Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Geliat Caleg Perempuan, Rebut Kursi Parlemen

  • Sabtu, 13 April 2019 | 18:44
  • / 7 Sya'ban 1440
Geliat Caleg Perempuan, Rebut Kursi Parlemen

Pemilu serentak 2019 tinggal beberapa hari lagi. Isu perempuan di parlemen masih sangat layak untuk menjadi perbincangan. Bagaimana tidak, affirmatife action quota perempuan 30 persen telah dituangkan pada Undang-undang nomor 12 Tahun 2002 tentang Partai Politik, dan pada undang-undang nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum. Hingga kini telah memasuki pemilu ke empat pada pemilu tahun 2019 ini. Namun pembahasan tentang keterwakilan perempuan yang semestinya menjadi keharusan, sampai saat ini keterwakilan tersebut belum mencapai angka 30 persen di kursi Parlemen.

Pemilu 2004, sejumlah 65 orang perempuan mendapatkan kursi di parlemen. Jumlah tersebut memiliki persentase 11,82 persen keterwakilan perempuan di DPR. Pada Pemilu 2009 jumlah keterwakilan perempuan di parlemen naik menjadi 17,86 persen. Pemilu terakhir 2014 lalu keterwakilan perempuan dikursi DPR, dari 560 kursi hanya diduduki 97 kursi oleh perempuan atau hanya berkisar 17,32 persen, artinya mengalami penurunan sedikit dari pemilu sebelumnya. Negara telah menjamin secara hukum akan keterwakilan perempuan ini, namun saat ini baru terealisasi pada saat pencalonan perempuan di legislatif yang mewajibkan tercapainya quota 30 persen tersebut. Dalam praktiknya, saat perempuan dipaksakan hadir dan ikut serta dalam kontestasi politik ini, tidak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh saat pemilu.

Perlu pembahasan serius terkait perolehan suara perempuan ini dalam pemilihan anggota legislatif kedepan. Harus ditemukan akar permasalahannya sehingga menjadi solusi untuk Calon Legislatif perempuan dalam merebut suara pada tanggal 17 April 2019 nanti.

Kaderisasi perempuan dalam partai politik terbilang sangat minim, ini yang menyebabkan ketokohan perempuan dalam suatu partai politik tidak muncul kepermukaan. Sangat minim bahkan sedikit sekali perempuan yang menduduki posisi strategis politik. Perempuan-perempuan yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif merupakan orang-orang yang di “paksa” untuk memenuhi syarat dalam pendaftaran calon legislatif oleh suatu partai politik untuk mengisi quota 30 persen keterwakilan perempuan agar partai mereka tidak dieliminasi sebagai peserta pemilu. Hal ini sangat disayangkan, kesempatan ini hanya di anggap sebagai kesempatan partisipasi bukan dalam konteks aktualisasi dan kompetisi dalam artian yang sesungguhnya.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 pasal 186 tentang jumlah kursi DPR, disebutkan jumlah kursi anggota DPR sebanyak 575 kursi. Ini siap diperebutkan oleh para calon legislatif secara konstitutional, tentunya setelah partai politk pengusung mereka memenuhi Parliamentary Threshold atau ambang batas sebesar 4 persen. Jika melihat keterwakilan perempuan sebesar 30 persen, maka kursi legislatif yang seharusnya diduduki oleh perempuan mencapai 175 kursi, artinya persentasenya harus meningkat 12,68 persen dari pemilu sebelumnya di tahun 2014. Pemilu kali ini merupakan catatan rekor bagi caleg perempuan dimana terdapat 3.194 dari total keseluruhan yang mencapai 8.000 caleg DPR, artinya terdapat 40 persen caleg perempuan. Angka itu meningkat hampir 50% dari Pemilu 2014 sebesar 2.467 orang. Besar harapan agar 30 persen dari caleg perempuan ini memperoleh kursi di parlemen.

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional