<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>ats/aps &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/ats-aps/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jan 2025 09:54:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>ats/aps &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kadisdikbud Kota Malang Sebut Faktor Sosial dan Ketidaksinkronan Data Jadi Tantangan Penanganan ATS/APS</title>
		<link>https://memontum.com/kadisdikbud-kota-malang-sebut-faktor-sosial-dan-ketidaksinkronan-data-jadi-tantangan-penanganan-ats-aps</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jan 2025 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ats/aps]]></category>
		<category><![CDATA[faktor]]></category>
		<category><![CDATA[Kadisdikbud]]></category>
		<category><![CDATA[ketidaksinkronan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=218376</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Jumlah Anak Tidak Sekolah atau Anak Putus Sekolah (ATS/APS) yang sebelumnya tercatat sebanyak 5.534 pada periode September 2024 lalu, kini berhasil diturunkan menjadi 3.468 anak. Meski demikian, beragam tantangan masih dihadapi dalam mengatasi persoalan tersebut. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menyampaikan bahwa persoalan ATS/APS ini cukup kompleks. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Jumlah Anak Tidak Sekolah atau Anak Putus Sekolah (ATS/APS) yang sebelumnya tercatat sebanyak 5.534 pada periode September 2024 lalu, kini berhasil diturunkan menjadi 3.468 anak. Meski demikian, beragam tantangan masih dihadapi dalam mengatasi persoalan tersebut.</p>



<p>Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menyampaikan bahwa persoalan ATS/APS ini cukup kompleks. Terutama karena dipengaruhi oleh faktor sosial dan ketidaksinkronan data. &#8220;Banyak anak putus sekolah karena sudah menikah atau bekerja. Dengan penghasilan yang mereka dapatkan, mereka merasa tidak perlu melanjutkan pendidikan. Rata-rata, mereka berhenti setelah lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA,&#8221; kata Suwarjana, Rabu (15/01/2025) tadi.</p>



<p>Ditegaskannya, bahwa faktor kemiskinan atau kriminalitas bukan menjadi penyebab utama tingginya angka ATS di Kota Malang. Sebab, anak yang terlibat kriminal, masih tetap diperbolehkan untuk sekolah. Itu karena ada faktor lain yang menjadi penyebab, seperti faktor keluarga.</p>



<p>&#8220;Karena ada anak yang sudah menikah, terutama perempuan, tidak diizinkan suaminya untuk melanjutkan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Ini salah satu tantangan dari faktor keluarga,&#8221; ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kemudian, ketidaksinkronan data juga menjadi kendala dalam penanganan ATS/APS tersebut. Apalagi, data yang diterima merupakan data dari pusat atau Kementerian terkait.</p>



<p>&#8220;Data yang kami terima dari kementerian sering kali tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ada anak yang sudah tidak berada di wilayah kami, tapi masih tercatat sebagai ATS,” tambahnya.</p>



<p>Dalam mengatasi persoalan tersebut, Disdikbud Kota Malang juga berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Kementerian Agama (Kemenag) dan Cabang Dinas Pendidikan. Itu dilakukan untuk menjangkau anak-anak yang terdata di madrasah atau SMA.</p>



<p>&#8220;Selain itu kami dari Disdikbud juga mengerahkan tim untuk turun langsung ke masing-masing kelurahan, mereka mengidentifikasi dan mendata ATS yang belum terjangkau,&#8221; katanya.</p>



<p>Meski demikian, Suwarjana meyakini jika persoalan ATS/APS dapat terus menurun hingga zero. Apalagi, dalam penangananya juga didukung oleh semua pihak terkait.</p>



<p>&#8220;Kami optimis angka ini akan terus menurun dan kami juga siap jemput bola turun langsung ke masyarakat dan memastikan anak-anak mendapatkan hak pendidikan mereka,” imbuh Suwarjana. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218376</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penanganan ATS/APS di Kota Malang, Pj Wali Kota Iwan Ajak RT dan RW Berperan Aktif</title>
		<link>https://memontum.com/penanganan-ats-aps-di-kota-malang-pj-wali-kota-iwan-ajak-rt-dan-rw-berperan-aktif</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2024 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ats/aps]]></category>
		<category><![CDATA[berperan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216900</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Anak Tidak Sekolah (ATS) atau Anak Putus Sekolah (APS) menjadi prioritas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk segera ditangani. Karena itu, Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan, mengajak para Ketua RT dan RW di Kota Malang untuk berperan aktif dalam mendukung penanganan tersebut. Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Anak Tidak Sekolah (ATS) atau Anak Putus Sekolah (APS) menjadi prioritas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk segera ditangani. Karena itu, Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan, mengajak para Ketua RT dan RW di Kota Malang untuk berperan aktif dalam mendukung penanganan tersebut.</p>



<p>Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang itu, menyampaikan bahwa dari 5.600 ATS/APS saat ini sudah ada 800 anak yang kembali mengenyam pendidikan melalui program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). &#8220;Dari data awal pemerintah pusat, ada sekitar 5.600 ATS di Kota Malang. Kami sudah mendalami penyebabnya, mulai dari faktor ekonomi, memilih pendidikan pesantren hingga alasan pribadi seperti keengganan anak untuk sekolah. Alhamdulillah, progresnya sudah 800 anak kembali belajar melalui program paket A dan B di PKBM,” kata Pj Wali Kota Iwan, Senin (25/11/2024) tadi.</p>



<p>Dalam hal ini, juga dibutuhkan peran dari Ketua RT dan RW dalam mendukung percepatan program ATS/APS. Pj Wali Kota Iwan menegaskan agar para Ketua RT dan RW aktif mendata anak-anak yang putus sekolah di lingkungannya, serta memberikan pengarahan kepada orang tua dan anak agar mau kembali melanjutkan pendidikan.</p>



<p>“Kami melibatkan RT, RW, lurah dan camat untuk mendukung program ini. Beberapa camat sudah mendata dan berkoordinasi dengan PKBM. Gerakan jemput bola ini harus terus ditingkatkan agar percepatan penanganan ATS/APS dapat tercapai,” ucapnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Pj Wali Kota Iwan menargetkan jika ATS/APS ini dapat diselesaikan hingga akhir Desember 2024 ini. Namun, jika sampai dengan target waktu tersebut belum dapat terselesaikan sepenuhnya, Iwan membutuhkan tambahan waktu hingga Januari 2025.</p>



<p>“Saya berharap pada masa kepemimpinan saya, masalah ini selesai. Potensi untuk tuntas sangat besar karena PKBM siap menampung ATS tanpa pembiayaan tambahan dari pemerintah. Bahkan, beberapa kepala sekolah sudah menawarkan bantuan, seperti menampung 5-10 ATS di sekolah mereka,” kata Pj Wali Kota Iwan.</p>



<p>Diakhir, dirinya juga menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor tersebut optimis dapat mengembalikan lebih banyak anak ke bangku sekolah. Sehingga dapat memberikan peluang untuk masa depan yang lebih baik.</p>



<p>&#8220;Banyak harapan saya kepada pak RT dan RW ini karena lebih dekat dengan masyarakat. Sehingga saya harap dapat terus mendorong anak untuk terus bersekolah, dengan prestasi yang baik anak dapat mengangkat derajat kedua orangtuanya atau pun keluarganya,&#8221; imbuh Pj Wali Kota Iwan. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216900</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
