan tinggi, terkadang Satria kuliah dulu dan sebaliknya. Bagi Satria, Bola olahraga yang bisa menjadi gantungan profesi yang tidak selamanya. Keasyikkan dia dapatkan sejak menekuni bola saat masih di bangku sekolah SMP Bhayangkari 1 Surabaya. Itu setelah dia sebelumnya bergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM) di kawasan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari.

Pasang surut dunia bola sempat dia rasakan. Banyak SSB di Surabaya ‘lesu darah’, kompetisi internal tidak jalan dan jarang latihan. Ketika ada Akademi Widodo Cahyono Putro (WCP) di Kabupaten Gresik yang didirikan Widodo Cahyono Putro, mantan punggawa Persebaya, Satria mendaftar. Dia pindah dari IM ke WCP.

Sejak saat itu, karir bola ditapaki Satria. Dia akhirnya masuk ke Persegres Yunior, kemudian senior. Hingga akhirnya terbukalah jalur masuk Timnas, masuk dan hingga kini, Alhamdulillah. “Semoga prestasi Timnas ini terus berlanjut, menjadi kebanggaan dunia sepak bola nasional. Semoga ini menginspirasi bibit bibit pesepakbola nasional. Untuk adik adik terus semangat, terus berlatih, jangan takut bermimpi. Tidak usah dengarkan omongan orang lain yang bertanya mau apa, mau jadi apa di sepan bola. Harus fokus sama tujuan,” harap anak pasangan Bambang Hardiyanto dan Saning.

Satria hingga kini fokus ke Timnas U-22. Kendati demikian dia berharap kelak bisa bergabung ke Timnas senior. Satria mengaku kuliah karena di bola tidak seterusnya karena ada batasan umur. Kuncinya menjaga kondisi agar bisa main bola hingga tidak bisa main lagi.

“Tapi disisi itu, saya punya keinginan bisa menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Karena itu kuliah. PNS selalu saya kejar,” tutup Satria yang beralamat di Sepanjang Tani, RT 10/RW VI, Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Budiono selaku dosen wali Satria Tama ikut bangga dengan Satria. Budiono mengaku masih ingat betul ketika Satria awal masuk kuliah dengan cidera pada jari tangan. “Sejak Mas Satria masuk itu mahasiswa murni. Awal masuk yang masih saya ingat jarinya cidera. Untuk jadwal perkuliahannya, kita sesuaikan waktunya dia (Satria). Karena kendalanya pada waktu. Sama pak dekan FIA, ini dibahas. Jangan sampai nasib kuliah Satria sama dengan Evan Dimas yang sempat ganti Nomor Induk Mahasiswa (NIM),” kata Budiono.

Karena itu, kampus memberikan perlakuan khusus pada anak anak bola. Salah satunya, dengan e-learning atau kuliah jarak jauh. Bisa juga blanded learning. Jadi ada tugas yang diberikan melalui kuliah daring. “Intinya, kita memberi nilai tapi harus ada tugas, ada perkuliahan. Dan ini tidak menyalahi aturan. E-learning, blanded learning diperbolehkan secara aturan,” Budiono menambahkan. (ano/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Wujudkan Kemandirian dan Daya Juang Mahasiswa, UT Surabaya Gelar PKBJJ di Tuban

Diterbitkan

||

Wujudkan Kemandirian dan Daya Juang Mahasiswa, UT Surabaya Gelar PKBJJ di Tuban

Memontum Surabaya – Sistem belajar jarak jauh (SBJJ) sebagaimana yang diterapkan di Universitas Terbuka (UT), menuntut kemandirian dan daya juang mahasiswa untuk belajar. Bahkan, kemandirian dalam belajar ini menjadi faktor utama dan modal yang sangat penting dalam menentukan persistensi (kebertahanan) dan keberhasilan belajar mahasiswa UT.

Sayangnya, belajar mandiri sejauh ini belum menjadi suatu tradisi atau kebiasaan bagi mahasiswa UT karena mereka telah terbiasa belajar tatap muka dan dibimbing oleh guru atau dosen di ruang kelas.

Untuk menyiapkan kesiapan belajar dan sekaligus upaya percepatan adaptasi mahasiswa baru dengan SBJJ, UPBJJ-UT Surabaya telah menyelenggarakan kegiatan PKBJJ (Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh) bagi mahasiswa baru (Maba) di Kabupaten Tuban.

Pada tanggal 14 – 15 September 2019, bertempat di SMAN 2 Tuban dan diikuti sebanyak 506 mahasiswa baru, terdiri dari Program Studi Akuntansi 71 orang, program studi Manajemen 293 orang, Ilmu Administrasi Negara 66 orang, Ilmu komunikasi 29 orang, Ilmu Perpustakaan 23 orang, Ilmu Hukum 2 orang, Ilmu Pemerintahan 2 orang, Kearsipan 1 orang, Pendidikan Matematika 3 orang, dan Pendidikan Bahasa Indonesia 8 orang.

Direktur UPBJJ-UT Surabaya, Dr. Suparti, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan PKBJJ merupakan salah satu upaya UT untuk mempercepat mahasiswa baru beradaptasi dengan SBJJ, yang menghendaki setiap mahasiswa mampu mempelajari materi perkuliahan secara mandiri tanpa tergantung kepada dosen.

“Berbeda dengan perkuliahan di Perguruan Tinggi tatap muka (konvensional), dimana dosen mengarahkan mahasiswa untuk belajar, tetapi pada pendidikan jarak jauh sebagaimana yang diterapkan di UT, mahasiswa tidak diwajibkan hadir di kelas sehingga mereka tetap bisa kuliah sambil bekerja. Namun, mahaiswa dituntut mampu secara mandiri untuk mempelajari materi perkuliahan baik bahan ajar cetak maupun non cetak, seperti layanan tutorial online (kuliah online).” Terangnya.

Selama kegiatan PKBJJ ini, lanjutnya, mahasiswa dilatih oleh instruktur yang berasal dari dosen dan pegawai UT Surabaya, diantaranya Drs. Suparman, M.Pd, Drs. Sodiq Anshori, M.Pd, Dr. Pardamean Daulay, S.Sos., M.Si, Drs. Agus Prabowo, S.E, Sucipto, S.Sos, Pujianto, S.Sos, Mujono, S.E, dan Sugito.

“Selama dua hari mahasiswa dilatih untuk menguasai keterampilan belajar efektif, keterampilan membaca dan merekam hasil baca, keterampilan mengakses berbagai layanan online UT, termasuk layanan tutorial online (tuton) sebagai pengganti kuliah tatap muka, dan memastikan kesanggupan mahasiswa UT dalam menyusun rencana dan target belajar serta mengelola waktu belajar dengan baik“ ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa sangat antusias mengikuti pelatihan. Hal ini terlihat dari keaktipan mahasiswa dalam bertanya dan mengerjakan tugas atau latihan yang dimbing olinstruktur.

“Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat melahirkan mahasiswa yang berkarakter mandiri sebagai modal utama dalam menjalani sistem pembelajaran jarak jauh di UT sehingga mereka bisa belajar dengan baik dan lulus tepat waktu” harapnya. (Ace/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Pemerintahan

Bawaslu Surabaya Usulkan Anggaran Pilwali Rp 27,7 M

Diterbitkan

||

Bawaslu Surabaya Usulkan Anggaran Pilwali Rp 27,7 M

Memontum Surabaya – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surabaya telah mengusulkan anggaran untuk Pemilihan Walikota Surabaya 2020 mendatang. Nilai yang diusulkan mencapai Rp 27,7 miliar.

Ketua Bawaslu Surabaya, M Agil Akbar menyebut usulan tersebut mengalami kenaikan dibandingkan rencana awal pihaknya beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Bawaslu Surabaya mengusulkan Rp26,5 miliar.

Penambahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang juga bertambah. Dari yang sebelumnya berjumlah 4.300 TPS menjadi 4.327 TPS.

“Kami baru mendapat kepastian jumlah TPS setelah berkoordinasi resmi dengan KPU (Komisi Pemilihan Umum) Surabaya dan Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa Politik Perlindungan Masyarakat) Surabaya dan beberapa instansi lainnya beberapa waktu lalu,” katanya.

Anggaran sebesar itu rencananya akan digunakan dalam beberapa pos anggaran. Di antaranya, honorarium bagi para petugas Ad Hoc (sementara).

“Sebab, hanya komisioner saja yang mendapat honorarium dari APBN,” katanya.

Beberapa badan ad hoc tersebut di antaranya, Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam), Panitia Pengawas Pemilihan Lapangan (PPL), dan Pengawas TPS (PTPS). Rencananya, proses seleksi akan dilakukan Desember mendatang.

“Sesuai regulasi, rekrutmen AD Hoc pengawas pemilu dilakukan sebelum PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) terbentuk. Sementara PPK dibentuk Januari sehingga kami rencananya akan melakukan seleksi sejak Desember tahun ini,” jelasnya.

Badan Ad Hoc rencananya memiliki masa kerja sekitar 9-12 bulan. “Termasuk, bertugas sejak saat pencalonan, kampanye, hingga pasca pemungutan suara,” ucap alumni Unesa tersebut.

Selain untuk honorarium, anggaran Bawaslu Surabaya juga diperuntukkan untuk sosialisasi pengawasan pemilu, koordinasi dengan Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu), dan beberapa pos anggaran lain.

“Di dalam menjalankan fungsi pengawasan, kami tak bekerja sendiri,” katanya.

