Connect with us

Situbondo

88 Kades Pensiun Oktober, 27 di Desember 2019.

Diterbitkan

||

Memontum Situbondo Sebanyak 115 desa yang akan melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) tahun ini. Dari jumlah tersebut, ada 88 kades yang berakhir masa jabatannya di Bulan Oktober. Kemudian sebanyak 27 kades tugasnya akan habis Bulan Desember.

Kabid Bina Pemerintahan Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Situbondo, Yogie Kripsian Syah mengatakan, pemerintah saat ini sudah mengirimkan surat kepada badan perwakilan desa (BPD) melalui camat masing-masing. “Isinya, kita perintahkan BPD agar memberikan surat pemberitahuan akhir masa jabatan kepada kades,” ujarnya.

Dalam peraturan menteri dalam negeri (permendagri) tentang kepala desa, BPD harus memberikan surat pemberitahuan kepada kades enam bulan sebelum masa jabatan habis. Sepuluh hari setelah pemberitahuan itu, maka desa diminta membentuk panitia pilkades.

Saat ini, BPD belum memberikan surat pemberitahuan. Sebab, akhir masa jabatan kepala desa belum mencapai enam bulan. Terhitung enam bulan pada Bulan Mei mendatang. “Tetapi pemerintah daerah sudah mengirimkan surat peringatan agar BPD tidak lupa,” jelasnya.

Sementara itu, wacana pilkades e-voting masih belum pasti. Yogie menerangkan, panitia khusus (pansus) DPRD masih melakukan pembahasan terhadap perda perubahan kepala desa. “Ada beberapa hal yang perlu dikaji,” katanya.

Sebenarnya, untuk kesiapan teknologi, sudah tidak ada masalah. Yogie menerangkan, perangkat untuk pelaksanaan pilkades e-voting sudah dipersiapkan pemerintah daerah. bahkan, pernah diuji coba.

Dalam mempersiapkan perangkat elektroniknya, pemerintah mendapatkan pendampingan dari badan pengkajian pusat teknologi (BPPT). “BPPT merupakan lembaga negara yang kompeten dalam penyediaan teknologi,” kata Yogie, saat diwawancarai Wartawan Memontum.com. Senin (29/04/2019).

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan pansus DPRD. Kata dia, pemerintah dianggap belum siap seratus persen. Misalnya, tentang ketersediaan perangkat yang digunakan.

“Alatnya tidak cukup untuk semua desa. Makanya, e-voting disiasati dengan bergiliran. Ini yang masih disoal,” pungkasnya. (im/yan)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *