Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang

Melalui Tokoh Agama, Walikota Ajak Masyarakat Hidup Bersih

  • Jumat, 12 April 2019 | 08:14
  • / 6 Sya'ban 1440
Melalui Tokoh Agama, Walikota Ajak Masyarakat Hidup Bersih
Walikota Malang Sutiaji menggandeng tokoh agama mengajak masyarakat hidup bersih. (rhd)

Memontum Kota MalangWalikota Malang, Drs. H. Sutiaji, mengapresiasi kepedulian para tokoh pemuka agama yang turut berkontribusi dalam pembangunan dan penyelesaian permasalahan di Kota Malang. Pasalnya, peran tokoh agama yang disampaikan melalui dakwah, khutbah, pesan moral, yang dikemas dalam aktifitas keagamaan akan lebih mengena kepada umat sebagai bagian masyarakat Kota Malang.

Sutiaji menyampaikan bahwa di tahun 80-an Kota Malang tidak pernah kenal istilah banjir. Namun sekarang di tahun 2019 ini ditemukan 26 titik banjir, padahal posisi Kota Malang ada di dataran tinggi. “Fenomena banjir di Kota Malang menjadi pengalaman yang tak mengenakkan bagi saya sebagai Walikota, dengan banyaknya hujatan dan fitnahan. Padahal, jika dikaji lebih dalam, hal ini disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Seperti tumpukan sampah di gorong-gorong yang tidak ada habisnya. Satgas DPUPR selalu membersihkan dan mengontrol gorong-gorong dan sungai setiap hari, tapi besok muncul kembali. Kalau kebersihan sebagian dari iman, seharusnya ini tidak boleh terjadi,” ungkap alumnus Ponpes Tambakberas ini, di ruang sidang Balaikota Malang, Kamis (11/4/2019) siang.

Para tokoh agama yang turut terlibat dalam forum diskusi. (rhd)

Para tokoh agama yang turut terlibat dalam forum diskusi. (rhd)

Pun bangunan yang menutupi aliran sungai, dituding sebagai penyebab menyempitnya aliran gorong-gorong dan sungai yang membuat sampah terhenti, sehingga menahan debit aliran air yang berdampak melubernya air ke jalanan. “Untuk membangun harus lihat tetangga kanan kiri. Bagaimana akses jalan buat lingkungan atau tetangga. Juga bagaimana aliran air hujan atau air gorong-gorong mengalir sempurna. Untuk itu, bangunan siapapun kalau melanggar harus dijebol, seperti penjebolan bangunan ruko di Tidar itu saya pimpin sendiri. Harus zero tolerance, we’ek sopo ini gak peduli (punya siapa saya tidak peduli, red),” ujarnya sambil menunjukkan foto-foto sampah, kasur, bambu, bak sampah, kawat besi, kabel, dan lainnya di gorong-gorong dan kali.

Kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah, baik perilaku pembuangan maupun budaya pengurangan sampah perlu diperkuat kembali. Ulama dengan ruang-ruang dakwah memiliki potensi besar menggerakkan mindset masyarakat menuju pola hidup bersih. “Perilaku membuang sampah sembarangan berdampak pada kinerja sistem drainase kota Malang. Dengan keterlibatan tokoh agama, sinergitas yang terbangun dengan jamaah akan lebih mudah,” tandas Sutiaji.

Wakil Walikota Malang, Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko, menambahkan, secara teknis Pemerintah Kota Malang akan siap dalam menghadapi masalah ini. Wawali juga menghimbau masyarakat dengan gerakan hidup bersih, seperti kegiatan kerja bakti, bersih-bersih sungai, supaya digiatkan kembali. “Langkah yang dilakukan pemerintah, pertama regulasinya ditata ulang sehubungan dengan sampah. Kedua, aspek teknis. Di titik-titik tertentu nanti akan dipasang jaring. Supaya sampah tidak sampai ke ujung. Secara periodik sampah di jaring langsung dibersihkan dan diawasi langsung oleh satgas agar tidak menumpuk,” ungkap Bung Edi, sapaan akrabnya, didampingi Sekda Kota Malang Drs.Wasto, SH, MH.

Dalam dialog, Ketua Dewan Paroki Gereja Katedral Ijen Malang, Nugroho Sugiwijono, menyampaikan bahwa gerakan pertobatan ekologi itu merupakan upaya menjaga kelestarian bumi yang sudah dilaksanakan 3 tahun belakangan. “Kita kan berusaha melakukan pendidikan ke umat. Contohnya, umat kita tidak minum dari kemasan gelas plastik tapi bawa botol sendiri. Saya juga bawa botol di mobil yang saya isi ulang. Kami berusaha agar bumi ini menjadi rumah bersama sehingga tidak hanya dieksploitasi, tapi juga diperbaiki. Kami berusaha agar mengurangi sampah, mengurangi pemakaian air, mengurangi plastik yang hancurnya bisa sampai ratusan tahun,” jelas Ketua Dewan Paroki Katedral Gereja Ijen.

Dari hasil diskusi forum ini, rencananya Pemkot Malang akan membuatkan surat secara resmi terkait himbauan hidup sehat bebas sampah, khususnya sampah plastik. Sekaligus untuk menjaga Pemilu Damai 2019, yang ditujukan kepada Lurah, Ketua RW, Ketua RT, dan tokoh agama untuk disampaikan kepada masyarakat Kota Malang. (adn/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional