Memontum.Com

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS

Tiga Guru Besar Unair Kupas Masalah Ketahanan Pangan

  • Selasa, 23 April 2019 | 18:40
  • / 17 Sya'ban 1440
Tiga Guru Besar Unair Kupas Masalah Ketahanan Pangan

Memontum Surabaya—–Hadirnya era revolusi 4.0 yang penuh dengan gejolak teknologi yang tak terhindarkan, secara langsung menuntut negara untuk beradaptasi. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mengintervensi berlangsungnya revolusi 4.0 ialah ketersediaan pangan dan kebutuhan masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Airlngga (UNAIR) menggelar kegiatan diskusi pakar yang bertajuk Ketahanan Pangan untuk Menopang Stabilitas Keamanan, Kesehatan, dan Ekonomi Negeri pada Selasa (23/4/2019), di Aula Amerta Gedung Rektorat kamus C UNAIR.


Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni Prof. Suwarno, M.Si., Drh, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH); Prof. R. Bambang W, dr., MS., MCN., Ph.D., SpGK, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM; dan Dyah Wulan Sari, SE,M.Ec.Dev.,Ph.D., Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kemudian dimoderatori oleh dr. Niken sasadhara S., selaku dokter umum Rumah Sakit UNAIR.

Awal diskusi mengupas maraknya makanan yang mengandung bahan kimia yang tidak dapat dihindari dan berpotensi memberikan efek yang negatif ke depannya.

Diskusi perihal pangan dalam berbagai prespektif sangat penting untuk dilakukan. Mengingat, banyak perubahan pola ketahanan pangan akibat perkembangan teknologi dalam era Revolusi 4.0.

Dalam diskusi tersebut, materi pertama disampaikan Prof. Dr. Suwarno, M.Si., drh. Yakni, perihal pangan dari bidang ternak. Menurutnya,  kondisi peternakan yang ada di Indonesia yakni Masih bersifat perorangan, masih bersifat tradisional karena faktor makanan yang diberikan masih berupa rumput. Potensi yang belum maksimal karena perlunya pekerjaan yang dilakukan secara profesional. Disisi lain kebutuhan daging terus meningkat yang disebabkan populasi ternak lokal semakin merosot, kasus penyakit reproduksi masih tinggi karena sebagian besar hewan tersebut kekurangan gizi pakan, adanya kasus penyakit menular /zoonosis cukup tinggi karena adanya penanganan yang kurang serius. Belum lagi konsumsi pangan masyarakat indonesia sebagian besar diambil dari ranah hewani, seperti unggas, kambing, dan sapi.

“Impor pangan hewani cukup tinggi. Namun, Jawa Timur memiliki potensi ternak yang paling tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Pengimporan hewan diperlukan ketelitian yang tinggi bagi pemerintah maupun swasta. Namun, hal tersebut sudah mampu diatasi oleh para ahli di Indonesia dalam mengklasifikasi hewan yang akan diimpor. Sebab, ada beberapa negara yang perlu kita waspadai kareternak mereka terindikasi terkena virus

Dalam hal ini Prof. Dr. Suwarno, M.Si., Drh. Memberikan solusi terhadap pengembangan peternakan Indonesia. Di antaranya, menggeser pola peternakan perorangan ke arah kelompok/industri, pengembangan pola integrasi ternak tanaman (sapi-sawit), pengembangan lahan pengembalaan, fasilitas asuransi usaha ternak sapi (AUTS).

Kemudian, materi kedua disampaikan Prof. Bambang mengenai kesehatan dan keamanan pangan.

Keamanan pangan di Indonesia harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Sebab, era saat ini sangat marak makanan yang membahayakan bagi kesehatan.

Permasalahan lain yakni pada mutu beras dan distribusi pangan yang tidak seimbang. Biasanya pada wilayah terpencil memiliki ketahanan atau kualitas pangan yang rentan.

Terdapat 26 kabupaten di Indonesia yang memiliki ketahanan atau kualitas pangan yang rendah.

Pewarna kimia yang beredar di pasaran juga begitu berbahaya bagi kesehatan, hal ini akan memberikan dampak atau efek jangka panjang yang cukup berbahaya.

Para mahasiswa atau pekerja yang bertempat tinggal di kos berpotensi tinggi terkena efek dari bahan kimia yang dikonsumsi.

“Dalam mengkonsumsi makanan kita harus tetap menakankan pada segi kualitas dan tetap hati-hati. Supaya terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan dan membahayakan kesehatan,” kata Bambang.

Kemudian materi terakhir disampaikan oleh Dyah Wulan Sari berkenaan dengan ekonomi dan keamanan pangan.

Selama ini masih banyak masyarakat mempermainkan harga kebutuhan pangan. Sehingga kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keamanan pangan dan gizi dirasa masih belum cukup. Misalnya dengan harga lombok yang melambung tinggi.

Adanya anak sekolah yang tidak memiliki ijazah.

“Itu artinya mereka memilih untuk putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja lantaran tidak adanya pengetahuan dan manfaat akan pentingnya pendidikan

Adanya subsidi pendidikan bagi anak sekolah dirasa masih belum tepat sasara,,” urai Dyah Wulan.

Hal itu dikarenakan subsidi tersebut tidak hanya dinikmati oleh masyarakat golongan tertentu akan tetapi masyarakat dengan goilongan menengah ke atas juga dapat menikmatinya. Sehingga akan terjadi kesenjangan ekonomi yang tidak merata.

Selain itu Dyah juga menyoroti permasalahan ekonomi pada kebijakan beras keluarga miskin (RASKIN) yang dinikmati oleh masyarakat yang kurang mampu. Ditemukan fakta dilapangan bahwa RASKIN tidak hanya dinikmati oleh masyarakat menengah kebawah, akan tetapi juga sering disalahgunakan oleh masyarakat menengah ke atas dalam penggunaannya.

Kebijakan pemerintah dalam hal ini tidak tepat sasaran. Sehingga masyarakat menengah keataspun dapat menikmati barang-barang pangan khususnya ekonomi yang disubsidi oleh pemerintah.

Ada beberapa cara untuk mengukur ketahanan pangan, yakni pengeluaran pangan dan kecukupan energi pangan berdasarkan jumlah konsumsi pangan dibagi angka kecukupan energi menurut jenis kelamin dan usia yang bervariasi. (sur/ano/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional