Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Ranjau Jalan Raya di Masa Tiada Perang

  • Rabu, 13 Maret 2019 | 00:55
  • / 6 Rajab 1440
Ranjau Jalan Raya di Masa Tiada Perang

Memontum Batu – Pertama kali masuk suatu daerah yang pertama kita rasakan adalah kondisi jalan yang kita lintasi. Ketika yang kita rasakan adalah jalan berlubang tentu kita mengernyitkan dahi dan menyimpulkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya berhasil.

Sebaliknya jika kita melintas di jalan yang mulus tentu kita akan memuji bahwa pembangunan sudah berhasil. Mulusnya jalan raya sebenarnya juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Disamping itu juga menjadi sarana pencitraan pemerintah terhadap kinerjanya sehingga masyarakat merasa diperhatikan oleh pemerintah. Pembangunan di daerah-daerah kerap terfokus pada satu titik saja jadi tidak merata. Seringkali pemerintah setempat hanya memprioritaskan pusat dari daerah tersebut sedangkan daerah yang lain tidak mendapatkan prioritas dalam hal pembangunan terutama pembangunan jalan.

Mengingat pemerintah adalah suatu sistem yang didukung oleh bagian-bagian yang diberi tanggung jawab dibidangnya yang tersebar diseluruh daerah seharusnya luas wilayah bukan dijadikan alasan ketika pembangunan daerah tersebut dianggap tidak berhasil.

Seperti di Kota Malang, melintasi jalan di seputaran Jalan Candi Panggung hingga Tunggul Wulung pasti akan banyak menemukan ranjau jalan alias jalan bolong. Bukan kawasan itu saja tetapi juga di beberapa ruas jalan lainnya.

Demikian pula memasuki kawasan kota wisata Batu, banyak juga ditemukan jalan berlubang. Termasuk di wilayah Kabupaten Malang. Kondisi itu menjadi ranjau, terlebih ketika lubang itu tertutupi genangan air. Karena saat ini sedang musimnya hujan. Saat terkena ranjau bisa dipastikan, rusaknya kendaraan atau lebih parah terjatuh dari kendaraan.

Sekali lagi, kabar seperti itu bukanlah hal baru di banyak tempat. Kerap lubang yang tak segera dibenahi, wargapun bereaksi. Dengan berbagai cara, ada yang secara gotong royong menutup dengan semen. Tetapi ada yang ekstrim melakukan penandaan jalan berlubang dengan menanam pisang atau yang lainnya. Dan, yang membuat miris ada yang menutup jalan dengan poster salah satu capres.

Terakhir, jalan merupakan kebutuhan primer warga masyarakat. Jadi, ketika jalan buruk otomatis reaksi yang muncul di masyarakat sangat bervariasi. Jadi, bagus tidaknya jalan menunjukkan penilaian terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. (bir/yan)

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional