Memontum.Com

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang

Dua Tahun Berlalu, Bagaimana Kasus Novel Baswedan?

  • Jumat, 12 April 2019 | 08:15
  • / 6 Sya'ban 1440
Dua Tahun Berlalu, Bagaimana Kasus Novel Baswedan?

Memontum Kota MalangSejak 11 April 2017, kasus percobaan pembunuhan terhadap Novel Baswedan (Novel), seorang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini belum diungkap dan diselesaikan oleh Negara. Dua tahun berlalu, dibentuknya tim gabungan oleh Kapolri atas Kasus Novel juga tidak lantas memberikan jaminan terhadap penanganan kasus tersebut.

“Tidak terselesaikannya kasus Novel Baswedan merupakan kejahatan HAM baru di era reformasi seperti kejahatan-kejahatan HAM di masa lalu yang masih gelap sampai sekarang. Teror terhadap pejuang anti korupsi dan KPK sebagai lnstitusi Pemberantas Korupsi seharusnya dilihat sebagai persoalan serius yang harus dituntaskan oleh aparat kepolisian. Sebab sampai kapanpun dan dimanapun korupsi harus diperangi, karena korupsi telah merusak tatanan yang ada, mulai dari tatanan sosial, budaya, ekonomi, hukum dan politik,” ungkap Atha Nursasi, korlap aksi Aliansi Masyarakat Anti Korupsi Malang Raya, saat demo di depan kantor DPRD dan Balaikota Malang, Kamis (11/4/2019) siang.

Aliansi Masyarakat Anti Korupsi Malang Raya ini mendesak Negara dan menyampaikan 4 tuntutan. Pertama, Presiden RI harus mengevaluasi kinerja kepolisian dalam penyidikan dugaan pembunuhan berencana terhadap Novel dan membentuk TGPF yang independen. Kedua, Ombusman Republik Indonesia harus mengeluarkan laporan objektif, tanpa konflik kepentingan atas pemeriksaan adanya dugaan mall administrasi dalam penyidikan kasus penyerangan novel. Ketiga, Komnas HAM harus mengungkapkan pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus Novel secara menyeluruh. Keempat, mengutuk segala bentuk teror terhadap pejuang Anti Korupsi dan KPK.

“Publik menyadari, tindakan kebiadaban itu merupakan bentuk dan upaya pembungkaman terhadap demokrasi, kejahatan HAM dan ancaman terhadap gerakan sosial anti Korupsi. Bahkan, penyiraman terhadap Novel dapat kita pahami sebagai ancaman terhadap aktivis gerakan, seperti kriminalisasi, teror, intimidasi, bahkan pembunuhan yang terjadi begitu massif dan sistemik ditengah transisi demokrasi hari ini,” tambah Atta.

Sebagai catatan atas kasus Novel Baswedan, dugaan pembunuhan berencana terhadap Novel merupakan serangan terhadap KPK, dengan tujuan menghalangi upaya pemberantasan korupsi (Obstruction of justice). Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu : adanya kesamaan motif, adanya kesamaan pelaku, ada kesamaan pola serangan dan adanya serangan terhadap pegawai KPK dan lembaga KPK. “Dampaknya, kesehatan Novel terganggu, pekerjaan terhambat, dan beban psikologi bagi pegawai KPK, ancaman dan teror terhadap pegiat anti korupsi Iainnya,” tandas Atta. (adn/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional