<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Art Farming &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/art-farming/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2021 14:17:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Art Farming &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kunker Menteri KKP Saat Panen di Tambak MSF Situbondo</title>
		<link>https://memontum.com/kunker-menteri-kkp-saat-panen-di-tambak-msf-situbondo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2021 14:17:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Situbondo]]></category>
		<category><![CDATA[Art Farming]]></category>
		<category><![CDATA[berbasis]]></category>
		<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[CCTV]]></category>
		<category><![CDATA[Digitalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekspor]]></category>
		<category><![CDATA[industri 4.0]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Kelautan dan Perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Petambak]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=137021</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Situbondo &#8211; Situbondo merupakan program percontohan budidaya udang vaname dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melibatkan kaum milenial. Melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), tambak milenial atau Millenial Shrimp Farming (MSF) Situbondo ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo,&#160;Jawa Timur.&#160; Berdasarkan keterangan Kepala BPBAP Situbondo, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Situbondo</strong> &#8211; Situbondo merupakan program percontohan budidaya udang vaname dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melibatkan kaum milenial. Melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), tambak milenial atau Millenial Shrimp Farming (MSF) Situbondo ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo,&nbsp;Jawa Timur.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan keterangan Kepala BPBAP Situbondo, Nono Hartanto, target produksi tambak MSF di Situbondo ini sebanyak 1,5 ton per kolam atau 30 ton per hektare per siklus. Nono menjelaskan bahwa pihaknya berupaya mewujudkan usaha budidaya rakyat dalam bentuk klaster dengan skala ekonomi.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Minimal 60 unit kolam dengan 60 pembudidaya, dan hal itu diharapkan dapat menjamin peningkatan kesejahteraan pembudidaya dengan pendapatan Rp 5 juta per bulan,&#8221; jelas Nono, Selasa (16/03) saat panen tambak milenial yang dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, BPBAP Situbondo juga membentuk kelembagaan usaha profesional (corporate farming) dimana shareholdernya adalah rakyat&nbsp;atau pembudidaya, yang tergabung dalam Koperasi, BUMDES dan Swasta Profesional.&nbsp;</p>



<p>MSF&nbsp;Situbondo ini menerapkan inovasi teknologi budidaya kolam bundar dengan diameter 20 m yang dapat dibongkar pasang dengan padat tebar mulai dari 250 ekor per meter persegi.&nbsp;</p>



<p>Lebih lanjut, Nono menjelaskan bahwa MSF Situbondo berinovasi melalui digitalisasi tambak yang meliputi penyediaan CCTV, pengukur kualitas air, automatic feeder serta ruang data.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Inovasi yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berbasis industri 4.0, terdapat automatic feeder, water quality monitoring, nanobuble, oksigen murni yang dilengkapi aplikasi budidaya berbasis data atau smart farming,&#8221; terang Nono.</p>



<p>Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menegaskan bahwa konsep tambak milenial ini memiliki beberapa keunggulan dengan tetap&nbsp;memperhitungkan keberlanjutan lingkungan dan juga keberlanjutan usaha.</p>



<p><strong><a href="https://memontum.com/136637-2-ton-pupuk-urea-bersubsidi-dari-bondowoso-diamankan-di-tengah-jalan-berikut-pickup-oleh-polres-situbondo#ixzz6pHh6A1yn" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Baca Juga : 2 Ton Pupuk Urea Bersubsidi dari Bondowoso Diamankan di Tengah Jalan Berikut Pickup oleh Polres Situbondo</a></strong></p>



<p>&#8220;MSF ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya konstruksi lebih murah kalau dibandingkan dengan tambak konvensional, operasionalnya juga mudah, manajemen risikonya lebih rendah, sudah menerapkan digitalisasi data operasional, dan yang tak kalah penting, memperhitungkan keberlanjutan usaha dan lingkungan. Karena dalam satu klasternya harus memiliki unit pengolahan limbah,&nbsp;kolam tandon dan juga kolam sedimentasi,&#8221; urai Dirjen Slamet.</p>



<p>Program tambak milenial tersebut sejalan dengan program Menteri Trenggono, yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Diperlukan pengembangan perikanan budidaya yang didukung kajian ilmiah dan perencanaan bisnis yang matang.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Seperti kita ketahui, perikanan budidaya mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. KKP mendapat mandat untuk mengoptimalkan produksi perikanan budidaya, sebanding dengan potensi yang dimiliki,&#8221; ujar Menteri Trenggono.&nbsp;</p>



<p>Menteri Trenggono juga memaparkan bahwa KKP fokus pada produk ekspor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu udang, lobster dan rumput laut.&nbsp;</p>



<p>Menurutnya, komoditas udang dipilih menjadi prioritas berdasarkan data ekspor periode 2020. Diketahui, volume ekspor udang Indonesia mencapai 239.227 ton, dengan nilai US$2,04 miliar.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Diperlukan para kaum milenial yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi terutama dalam dunia industri 4.0. Kita ini punya potensi besar, sehingga perlu kita libatkan kaum milenial untuk mengenal dan terjun langsung dalam dunia akuakultur,&#8221; terang Trenggono.</p>



<p>Menanggapi hal tersebut, BPBAP Situbondo senantiasa berupaya mengoptimalkan produksi perikanan budidaya, serta bertekad untuk mencetak semakin banyak petambak milenial yang diharapkan akhirnya dapat terus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. <strong>(her/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137021</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Walikota Batu Apresiasi Sistem dan Konsep Art Farming</title>
		<link>https://memontum.com/walikota-batu-apresiasi-sistem-dan-konsep-art-farming</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2020 12:25:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Art Farming]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[Dewanti Rumpoko]]></category>
		<category><![CDATA[Sawah Rojo]]></category>
		<category><![CDATA[Wali Kota Batu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=127146</guid>

					<description><![CDATA[Libatkan Kaum Milenial Peduli Mengembangkan Pertanian Modern Memontum Kota Batu &#8211; Dinas Pertanian Kota Batu, membuat terobosan baru. Yakni, menggandeng kaum milenial untuk menampilkan konsep pertanian yang diharapkan dapat menjadi konsep baru dalam pengembangan di sektor pertanian. Sehingga, dapat lebih meningkatkan kesejahteraan petani dan membuat anak muda masa kini, lebih mencintai sektor pertanian yang dikelola [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Libatkan Kaum Milenial Peduli Mengembangkan Pertanian Modern</strong></h3>
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Dinas Pertanian Kota Batu, membuat terobosan baru. Yakni, menggandeng kaum milenial untuk menampilkan konsep pertanian yang diharapkan dapat menjadi konsep baru dalam pengembangan di sektor pertanian. Sehingga, dapat lebih meningkatkan kesejahteraan petani dan membuat anak muda masa kini, lebih mencintai sektor pertanian yang dikelola secara modern.</p>
<p>Bertempat di Sawah Rojo Desa Pesanggrahan, dilakukan Launching Art Farming, yang dihadiri langsung Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko dan beberapa Kepala OPD Pemkot Batu, Minggu (8/11) pagi. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Batu sangat mengapresiasi gagasan serta konsep art farming dan memberikan dukungan agar Dinas Pertanian, dapat memfasilitasi kaum milenial.</p>
<p>&#8220;Saya sangat bangga terhadap kaum milenial yang mampu berkolaborasi dengan petani senior. Ke depan, saya menginginkan agar Dinas Pertanian, bisa memfasilitasi kebutuhan dari konsep tersebut,&#8221; kata Dewanti bangga.</p>
<p>Penggagas konsep Art Farming, Herman Aga, menjelaskan kalau gagasan tersebut berdasarkan keprihatinan kaum milenial atas minimnya kepedulian kaum muda terhadap pertanian. Padahal, sektor ini merupakan dasar dari ketahanan pangan nasional. Serta, mirisnya pembangunan di Kota Batu, yang lahan pertanian produktifnya semakin berkurang karena kebutuhan pembangunan. &#8220;Konsep ini menjadi alternatif masyarakat untuk berekreasi namun tetap melestarikan alam,&#8221; katanya.</p>
<p>Ditambahkan, Sawah Rojo Art Farming sebagai manajemen pengelola lahan petani, yang menawarkan kepada masyarakat luas dan wisatawan untuk berkunjung ke Kota Batu dan mengikuti kegiatan edukasi serta pengalaman bercocok tanam (Farming Education &amp; Experiences). Mulai dari menanam bibit, merawat lahan hingga memanen hasil pertanian pada lahan hamparan seluas 4000 meter.</p>
<p>&#8220;Manajemen menerapkan system membership &#8216;Sewa Kelola Lahan&#8217; dengan berbagai paket ukuran lahan. Dari mulai luas 50 meter persegi dengan harga sewa Rp 3.000.000 dan luas 100 meter persegi dengan harga sewa Rp 5.000.000 dengan masa sewa selama tiga bulan. Selama masa sewa, sudah dihasilkan sayuran dan buah-buahan siap panen dan sepenuhnya adalah hak para member,&#8221; paparnya.</p>
<p><div id="attachment_127151" style="width: 860px" class="wp-caption alignnone"><a href="https://i0.wp.com/s3-id-jkt-1.kilatstorage.id/memontum/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?ssl=1"><img aria-describedby="caption-attachment-127151" decoding="async" class="size-full wp-image-127151" src="https://i0.wp.com/s3-id-jkt-1.kilatstorage.id/memontum/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?resize=740%2C392&#038;ssl=1" alt="Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, disela rangkaian kegiatan Art Farming." width="740" height="392" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?w=850&amp;ssl=1 850w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?resize=300%2C159&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?resize=768%2C407&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?resize=600%2C318&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/Walikota-Batu-Apresiasi-Sistem-dan-Konsep-Art-Farming-2.jpg?resize=200%2C106&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></a><p id="caption-attachment-127151" class="wp-caption-text">Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, disela rangkaian kegiatan Art Farming.</p></div></p>
<p>Dengan harga paket sewa kelola lahan itu, terangnya, member sudah mendapatkan fasilitas perawatan lahan selama tiga bulan, tersedia 27 lebih varian tanaman seperti varian tomat, varian cabe, varian wortel, varian jagung, paprika, kacang panjang, terong ungu, okra, padi merah, kubis, pacoi, kailan, andewi, slada krop dan masih banyak lagi. Kesemuanya itu, tentunya sangat menyehatkan tubuh bila dikonsumsi, dan khusus member juga berhak mendapatan free lunch ala desa setiap bulannya.</p>
<p>&#8220;Konsep sewa kelola lahan ini sebagai alternatif solusi bagi permasalahan petani saat ini. Di mana, saat panen raya tiba, bisa dipastikan harga hasil pertanian anjlok. Melalui program sawah rojo, diharapkan ada kepastian bayar di muka dari member yang menjadikan aktifitas berkebun sebagai rekreasi keluarga,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Masih menurut Herman, jika selama ini tidak adanya akses pasar langsung ke konsumen, alias banyak tengkulak yang mempermainkan harga sehingga berdampak ke petani, sekarang petani melalui Sawah Rojo Art Farming, bisa bernafas lega. Karena, sejumlah member yang hadir, tentunya akan membawa jejaring baru bagi petani. Sehingga, sangat dimungkinkan adanya peluang kerjasama lebih jauh lagi dengan petani seperti terbukanya akses pasar langsung hingga kerjasama strategis lainnya yang bersifat Business To Business (B2).</p>
<p>&#8220;Transfer knowledge juga akan terjadi secara alamiah, saling tukar pengalaman dan keilmuan antara para member dengan petani, baik dalam hal alih teknologi pertanian hingga kisah &#8211; kisah kehidupan lainnya,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Inspirasi dari para member yang mempunyai latar belakang profesi beragam, diharapkan menjadi motivasi bagi petani muda di desa untuk berkarya dimana dia dibesarkan di tanah kelahirannya sendiri. Sehingga, tidak perlu berkarir ke kota, sebab banyak potensi desa bila dioptimalkan akan menjadi pusat perekonomian yang luar biasa dan tetap ramah lingkungan. Di samping, menjaga konservasi lahan dan senantiasa mempertahankan Local Wisdom.</p>
<p>&#8220;Dengan adanya konsep yang kongkrit ini petani tidak akan lagi menjual lahannya untuk dijadikan perumahan dan praktis alih fungsi lahan tidak akan terjadi. Jika selama ini banyak petani yang mengeluh, bahwa untuk mengerjakan lahan seluas 1.000 meter persegi dengan cara konvensional dan hasilnya sangatlah tidak mencukupi. Namun, melalui program Sawah Rojo Art Farming, penghasilan petani bisa tumbuh signifikan,&#8221; terang Herman. <strong>(bir/adv/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127146</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
