Connect with us

Surabaya

Risma Janji Turunkan Suhu Hingga 22 Derajat

Diterbitkan

||

MENELUSURI : Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengisi akhir pekan ini dengan menelusuri jejak-jejak sejarah di Kampung Peneleh Surabaya, Sabtu (18/5).

*Pakar Lingkungan Nilai Masih Sulit

Memontum Surabaya——-Walikota Surabaya, Tri Rismaharini akan menurunkan suhu Kota Surabaya menjadi 22 hingga 20 derajat celcius. Upaya tersebut dilakukan dengan menambah ruang terbuka hijau (RTH) atau taman-taman sebanyak 30 persen di Kota Surabaya.

Dosen sekaligus pakar lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Arie Dipareza Syafei menyampaikan, dalam meningkatkan kualitas udara harus dilakukan secara global. Pasalnya jika hanya diupayakan pada skala daerah atau lokal, tingkat kesulitannya lebih besar.

“Sulit ya untuk membuat suhu hingga 20-22 derat celcius, karena rata-rata suhunya di atas itu. Kalau menyangkut cuaca yang sifatnya global tidak bisa ditangani skala lokal, dalam hal ini tanaman,” kata Arie saat diwawancarai melalui telepon, Jumat (17/5).

Namun dengan tambahan RTH sebanyak 30 persen tersebut bisa membantu menurunkan suhu.

Berdasarkan literatur, vegetasi sedikit membantu menurunkan suhu karena efek bayangan dari daun dan pohonnya. Hal tersebut mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan pada 30 kota di Indonesia.

“Jadi peningkatan 1 persen vegetasi berpotensi menurunkan suhu sebesar 0.07 derajat C,” ujarnya.

Namun, ia menilai hasil penelitiannya tersebut dengan catatan akurasi model yang masih rendah.

Menurutnya, akurasi model yang bagus itu di atas 80 persen. Tapi karena proses penelitiannya menggunakan data satelit dalam mengukur suhu dan area vegetasi.

“Saya melakukan penelitian mulai data sejak tahun 2007-2016, dan memperoleh akurasi hanya sekitar 30 persen,” jelas dia.

Dalam penelitiannya, Arie menyimpulkan dua area dengan suhu tertinggi dan area suhu terendah. Wilayaj tersebut meliputi Jakarta 38 derajat C, Yogjakarta 34 derajat C, Surabaya 34,4 derajat C, Makasar 34 derajat C, dan Medan 33,5 derajat C.

Sedangkan wilayah yang mempunyai suhu rendah meliputi Ambon 26,3 derajat C, Ternate 26,9 derajat C, Jayapura 28 derajat C, Manado 28,8 derajat C, Padang 28,9 derajat C.

Arie juga menyampaikan, upaya Pemerintah Kota (Surabaya) dalam menjadikan 30 persen RTH bisa membantu memperbaiki kualitas udara.

“Jadi paling tidak, banyaknya vegetasi membantu menurunkan efek urban heat island, suhu panas yg dipancarkan gedung-gedung berkurang dengan bantuan tumbuhan,” kata dia.

Ia juga menyimpulkan, jika luas Surabaya adalah 350.54 km2, dan nantinya kurang lebih 30 persennya adalah vegetasi, yaitu 105 km2. Pemkot akan melakukan penambahan 1 persen yang berarti jadi 31 persen atau 108.5 km2.

“Artinya penambahan vegetasi seluas 3.5km2 berpotensi menurunkan suhu 0.07 derajat celsius,” pungkasnya.

Sementara itu, Risma sempat mengatakan, dengan adanya taman kota, terbukti suhu udara mengalami penurunan dari 36 derajat ke 34 derajat celcius. Ia yakin bahwa suhu Surabaya bisa turun lagi hingga 22 derajat celcius.

“Hasilnya, saat ini suhu udara di Kota Surabaya telah turun sekitar dua derajat celcius. Dulu Surabaya rata-rata 36 derajat celcius, sekarang sudah 34 derajat ke bawah dan itu ada datanya. Nanti sampai suhu udara di Kota Surabaya mencapai 20 hingga 22 derajat celcius,” pungkasnya. (est/ano/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Wujudkan Kemandirian dan Daya Juang Mahasiswa, UT Surabaya Gelar PKBJJ di Tuban

Diterbitkan

||

Wujudkan Kemandirian dan Daya Juang Mahasiswa, UT Surabaya Gelar PKBJJ di Tuban

Memontum Surabaya – Sistem belajar jarak jauh (SBJJ) sebagaimana yang diterapkan di Universitas Terbuka (UT), menuntut kemandirian dan daya juang mahasiswa untuk belajar. Bahkan, kemandirian dalam belajar ini menjadi faktor utama dan modal yang sangat penting dalam menentukan persistensi (kebertahanan) dan keberhasilan belajar mahasiswa UT.

Sayangnya, belajar mandiri sejauh ini belum menjadi suatu tradisi atau kebiasaan bagi mahasiswa UT karena mereka telah terbiasa belajar tatap muka dan dibimbing oleh guru atau dosen di ruang kelas.

Untuk menyiapkan kesiapan belajar dan sekaligus upaya percepatan adaptasi mahasiswa baru dengan SBJJ, UPBJJ-UT Surabaya telah menyelenggarakan kegiatan PKBJJ (Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh) bagi mahasiswa baru (Maba) di Kabupaten Tuban.

Pada tanggal 14 – 15 September 2019, bertempat di SMAN 2 Tuban dan diikuti sebanyak 506 mahasiswa baru, terdiri dari Program Studi Akuntansi 71 orang, program studi Manajemen 293 orang, Ilmu Administrasi Negara 66 orang, Ilmu komunikasi 29 orang, Ilmu Perpustakaan 23 orang, Ilmu Hukum 2 orang, Ilmu Pemerintahan 2 orang, Kearsipan 1 orang, Pendidikan Matematika 3 orang, dan Pendidikan Bahasa Indonesia 8 orang.

Direktur UPBJJ-UT Surabaya, Dr. Suparti, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan PKBJJ merupakan salah satu upaya UT untuk mempercepat mahasiswa baru beradaptasi dengan SBJJ, yang menghendaki setiap mahasiswa mampu mempelajari materi perkuliahan secara mandiri tanpa tergantung kepada dosen.

“Berbeda dengan perkuliahan di Perguruan Tinggi tatap muka (konvensional), dimana dosen mengarahkan mahasiswa untuk belajar, tetapi pada pendidikan jarak jauh sebagaimana yang diterapkan di UT, mahasiswa tidak diwajibkan hadir di kelas sehingga mereka tetap bisa kuliah sambil bekerja. Namun, mahaiswa dituntut mampu secara mandiri untuk mempelajari materi perkuliahan baik bahan ajar cetak maupun non cetak, seperti layanan tutorial online (kuliah online).” Terangnya.

Selama kegiatan PKBJJ ini, lanjutnya, mahasiswa dilatih oleh instruktur yang berasal dari dosen dan pegawai UT Surabaya, diantaranya Drs. Suparman, M.Pd, Drs. Sodiq Anshori, M.Pd, Dr. Pardamean Daulay, S.Sos., M.Si, Drs. Agus Prabowo, S.E, Sucipto, S.Sos, Pujianto, S.Sos, Mujono, S.E, dan Sugito.

“Selama dua hari mahasiswa dilatih untuk menguasai keterampilan belajar efektif, keterampilan membaca dan merekam hasil baca, keterampilan mengakses berbagai layanan online UT, termasuk layanan tutorial online (tuton) sebagai pengganti kuliah tatap muka, dan memastikan kesanggupan mahasiswa UT dalam menyusun rencana dan target belajar serta mengelola waktu belajar dengan baik“ ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa sangat antusias mengikuti pelatihan. Hal ini terlihat dari keaktipan mahasiswa dalam bertanya dan mengerjakan tugas atau latihan yang dimbing olinstruktur.

“Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat melahirkan mahasiswa yang berkarakter mandiri sebagai modal utama dalam menjalani sistem pembelajaran jarak jauh di UT sehingga mereka bisa belajar dengan baik dan lulus tepat waktu” harapnya. (Ace/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Pemerintahan

Bawaslu Surabaya Usulkan Anggaran Pilwali Rp 27,7 M

Diterbitkan

||

Bawaslu Surabaya Usulkan Anggaran Pilwali Rp 27,7 M

Memontum Surabaya – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surabaya telah mengusulkan anggaran untuk Pemilihan Walikota Surabaya 2020 mendatang. Nilai yang diusulkan mencapai Rp 27,7 miliar.

Ketua Bawaslu Surabaya, M Agil Akbar menyebut usulan tersebut mengalami kenaikan dibandingkan rencana awal pihaknya beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Bawaslu Surabaya mengusulkan Rp26,5 miliar.

Penambahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang juga bertambah. Dari yang sebelumnya berjumlah 4.300 TPS menjadi 4.327 TPS.

“Kami baru mendapat kepastian jumlah TPS setelah berkoordinasi resmi dengan KPU (Komisi Pemilihan Umum) Surabaya dan Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa Politik Perlindungan Masyarakat) Surabaya dan beberapa instansi lainnya beberapa waktu lalu,” katanya.

Anggaran sebesar itu rencananya akan digunakan dalam beberapa pos anggaran. Di antaranya, honorarium bagi para petugas Ad Hoc (sementara).

“Sebab, hanya komisioner saja yang mendapat honorarium dari APBN,” katanya.

Beberapa badan ad hoc tersebut di antaranya, Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam), Panitia Pengawas Pemilihan Lapangan (PPL), dan Pengawas TPS (PTPS). Rencananya, proses seleksi akan dilakukan Desember mendatang.

“Sesuai regulasi, rekrutmen AD Hoc pengawas pemilu dilakukan sebelum PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) terbentuk. Sementara PPK dibentuk Januari sehingga kami rencananya akan melakukan seleksi sejak Desember tahun ini,” jelasnya.

Badan Ad Hoc rencananya memiliki masa kerja sekitar 9-12 bulan. “Termasuk, bertugas sejak saat pencalonan, kampanye, hingga pasca pemungutan suara,” ucap alumni Unesa tersebut.

Selain untuk honorarium, anggaran Bawaslu Surabaya juga diperuntukkan untuk sosialisasi pengawasan pemilu, koordinasi dengan Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu), dan beberapa pos anggaran lain.

“Di dalam menjalankan fungsi pengawasan, kami tak bekerja sendiri,” katanya.

“Gakkumdu, misalnya. Kami bekerjasama dengan pihak kepolisian dan kejaksaan. Juga, Pengawasan Pemilu Partisipatif,” Tutupnya.

Usulan anggaran tersebut pun kini telah masuk dalam rancangan yang akan disampaikan ke pemerintah kota yang rencananya akan masuk dalam hibah daerah. Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) Kota Surabaya ditargetkan selesai Oktober mendatang. (Ace/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement Iklan Cukai Pemkot Batu
Advertisement Iklan BNN Kota Malang
Advertisement Terkunci Pandemi Corona
Advertisement SBMPN POLINEMA MALANG
Advertisement

Terpopuler