Connect with us

Kota Malang

Warga Binaan Lapas Lowokwaru Budidaya Maggot BSF, Solusi Permasalahan Sampah

Diterbitkan

||

Pengolahan sampah melalui budidaya maggot jenis BSF di Lapas Lowokwaru. (rhd)

Memontum Kota Malang – Sampah masih menjadi permasalahan yang cukup pelik di negeri ini. Tak terkecuali bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Lowokwaru Kota Malang, yang menghasilkan 3 kuintal sampah per hari, dari aktifitas 3.000-an tahanan dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lowokwaru.

“Jika dipilah, sampah anorganik masih bisa didaur ulang menjadi beragam kerajinan. Meski tidak semua, setidaknya meminimalisir masalah dengan memanfaatkan potensi. Namun, sampah organik ini cukup pelik, selain bau, sampah mengotori lingkungan dan bisa berair. Jika seperti itu lalat bermunculan. Untungnya, salah satu WBP kami dikirim Tuhan untuk menjawab permasalahan kami. Dia memiliki keahlian mengolah dan fermentasi sampah dengan Maggot jenis BSF,” jelas Kepala Lapas (Kalapas) Lowokwaru, Yudi Suseno, Selasa (3/9/2019) siang.

Maggot yang siap dibudidayakan untuk beragam kebutuhan. (rhd)

Maggot yang siap dibudidayakan untuk beragam kebutuhan. (rhd)

Disebutkan mantan Kalapas Salemba ini, daya tampung Lapas Klas I Lowokwaru ini hanya 1.200 orang. Namun dipaksa menampung 3.000-an orang dari warga Kota Malang (40 persen), Kabupaten Malang (40 persen), dan Kota Batu (20 persen).

“Kondisi overload ini menimbulkan beragam masalah yang cukup krusial. Salah satunya sampah, baik anorganik dan organik. Bahkan untuk sedot tinja kotoran manusia, kami sampai mengajukan 12 kali dalam setahun,” terang Yudi, pria yang berkecimpung di dunia Lapas selama 27 tahun, dan sebentar lagi menjabat Kadiv Babel pada November mendatang.

Maggot BSF adalah sejenis belatung atau larva yang bermetamorfosis menjadi lalat bersih dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam (sebutan bahasa Indonesia) bukan jenis lalat hijau/lalat sampah yang bervektor penyakit. Sayangnya, fase hidupnya hanya bertahan 7 hari, selain total siklus 45 hari dari larva hingga menjadi lalat.

Bilik budidaya telor lalat BSF. (rhd)

Bilik budidaya telor lalat BSF. (rhd)

Dari segi pemanfaatan, tiap fase maggot memiliki beragam manfaat positif. Seperti pakan ternak unggas, perikanan (lele, dan lainnya), media sebagai bahan kompos, hingga salah satu bahan campuran kosmetik.

“Maggot remaja bisa untuk pakan ternak dan perikanan. Untuk maggot remaja klasifikasi tertentu bisa sebagai bahan campuran kosmetik. Karena industri maggot sudah masuk pasar internasional. Bahkan tempo hari ada tinjauan tamu dari Australia. Kami tidak bisa sendiri, karena kami juga butuh stakeholders dan mitra kerja agar bisa membantu,” papar Ali Murtopo, salah satu WBP yang ditugasi mengelola maggot BSF.

Secara teknis, lanjut Ali, untuk mengolah sampah dan menghasilkan maggot yang baik, diolah menggunakan pola fermentasi. Dimana bahan fermentasinya menggunakan EM4 sebagai sumber organisme hidup dengan komposisi 5 tutup botol, 10 liter air, 5 tutup botol tetes tebu (molase), dan dicampurkan pada bekatul, untuk mengolah 3 kuintal sampah organik dari sisa masakan dan sayuran.

Kalapas Lowokwaru, Yudi Suseno, saat menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Kalapas Lowokwaru, Yudi Suseno, saat menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

“Bahan campuran bekatul tersebut diolahkan pada sampah. Sehingga tidak menimbulkan bau menyengat,” beber Ali, yang mengaku dibantu 30 orang dari pondok kreatif Pramuka dan santri bidang perikanan dan pertanian binaan Lapas Lowokwaru.

Sementara untuk proses budidaya maggot hingga tumbuh menjadi lalat dan telor, butuh waktu tambahan dengan membiarkan maggot tumbuh menjadi lalat BSF yang ditempatkan di ruang tertutup. Lalat BSF berjenis kelamin jantan dan betina dikawinkan hingga bertelor. Usai kawin, lalat jantan akan mati. Sementara lalat betina mampu bertelor 500-900 buah telur, yang selanjutnya menetas menjadi larva. Usai bertelor lalat betina akan mati.

“Untuk menjaga keberlangsungan terus menerus (suistanable), kami fokuskan pada budidaya. Sebab dari telor lalat 10 gram, bisa menghasilkan maggot 70 kilogram dalam waktu 3 minggu,” tutur Ali, didampingi Kepala Keamanan Lapas Lowokwaru, Giyono, saat meninjau lokasi budidaya.

Disinggung potensi harga jual maggot BSF, Ali merujuk harga pasaran online yang ditawarkan beberapa marketplace. Ali mencontohkan, kepompong bisa dijual kisaran Rp 100-300 ribu per kilogram, telor lalat BSF Rp 1 juta per kilogram, maggot remaja Rp 7 ribu per kilogram, dan lainnya.

“Harganya cukup bervariasi. Kami belum panen dengan varian tersebut. Sebab kami baru launching sejak 10 Agustus, dan fokusnya untuk budidaya bibit maggot BSF dulu,” tandas Ali. (adn/yan)

 

Kota Malang

Unikama Gelar Wisuda Online

Diterbitkan

||

Dr Ninik Indawati MPd, Dr Sudi Dul Aji M.Si dan Retno Wulandari SE MSA. (gie)
Dr Ninik Indawati MPd, Dr Sudi Dul Aji M.Si dan Retno Wulandari SE MSA. (gie)

Cegah Penyebaran Covid-19

Memontum, Kota Malang – Karena tidak ingin ada kluster baru penyebaran Covid-19, pihak Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) bakal mengelar wisuda online atau dengan sistem daring, pada Sabtu (31/10/2020) pukul 08.30. Ini adalah proses wisuda pertama sejak masa pandemi dan dikuti oleh 1397 wisudawan.

Ketua Pelaksana Wisuda, Dr Ninik Indawati MPd, mengatakan bahwa wisuda kali ini akan dilaksanakan secara online dengan aplikasi Zoom. “Wisuda online ini akan dilaksanakan pada 31 Oktober 2020. Sebanyak 17 program studi S1 dan 3 program studi pasca sarjana. Sehingga semuanya ada 20 program studi di Universitas Kanjuruhan Malang yang akan mengikuti wisuda secara online,” ujar Ninik.

Wisuda online ini akan dimukai pukul 08.30 hingga pukul 11.50 yang akan dibagi menjadi dua link Zoom. “Prosesnya ada tetap ada pembacaan hasil terbaik dari mahasiswa terbaik yang akan disampaikan oleh Pak Warek I, ada ucapan sambutan dan ucapan selamat oleh Pak Rektor Universitas Kanjuruhan Malang hingga pengukuhan secara simbolis. Semoga bisa berjalan lancar,” ujar Ninik, Jumat (30/10/2020) siang.

Sementara itu Dr Sudi Dul Aji M.Si Wakil Rektor I Unikama mengatakan bahwa setiap calon wisudawan sebelum prosesi wisuda dimulai harus sudah menyerahkan foto bertoga. “Untuk toga bisa diambil di kampus atau kita kirimkan. Sebelum pengukuhan mereka harus uploud foto bertoga. Saat wisuda memang ada dua link Zoom. Kapasitas keduanya bisa melihat prosesi yang sama,” ujar Dr Sudi.

Diceritakan oleh Dr Sudi, bahwa ini adalah wisuda pertama di masa pandemi. “Awalnya akan dilakukan April 2020. Namun karena ada pandemi, kita belum siap benar sambil mengantisipasi. Kita berharap masa pandemi bisa segera berakhir dan melakukan wisuda manual. Ternyata saat ini pandemi belum berakhir hingga kita putusakan gelar wisuda secara daring,” ujar Dr Sudi.

Jika dilakukan manual ada prosesi dimana wisudawan akan berjalan lalu diucapkan selamat oleh dekan kemudian menerima ijazah lalu ke rektor diberikan selamat kemudian turun kembali. Namun saat wisuda online ada perbedaan karena peserta wisudah hanya bisa mengikuti melalui link Zoom.

“Saat wisuda online, wisudawan dipanggil namanya, maka fotonya bertoga akan muncul bersamaan dengan foto rektor dan foto dekan nya. Proses wisuda ruangannya terpusat di Sarwakirti. Kita semua disana seperti proses wisuda biasanya hanya pesertanya yang di rumah masing-masing. Setelah proses wisuda, ijazah bisa diambil. Namun jika ingin dikirim, akan kita kirim. Wisuda daring ini tidak akan mengurangi bahagianya wisudawan. Merka pasti tetap bahagia dan bisa memahami karena saat ini memang masih dalam masa pendemi,” ijar Dr Sudi. (gie)

 

 

Lanjutkan Membaca

Kota Malang

Koperasi MNT Gelar Penanaman Seribu Pohon Cavendish

Diterbitkan

||

Penanaman pohon pisang jenis cavendish yang digelar Koperasi MNT di Jalan Pelabuhan Tanjung Perak Rt 07 Rw 01, Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Penanaman pohon pisang jenis cavendish yang digelar Koperasi MNT di Jalan Pelabuhan Tanjung Perak Rt 07 Rw 01, Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Memontum Kota Malang – Bertempat di Jalan Pelabuhan Tanjung Perak Rt 07 Rw 01, Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Koperasi Multidaya Nusantara Tiga (MNT), menggelar kegiatan penanaman pohon Pisang Cavendish, Selasa (27/10) tadi.

Kegiatan yang bertujuan untuk membantu peningkatan ketahanan pangan itu, juga bertujuan untuk mengajak masyarakat menggunakan lahan untuk ditanami pohon.

“Tujuan dari kegiatan ini, itu untuk mengajak dan mendorong masyarakat agar lebih banyak yang peduli dengan lahan kosong di sekitar. Sehingga, tanah tidak ditinggalkan sampai tandus atau jangan sampai dijadikan lahan pabrik,” ujar Ketua Lembaga Koperasi Multidaya Nusantara Tiga (MNT) Malang Raya, Sujadi.

Ditambahkan Sujadi, terkait pemilihan pohon pisang Cavendish sebagai bibit yang ditanam, itu dikarenakan nilai jual di pasar yang tinggi dan banyak yang menyukai pisang itu. Sementara dalam perawatannya, juga sangat mudah.

“Buah dari tanaman ini, kandungan vitaminnya banyak. Disamping itu, juga lebih tahan lama buahnya dan juga mudah menanamnya,” terangnya.

Masih menurut dirinya, untuk sistem tanam, yang digunakan adalah dengan menggunakan metode biosfer dan infus water. Di mana, tanaman fungsi dari biosfer tersebut adalah untuk menyimpan air dan air digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dari pohon pisang.

“Cara tersebut bisa dibilang cukup mudah. Apalagi, buat orang-orang yang malas untuk ngecek tanaman pisangnya. Kalau memasuki musim hujan, pupuk tersebut merubah zat unsur hara dan merubah zat asam hujan jadi oksigennya tumbuhan,” paparnya dengan detail.

Saat ini, tambahnya, masih ada sekitar 500 pohon yang siap ditanam. “Hasil dari penanaman ini, nanti hasil panennya kita beli. Kalau ada yang menanam 1000, akan kami ambil dan beli hasil panennya,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, yang turut hadir dan menanam pohon pisang, sangat menyambut baik langkah tersebut. Apalagi, gebrakan yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi lebih produktif.

“Alhamdulilah, sekarang sudah dicanangkan. Semoga delapan bulan lagi bisa segera panen,” ujar Wakil Wali Kota Malang. (mg1/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement

Terpopuler