<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Amstirdam &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/amstirdam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Nov 2019 11:17:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Amstirdam &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Inovasi BPP Amstirdam Berdayakan Petani Kopi</title>
		<link>https://memontum.com/inovasi-bpp-amstirdam-berdayakan-petani-kopi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Nov 2019 11:17:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Amstirdam]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Penyuluhan Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/99138-inovasi-bpp-amstirdam-berdayakan-petani-kopi</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) se-wilayah Amstirdam (Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, Sumbermanjing Wetan) berinovasi dengan para petani kopi wilayah setempat. Atas kerjasama dengan pihak swasta, itu dilakukan untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada para petani kopi. Jajang Slamet, koordinator Penyuluh BPP se-wilayah Amstirdam mengungkapkan, ada 5 konsep pemberdayaan yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Memontum Malang &#8211; Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) se-wilayah Amstirdam (Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, Sumbermanjing Wetan) berinovasi dengan para petani kopi wilayah setempat. Atas kerjasama dengan pihak swasta, itu dilakukan untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada para petani kopi.</p>
<p>Jajang Slamet, koordinator Penyuluh BPP se-wilayah Amstirdam mengungkapkan, ada 5 konsep pemberdayaan yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada para petani kopi wilayah Amstirdam.</p>
<p>Pertama, menggelar pelatihan sekolah lapang budidaya kopi yang baik dan benar dengan target 9 kuintal/hektar menjadi 1,5 ton/hektar untuk sekali panen. Selanjutnya, dengan sekolah lapang GMP yaitu paska panen kopi yang baik dan benar.</p>
<p>&#8220;Targetnya,petani mampu menciptakan kopi sesuai kualitas ekspor, &#8221; terang Jajang Senin (4/11/2019) siang.</p>
<p>Kemudian yang ketiga, tambah Jajang,membangun pola diversifikasi horizon dan vertikal yaitu suatu konsep atau pola dipersifikasi, mulai dari proses tanam pokok kopi, penaung kopi dengan tanaman yang memiliki nilai ekonomi seperti lada, vanili, cabe atau pisang, sehingga petani tak hanya menghandalkan hanya dari hasil kopi. Mereka juga ada nilai tambah dari hasil tanaman sampingan.</p>
<p>Selain itu juga sistem kebersamaan ekonomi, bagaimana petani memiliki rasa kebersamaan sesama petani dan pengurus kelompok.</p>
<p>Hal yang tak kalah penting yakni menguatkan kelembagaan dari yang sifatnya sosial menjadi agribusiness cluster yaitu suatu gabungan kelompok tani yang mampu menjual jasa dan barang kepada masyarakat, termasuk kepada peserta, baik dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Dengan penerapan model PMAB dalam strategi pembangunan dan pengembangan perkebunan kopi rakyat berkelanjutan,petani kopi se wilayah Amstirdam dikukuhkan sebagai anugerah inovasi teknologi tingkat Kabupaten malang yang diselenggarakan oleh BALIBANGDA tahun 2018.<strong> (sur/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">99138</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pasar Kopi Luwak Lesu, Petani Amstirdam Fokus Produksi Kopi Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/pasar-kopi-luwak-lesu-petani-amstirdam-fokus-produksi-kopi-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 13:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Amstirdam]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Luwak]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/99040-pasar-kopi-luwak-lesu-petani-amstirdam-fokus-produksi-kopi-tradisional</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Akibat lesunya kopi luwak khususnya di pasar lokal saat ini, para petani kopi di bilangan Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Sumbermanjing Wetan (Amstirdam) Kabupaten Malang lebih fokus memproduksi hasil panen mereka dengan cara tradisional. Jajang Slamet petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Dampit mengungkapkan, saat ini para petani kopi Amstirdam tidak lagi memproduksi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Akibat lesunya kopi luwak khususnya di pasar lokal saat ini, para petani kopi di bilangan Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Sumbermanjing Wetan (Amstirdam) Kabupaten Malang lebih fokus memproduksi hasil panen mereka dengan cara tradisional.</p>
<p>Jajang Slamet petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Dampit mengungkapkan, saat ini para petani kopi Amstirdam tidak lagi memproduksi kopi luwak.</p>
<div id="attachment_99041" style="width: 267px" class="wp-caption alignleft"><img aria-describedby="caption-attachment-99041" decoding="async" class="size-full wp-image-99041" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191103-WA0028.jpg?resize=257%2C144&#038;ssl=1" alt="Proses Produksi Kopi Luwak. (Sur)" width="257" height="144" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191103-WA0028.jpg?w=257&amp;ssl=1 257w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191103-WA0028.jpg?resize=200%2C112&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 257px) 100vw, 257px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-99041" class="wp-caption-text">Proses Produksi Kopi Luwak. (Sur)</p></div>
<p>Dikatakan Jajang, selain harganya tidak seimbang dengan biaya perawatan, para pecandu kopi di luar negeri kurang menyukai hasil produksi kopi dari binatang luwak peliharaan.</p>
<p>&#8220;Selain itu mereka punya semacam hak azazi kehewanan. Dari sisi sudut pandang mereka, hewan itu sudah tidak dihewankan. Dalam aturan perundang-undangan memang tidak boleh. Harusnya binatang itu secara alami dilepas dengan cara bebas,&#8221;urai Jajang beberapa waktu lalu.</p>
<p>Namun demikian, pihaknya tetap memberikan sample manakala ada permintaan produksi kopi luwak baik di pasar lokal maupun internasional.</p>
<p>Disisi lain,penyuluh pertanian asal Kabupaten Garut Jawa Barat ini berharap,manakala masih ada diantara petani kopi Amstirdam memproduksi hasil panen mereka dari jasa binatang luwak, harusnya dengan pagar yang tinggi dan luwak dilepas secara bebas dikawasan kebun kopi.</p>
<p>&#8220;Luwak itu harus diliarkan, nantinya bisa memilih jenis kopi yang disukai. Untuk diwilayah Amstirdam saat ini, produksi kopi luwak hanya terdapat di dua titik yaitu Desa Sumbertangkil dan Pujiharjo.Tetapi itu harus ada pembinaan,&#8221; ulas Jajang.</p>
<p>Dan untuk mengembangkan produksi kopi khususnya di wilayah Amstirdam,ada pola dengan sistem berkelanjutan, agar petani itu tetap eksis mempertahankan kopi Amstirdam yang ada di 4 Kecamatan bagaimana mereka ada nilai tambah dengan pola usaha yang ditersifikasi usaha yang terintergasi dengan tanaman lain dan kambing. Sehingga mereka mampu dan betul-betul mempertahankan.</p>
<p>&#8220;Karena ketika harga turun mereka dapat nilai tambah dari kambing maupun tanaman lain.Kambing itu dibuatkan kandang,kotorannya diproses menjadi pupuk organik. Sementara kencingnya dapat diproses menjadi pupuk air organik. Ada juga nilai tambah dari kulit kopi untuk mempercepat penggemukan kambing, &#8221; pungkasnya.</p>
<p>Ditempat yang sama, Riadi petani kopi asal Desa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo menjelaskan, sebelumnya, kopi luwak disinyalir sebagai salah satu kopi termahal di dunia.Tak heran, biji kopi yang satu ini menghasilkan rasa yang fruity dan berbeda dari jenis kopi lainnya. Selain itu harga jual juga jauh lebih mahal dibanding kopi bubuk biasa.</p>
<p>&#8220;Jika harga jual kopi bubuk bisa setiap 1 kg hanya sebesar Rp 30ribu, tetapi untuk jenis bubuk kopi luwak bisa tembus diangka Rp200ribu/kg. Tetapi dalam satu hari, 1 ekor luwak hanya bisa produksi sebanyak 200 gram kopi siap sedu. Jadi untuk menghasilkan 1 kg kopi bubuk harus memanfaatkan 5 ekor luwak, &#8221; terang Riadi.</p>
<p>Tambah Riadi, toh sebelumnya harga kopi sangat menjanjikan, tetapi pasaran saat ini sangat lesu.</p>
<p>Senada dengan ungkapan Eksa,seorang dokter umum yang saat ini bergabung dengan petani kopi Amstirdam. Menurut Eksa, lesunya harga kopi luwak dipasaran,karena otput kopi robusta itu untuk kopi susu.</p>
<p>&#8220;Peminat kopi itu mungkin lebih suka dengan produksi manual,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Lain halnya dengan Iman, petani kopi Sumberangkil yang hingga saat ini masih menggunakan produksi dengan jasa binatang luwak.</p>
<p>&#8220;Saat ini kami masih pelihara sebanyak 3 ekor luwak dengan hasil produksi sebanyak 6 ons/hari.Untuk makanan luwak, itu harus kopi pilihan, &#8221; terangnya.</p>
<p>Tambah dia, perbedaan mendasar dari kopi ini sebenarnya bukan dari bijinya, namun dari proses pemilihannya. Kalau jenis kopi lain dipilih oleh manusia, maka kopi yang satu ini dipilih oleh para luwak sendiri.<strong> (sur/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">99040</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