“Gakkumdu, misalnya. Kami bekerjasama dengan pihak kepolisian dan kejaksaan. Juga, Pengawasan Pemilu Partisipatif,” Tutupnya.

Usulan anggaran tersebut pun kini telah masuk dalam rancangan yang akan disampaikan ke pemerintah kota yang rencananya akan masuk dalam hibah daerah. Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) Kota Surabaya ditargetkan selesai Oktober mendatang. (Ace/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Pemerintahan

Khofifah Ajak Muslimat Tingkatkan Dakwah di Bidang Ekonomi

Diterbitkan

||

Khofifah Ajak Muslimat Tingkatkan Dakwah di Bidang Ekonomi

Memontum Surabaya – Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa meminta Muslimat NU untuk meningkatkan progresivitas dakwah melaui bidang ekonomi agar tidak ada lagi perempuan dan warga Muslimat yang terjerat rentenir.

Hal tersebut diucapkan Gubernur Jawa Timur ini saat penyelenggaraan Haul Akbar Pendiri Muslimat NU dan Kajian Inspirasi 1441 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

“Kita semua punya harapan bahwa ibu-ibu Muslimat NU dapat mewujudkan komitmen untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan jeratan renternir melalui koperasi dan program perkreditan rakyat yang lebih luas jangkauannya,” jelas Khofifah.

Dakwah melalui penguatan program ekonomi ini, lanjutnya, perlu lebih progresif seiring dengan program arus ekonomi baru yang digagas Wakil Presiden Terpilih, KH Ma’ruf Amin.Karena itu, Muslimat NU harus terus belajar dan mengikhtiarkan hal tersebut. Mengenai gagasan program tersebut telah ada fatwa MUI tentang Financial Technology (Fintech).

Fintech ini bisa menjadi penguatan dakwah Bil Maal yang harus dilakukan Muslimat NU.

“Sebagai implementasinya, nanti akan diluncurkan aplikasi e-commerce Muslimat NU, Insya Allah bulan November saat Rakernas Muslimat NU. Supaya yang rumahnya di ujung Pacitan, yang rumahnya di ujung Trenggalek, yang rumahnya di ujung Situbondo, yang punya produk tidak perlu repot-repot harus membuat gudang tetapi produk dapat dipasarkan. Begitu juga sebaliknya,” kata mantan Menteri Sosial ini.

Menurutnya, aplikasi ini bisa berseiring dengan program Pemprov Jatim One Pesantren One Product (OPOP).Harapannya, ketika terdapat produk terpilih dapat dibimbing, didampingi, dan dikembangkan agar berkualitas dan berdaya saing, layak jual tidak hanya di dalam tetapi juga di luar negeri.

“Training centernya saat ini di Unusa yang sudah saya resmikan satu bulan yang lalu. Saya ingin ini menjadi inovasi dakwahnya muslimat. Dakwah Bil Maal. Saya berharap program ini terus dikuatkan,” harapnya.

Khofifah juga mengajak kepada Muslimat NU untuk menyisir embrio-embrio sentra pertumbuhan ekonomi di lingkungan Muslimat NU.

“Sekarang tahun 2019 kita menyelenggarakan Haul Akbar pendiri Muslimat NU untuk memberikan semangat bagi kita, bagaimana Muslimat NU bisa menguatkan ekonominya sebagai media dakwah dan mewujudkan gagasan Kyai Wahab untuk kebangkitan para pedagang ,” tegasnya.

Menurutnya, inovasi dakwah berikutnya adalah dakwah melalui digital IT. Mengingat hampir semua anggota Muslimat NU memegang telepon genggam (handphone).

“Saya ingin mengajak kepada kita semua, pemanfaatan digital IT lewat handphone juga kita pakai sebagai sarana dakwah. Terima kasih jajaran Muslimat NU telah banyak melakukan khataman Al Qur’an one day one juz. Ada juga yang mengamalkan one week one juz,” ujarnya.

Dijelaskan, dakwah melalui Digital IT ini bisa dilakukan untuk Khataman Quran. Khataman tersebut ada yang satu hari satu jus, juga ada yang satu minggu satu jus.

“Dengan memperbanyak gerakan mengkhatamkan Alqur’an kita mohon semoga Allah menganugerahkan limpahan keberkahan kepada bangsa Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya,” ucapnya.

Hadir juga dalam kesempatan itu, ulama dari Mekkah Dr. Syekh Muhammad Ismail.Dalam ceramah agamanya, Ulama dari Mekkah Dr. Syekh Muhammad Ismail menekankan kemuliaan perempuan di menurut Islam, menurut Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.

Seorang perempuan bisa memikul tanggung jawab lebih besar dari pria. Allah memuliakan perempuan muslim.

“Ridho atau kerelaan dari kedua orang tua. Ridho ibu di atas ayah. Berbakti kepada Ibu 3 kali lipat dibanding kepada Ayah,” pungkasnya. (Ace/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler