<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>bernilai &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/bernilai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 Feb 2025 07:20:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>bernilai &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>PALim Eco Friendly Kota Malang Mampu Ubah Minyak Jelantah Jadi Bernilai Rupiah</title>
		<link>https://memontum.com/palim-eco-friendly-kota-malang-mampu-ubah-minyak-jelantah-jadi-bernilai-rupiah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[friendly]]></category>
		<category><![CDATA[jelantah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[minyak]]></category>
		<category><![CDATA[rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=219105</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Minyak jelantah sering kali dianggap limbah tak berguna. Padahal, bila mampu diolah maka akan memiliki nilai ekonomis tinggi. Diantaranya, seperti sabun, lilin, hingga biodiesel. Hal inilah, yang mampu dioptimalkan PALim Eco Friendly, yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang. Penggagas PALim Eco Friendly, Hari Suprayitno, menyampaikan bahwa minyak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Minyak jelantah sering kali dianggap limbah tak berguna. Padahal, bila mampu diolah maka akan memiliki nilai ekonomis tinggi. Diantaranya, seperti sabun, lilin, hingga biodiesel. Hal inilah, yang mampu dioptimalkan PALim Eco Friendly, yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang.</p>



<p>Penggagas PALim Eco Friendly, Hari Suprayitno, menyampaikan bahwa minyak jelantah yang terkumpul di tempatnya tidak hanya berasal dari Kota Malang, namun juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan dan Pandaan. Dalam sehari, PALiM mampu mengumpulkan sebanyak 500 liter minyak jelantah dari berbagai sumber, mulai dari rumah tangga hingga restoran dan hotel. “Tidak ada batasan, berapa pun jumlahnya bisa kami ambil atau disetor ke sini. Minyak jelantah ini kemudian diekspor ke Belanda untuk diolah menjadi biodiesel. Kami bekerja sama dengan pabrik di wilayah Turen untuk proses ekspornya,” ujar Hari, Sabtu (08/02/2025) tadi.</p>



<p>Awalnya, usaha milik Hari bernama Siklus Hijau, sebelum akhirnya berganti nama menjadi PALiM, akronim dari Pahlawan Limbah. “Nama ini sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat untuk semakin peduli lingkungan dan mengelola limbah dengan tepat,” katanya.</p>



<p>Selain mengelola minyak jelantah, Hari juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat. Dirinya kerap mengadakan sosialisasi di berbagai komunitas, seperti PKK dan perkumpulan warga untuk mengajak masyarakat tidak membuang minyak bekas ke saluran air, bak cuci piring, atau sungai.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Minyak yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan penyumbatan saluran air dan mencemari sungai. Kalau minyak menggenang di permukaan air, sinar matahari terhalang masuk, sehingga ekosistem air terganggu. Ikan dan tumbuhan air bisa mati,” tuturnya.</p>



<p>Hari juga menekankan pentingnya memilih tempat pengepul minyak jelantah yang terpercaya, mengingat masih ada oknum yang mengolah minyak bekas menjadi minyak goreng curah yang berbahaya bagi kesehatan.</p>



<p>“Kami selalu menjelaskan ke masyarakat bahwa minyak jelantah ini bukan untuk dikonsumsi ulang, melainkan diolah menjadi produk bermanfaat seperti biodiesel. Kami ingin masyarakat lebih sadar akan dampak lingkungan dan kesehatan,” imbuhnya.</p>



<p>Bahkan ditempatnya, masyarakat bisa menjual minyak jelantah dengan harga Rp 5 ribu per liter. Tak hanya minyaknya, ampas gorengan pun bernilai rupiah karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain memberikan keuntungan ekonomi, program ini juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219105</post-id>	</item>
		<item>
		<title>UMKM di Kota Malang Mampu Ubah Limbah Jadi Bisnis Kreatif Bernilai Cuan</title>
		<link>https://memontum.com/umkm-di-kota-malang-mampu-ubah-limbah-jadi-bisnis-kreatif-bernilai-cuan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Feb 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=219016</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Sampah non logam yang sering dianggap tak bernilai, justru mampu diolah menjadi sumber keuntungan bagi Pemilik Yust Collection, Ernik Yustiana. Dirinya berhasil mengubah limbah seperti kertas, plastik, sisa kain dan kulit, menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi alias cuan. Sebelum berkecimpung di dunia daur ulang, Yustin adalah seorang pembatik tulis. Namun, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Sampah non logam yang sering dianggap tak bernilai, justru mampu diolah menjadi sumber keuntungan bagi Pemilik Yust Collection, Ernik Yustiana. Dirinya berhasil mengubah limbah seperti kertas, plastik, sisa kain dan kulit, menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi alias cuan.</p>



<p>Sebelum berkecimpung di dunia daur ulang, Yustin adalah seorang pembatik tulis. Namun, sejak konversi minyak tanah ke LPH pada 2015, usahanya mengalami penurunan. Tidak menyerah sampai di situ, dirinya melihat peluang baru dalam limbah non logam yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.</p>



<p>&#8220;Awalnya kami mencoba membuat aksesoris dan lampu belajar. Saat pandemi, kami bertahan dengan produksi masker dari kain perca. Setelahnya, kami mulai membuat tas daur ulang dengan merek Tsuy dan merambah dunia fesyen,&#8221; kata Yustin, Rabu (05/02/2025) tadi.</p>



<p>Selain menjadi sumber pendapatan, usaha tersebut menurutnya juga bertujuan membantu pengelolaan sampah dan memberdayakan warga sekitar. &#8220;Saya ingin menjadikan Yust Collection sebagai usaha ramah lingkungan dan pusat produksi daur ulang di Kota Malang,&#8221; tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sejak 2019, usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan dua lini usaha, yakni daur ulang dan batik tulis dengan merek ErnikMbo. Bersama para pembatik di Bunulrejo, Yustin juga mendirikan Komunitas Batik Kantil untuk melestarikan batik tulis.</p>



<p>&#8220;Untuk saat ini, kapasitas produksi Tsuy berkisar 30 hingga 50 produk perbulan, dengan harga mulai dari Rp 5 ribu untuk gantungan kunci hingga Rp 2 juta untuk kostum karnaval daur ulang. Sementara produksi ErnikMbo mencapai 5 hingga 10 lembar kain batik per bulan, didukung oleh sepuluh tenaga kerja tidak tetap,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Berkat kreativitasnya, Yustin sering mengikuti ajang peragaan busana dan karnaval. Dirinya juga memiliki sertifikat instruktur dan aktif mengajar ekstrakurikuler daur ulang serta membatik di beberapa sekolah.</p>



<p>Berbagai prestasi pun juga telah diraih Yustin. Di bidang daur ulang, karya kreatifnya meraih penghargaan sebagai Kostum Terunik (Kartini Run Jakarta Tahun 2019), Kostum Daur Ulang Terbaik (Jambore Sampah Nasional di Bali Tahun 2019) dan Juara III dalam Lomba Daur Ulang Kota Malang Tahun 2020. Yustin pun juga pernah menyabet Juara II Desain Batik di Malang pada tahun 2021 dan meningkat dengan meraih Juara I Desain Batik di Malang pada tahun 2022. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219016</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tingkatkan Pengolahan Sampah, Pemkot Malang Harapkan Jadi Produk Bernilai</title>
		<link>https://memontum.com/tingkatkan-pengolahan-sampah-pemkot-malang-harapkan-jadi-produk-bernilai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jan 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[harapkan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[pengolahan]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[tingkatkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=218489</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus memperkuat komitmen dalam menangani persoalan sampah. Dukungan anggaran pada 2025 dan kolaborasi dengan offtaker, menjadi langkah strategis untuk mengelola 500 ton sampah yang masuk setiap hari secara lebih optimal. Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa Pemkot Malang tidak hanya mengandalkan sistem sanitary landfill. Namun, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus memperkuat komitmen dalam menangani persoalan sampah. Dukungan anggaran pada 2025 dan kolaborasi dengan offtaker, menjadi langkah strategis untuk mengelola 500 ton sampah yang masuk setiap hari secara lebih optimal.</p>



<p>Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa Pemkot Malang tidak hanya mengandalkan sistem sanitary landfill. Namun, juga mengupayakan pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos, Refuse Derived Fuel (RDF) dan briket.</p>



<p>“Sanitary landfill ini hanya solusi sementara. Supaya sampah tidak tertimbun, bau dan memperpendek umur TPA, kami mengolahnya menjadi produk yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” kata Pj Wali Kota Iwan, Sabtu (18/01/2025) tadi.</p>



<p>Saat ini, ujarnya, masih ada sekitar 1,3 ton sampah di Kota Malang yang belum terkelola. Itu karena, disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang belum disiplin dalam membuang sampah.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Kami sedang mengidentifikasi masalah ini. Pengelolaan sampah melalui Local Service Delivery Improvement Program (LSDP) harus tuntas di skala kota, bukan parsial. Dari 500 ton sampah yang masuk, saat ini baru 450 ton yang menuju sanitary landfill dan 35 ton ke TPST,” jelasnya.</p>



<p>Senada dengan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Noer Rahman Widjaya, mengatakan bahwa anggaran pada 2025 akan difokuskan untuk penguraian sampah di pos landfill. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan retribusi dari pengelolaan sampah.</p>



<p>“Saat ini, 27,2 persen sampah sudah kami kelola, termasuk melalui sorting, komposting, dan bank sampah. Ke depan, hasil pengolahan seperti kompos akan dijadikan sumber retribusi baru melalui peraturan daerah,” ungkap Rahman.</p>



<p>Volume sampah di Kota Malang saat ini mencapai 780 ton per hari, dengan 560 ton di antaranya masuk ke TPA Supit Urang. Namun, pengelolaan sampah baru mencapai 50 ton per hari, atau sekitar 10 persen.</p>



<p>“Melalui program LSDP, kami menargetkan pengelolaan sampah di TPA bisa mencapai 250 ton per hari pada 2026. Dengan capaian ini, lebih dari 50 persen sampah di Kota Malang akan terkelola,” imbuh Rahman. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218489</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ciptakan Inovasi Brikomek, SMPN 30 Malang Ubah Limbah Organik Jadi Briket Bernilai Ekonomis</title>
		<link>https://memontum.com/ciptakan-inovasi-brikomek-smpn-30-malang-ubah-limbah-organik-jadi-briket-bernilai-ekonomis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Nov 2024 09:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[briket]]></category>
		<category><![CDATA[brikomek,]]></category>
		<category><![CDATA[ciptakan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomis]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216449</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; SMP Negeri 30 Kota Malang berinovasi menciptakan Briket Kompos Ekonomi (Brikomek) berbasis screw press. Hal itu dilakukan, karena melihat adanya penumpukan sampah di lingkungan sekolah. Inovasi tersebut, merupakan gagasan dari salah satu guru di SMPN 30 Kota Malang, yakni Supriadi. Itu dikembangkan bersama tim sekolah sebagai solusi atas limbah organik yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; SMP Negeri 30 Kota Malang berinovasi menciptakan Briket Kompos Ekonomi (Brikomek) berbasis screw press. Hal itu dilakukan, karena melihat adanya penumpukan sampah di lingkungan sekolah.</p>



<p>Inovasi tersebut, merupakan gagasan dari salah satu guru di SMPN 30 Kota Malang, yakni Supriadi. Itu dikembangkan bersama tim sekolah sebagai solusi atas limbah organik yang dihasilkan setiap hari.</p>



<p>Guru SMPN 30 Kota Malang, Utari Dian Palupi, menyampaikan bahwa Brikomek tersebut dihasilkan dari pengolahan sampah organik. Yakni daun dan sekam, yang diubah menjadi briket kompos ramah lingkungan.</p>



<p>&#8220;Bahan-bahan untuk membuat Brikomek ini hampir semuanya gratis karena berasal dari limbah organik. Satu-satunya bahan yang perlu dibeli hanyalah tepung kanji sebagai perekat,&#8221; kata Utari, Selasa (12/11/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dalam prosesnya, kompos dicampur dengan tepung kanji dengan menggunakan perbandingan tertentu. Kemudian, dicetak dengan alat pengepres yang telah dimodifikasi.</p>



<p>&#8220;Screw press ini kami buat sendiri dan telah diatur agar memiliki daya tekan yang maksimal dan stabil. Setelah dicetak, briket dijemur selama lima hari di bawah sinar matahari,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Inovasi Brikomek tidak hanya menjadi solusi pengolahan sampah organik yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga mengurangi polusi udara yang diakibatkan metode pembakaran sampah. Sebelumnya, sampah yang tidak terolah di sekolah kerap dibakar, namun metode ini menimbulkan polusi dan merusak lingkungan sekitar.</p>



<p>Selain sebagai langkah mengurangi sampah, Brikomek kini dijadikan media pembelajaran di SMPN 30 Kota Malang. Maka dari itu, siswa dapat memahami langsung bagaimana mengolah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomis yang dapat menjadi bahan bakar alternatif.</p>



<p>&#8220;Melalui Brikomek, kami berharap siswa turut belajar tentang pentingnya inovasi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan bagaimana memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat,&#8221; imbuh Utari. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216449</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rubah Kawasan Kayutangan Heritage Jadi Wisata Bernilai Tinggi dan Ikon Kota Malang, Sutiaji-Edi Berhasil Raih PPD</title>
		<link>https://memontum.com/rubah-kawasan-kayutangan-heritage-jadi-wisata-bernilai-tinggi-dan-ikon-kota-malang-sutiaji-edi-berhasil-raih-ppd</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Sep 2023 05:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[berhasil]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[heritage,]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kayutangan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[sutiaji-edi]]></category>
		<category><![CDATA[tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=198064</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menjadi salah satu kawasan yang dahulunya sebagai kampung kumuh, kini Kampung Wisata Kayutangan Heritage di Jalan Basuki Rahmat, Kecamatan Klojen, Kota Malang, telah &#8216;disulap&#8217; menjadi salah satu tempat wisata ikonik di Kota Malang, yang mampu menarik perhatian banyak pengunjung. Kebijakan dan konsistensi dalam pembenahan dan penataan kawasan tersebut, tidak lepas dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menjadi salah satu kawasan yang dahulunya sebagai kampung kumuh, kini Kampung Wisata Kayutangan Heritage di Jalan Basuki Rahmat, Kecamatan Klojen, Kota Malang, telah &#8216;disulap&#8217; menjadi salah satu tempat wisata ikonik di Kota Malang, yang mampu menarik perhatian banyak pengunjung.</p>



<p>Kebijakan dan konsistensi dalam pembenahan dan penataan kawasan tersebut, tidak lepas dari peran serta masyarakat, stakeholder hingga jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Malang. Dan sudah pasti, pemangku kebijakan Kota Malang dalam hal ini Wali Kota Malang, Sutiaji dan Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko.</p>



<p>Dengan beragam inovasi yang dihadirkan, tentu telah memberikan kebermanfaatan bagi siapa saja. Sehingga, tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Penataan Kampung Kayutangan Heritage yang telah dimulai sejak tahun 2018 itu, kini terus bertumbuh dengan sangat baik. Bahkan atas penataan tersebut, menghantarkan Pemerintah Kota Malang mendapatkan suatu penghargaan Perencanaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2023, sebagai Terbaik II atau peringkat Ke-2 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim).</p>



<p>“Tentunya semua sangat bersyukur mendapatkan penghargaan tersebut. Karena sejak menjadi kawasan heritage, Kayutangan telah menjadi wisata favorit yang menarik perhatian wisatawan. Tentu dengan pembangunan tersebut, nantinya diharapkan dapat mendongkrak pariwisata di Kota Malang. Arah pembangunan ini sudah tepat dan buktinya bisa dilihat sendiri, Kayutangan Heritage juga telah masuk sebagai Juara V Anugerah Daerah Wisata Indonesia (ADWI) 2023,” kata Wali Kota Sutiaji.</p>



<p>Tidak hanya itu, menurutnya konsep penataan Kayutangan juga sejalan dengan tujuan yang dimaksud di dalam PPD. Karena yang pasti, juga telah berhasil memberikan banyak dampak positif yang memberikan stimulus bagi wilayah dan kawasan sekitar. Mulai dari konsep, tahapan dan penyusunan RKPD hingga inovasi kawasan Kayutangan secara detail, terutama terkait output dan outcome, yang dihasilkan dari perubahan kawasan Kayutangan menjadi kawasan heritage.</p>



<p>“Dengan perubahan kawasan ini, tentu insyaallah akan memberikan banyak dampak positif. Baik secara sosial, ekonomi hingga semua terukur dan positif bagi wilayah tersebut. Sehingga, mampu memenuhi kualifikasi penilaian,&#8221; ungkapnya.</p>



<p><strong>Baca Juga :</strong></p>





<p>Lebih lanjut Wali Kota Sutiaji menyebut, jika penataan kawasan Kayutangan dan sekitarnya akan terus dilakukan. Salah satunya, dengan menerapkan konsep inklusif dan berkelanjutan. Yaitu mulai dari Kawasan Balai Kota Malang, Alun-Alun Merdeka Kota Malang dan Kampung Wisata Kayutangan Heritage.</p>



<p>“Jadi, diharapkan nantinya wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, itu akan mengeksplor seluruh wilayah di Kota Malang,&#8221; tambah Wali Kota Sutiaji.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang, Dwi Rahayu, menyampaikan bahwa raihan penghargaan PPD tersebut tidak lepas dari kebijakan dan inovasi mengenai Kawasan Kayutangan Heritage. Sebab, Kayutangan merupakan bagian kawasan yang strategis dalam sosial dan budaya.</p>



<p>“Sebagaimana tertuang di dalam Perda No 5 tahun 2010, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) tahun 2005-2025. Kemudian, masuk juga dalam indikasi program wisata budaya, juga ada program Kotaku (penanganan kawasan kumuh pusat kota). Jadi, Kayutangan itu konsep sebuah inisiatif yang multi dimensi,” ujar Dwi, dalam sambungan seluler kepada Memontim.com, Rabu (13/09/2023) tadi.</p>



<p>Kemudian, ditambahkannya, jika Malang City Heritage juga menjadi program prioritas Wali Kota dalam RPJMD Kota Malang. Sehingga, mulai penegakan regulasi cagar budaya, pengembangan destinasi dan paket wisata, pemberdayaan masyarakat, penguatan peran stakeholder dan penguatan edukasi.</p>



<p>“Di dalam Perda No 1 tahun 2019, sebagaimana sudah diubah menjadi Perda No 5 tahun 2021 mengenai RPJMD Kota Malang Tahun 2018-2023, bahwa aksi pengembangan kawasan mulai tahun 2020-2023 dengan pendekatan kolaboratif dilaksanakan untuk tuntas. Sehingga, menjadi komitmen Kota Malang dan peran hexa helix diperkuat. Pak Wali Kota selalu bilang bahwa kita bukan hanya pentahelix, namun juga hexa helix. Entah dari akademisi, masyarakat, media, perbankan, pengusaha dan sebagainya,” ucapnya.</p>



<p>Dalam pembangunan zona penataan di kawasan tersebut, paparnya, terbagi menjadi tiga zona. Yakni zona satu, yang berada di depan Gedung PLN Kota Malang, zona dua di Gedung Menara Kembar, Rajabali dan zona tiga di wilayah patung Chairil Anwar, Kota Malang.</p>



<p>“Untuk zona satu dan dua, kita memakai dana APBN. Kemudian zona tiga memakai dana APBD. Dalam pembangunan tiga zona, itu juga tidak hanya di koridor tetapi juga di dalam kampungnya. Mungkin bisa dilihat sebelum dan sesudahnya, mulai dari penataan fisik di pedestriannya dahulu seperti apa dan sekarang juga seperti apa. Kemudian penataan jalur sirkulasi kampung yang dahulu kumuh, sekarang sudah bagus. Mulai pinggir sungai, jalan kampung tertata, rapi dan bagus,” tuturnya.</p>



<p>Sehingga, menurutnya dalam hal ini Kampung Kayutangan Heritage telah terjadi transformasi dari kampung menuju destinasi wisata heritage dan kekinian. Sehingga, kunjungan wisata terus meningkat dan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang.</p>



<p>“Kalau kita lihat fisik kawasannya koridor dan kampung itu sudah bagus. Jumlah event meningkat, UMKM makin banyak, wisatawan banyak, peningkatan nilai investasi, peningkatan nilai kawasan, kenaikan NJOP cukup signifikan, expos kawasan juga meningkat dan tentunya terjadi penurunan kemiskinan perkotaan,&nbsp; peningkatan PAD sektor hotel, resto, hiburan serta turut andil dalam penurunan pengangguran terbuka, walaupun belum signifikan tapi punya andil,” jelasnya.</p>



<p>Diakhir, Dwi menambahkan jika keberlanjutan dari Kayutangan Heritage tersebut, nantinya diharapkan bisa berlanjut sampai pada Koridor Stasiun Kota Malang, Balai Kota Malang, Jalan Kahuripan, Jalan Majapahit, Jalan Zainul Arifin (Pecinan) dan Jalan Kauman. <strong>(hms/rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198064</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tiga Batu Bernilai Sejarah Ditemukan di Kawasan Revitalisasi Alun-alun Kota Malang</title>
		<link>https://memontum.com/tiga-batu-bernilai-sejarah-ditemukan-di-kawasan-revitalisasi-alun-alun-kota-malang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jul 2023 09:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[ALun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[Batu]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[Ditemukan]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Revitalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[tiga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=192492</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Revitalisasi Alun-alun Kota Malang berhasil menemukan tiga batu yang dimungkinkan bernilai sejarah. Ketiga batu jenis andesit dengan ukiran tulisan berbeda itu, berhasil diketemukan di sekitar taman Alun-alun. Penanggung Jawab Proyek, Irfan, menyampaikan jika ketiga batu tersebut sebelumnya memang telah diletakkan di permukaan tanah berdekatan dengan tempat duduk yang berada di Alun-alun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Revitalisasi Alun-alun Kota Malang berhasil menemukan tiga batu yang dimungkinkan bernilai sejarah. Ketiga batu jenis andesit dengan ukiran tulisan berbeda itu, berhasil diketemukan di sekitar taman Alun-alun.</p>



<p>Penanggung Jawab Proyek, Irfan, menyampaikan jika ketiga batu tersebut sebelumnya memang telah diletakkan di permukaan tanah berdekatan dengan tempat duduk yang berada di Alun-alun Tugu Kota Malang. &#8220;Itu (batu, red) diletakkan pada tahun 2016, dari peninggalan warga Belanda. Saat proses revitalisasi Alun-alun Tugu ini, kita pindahkan sementara. Tetapi nanti akan kita kembalikan di posisi semula. Karena, batu ini dianggap bersejarah,” kata Irfan, di Alun-alun Tugu Kota Malang, Rabu (05/07/2023) siang.</p>



<p>Dari pantauan Memontum.com di lapangan, tiga batu tersebut bertuliskan ‘Malang in Memory of’ kemudian ‘Oosterhuis Bapak Tonko’ dan ‘Johan Jan.’ Dari ketiga tulisan di batu tersebut, dimungkinkan memiliki makna tersendiri. Sehingga, harus dilakukan pengamanan.</p>



<p>“Ini tetap kita amankan. Karena, saran dari sejarawan itu harus tetap dirawat,” lanjutnya.</p>



<p>Sementara itu, Pemerhati Sejarah, Tjahjana Indra Kusuma, menyampaikan jika batu tersebut merupakan sebuah bangku kenangan yang dirancang ergonomis dan memiliki permukaan yang tidak menggenang saat hujan turun. Namun lebih dari itu, batu tersebut memiliki makna yang lebih mendalam dalam sejarah kota Malang.</p>



<p>“Pada dasarnya, batu ini melambangkan sumbu imajiner Kota Malang. Dari balkon tempatnya berada, kita bisa melihat deretan tugu yang mengarah ke Jalan Suropati. Seperti halnya di Yogyakarta dengan Keraton, Tugu dan Merapi. Di Kota Malang, ada sumbu imajiner dari balkon Balai Kota ini. Dua bangunan setinggi 12 meter, yang dahulunya menjadi bangunan militer dan bangunan pemerintahan, dirancang secara strategis mengikuti sumbu imajiner ini. Jadi, ketika seorang Wali Kota memandang ke arah sana, sebelum adanya tugu, ada air mancur,&#8221; jelas Tjahjana.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selain itu, menurutnya juga terdapat korelasi antara tiga batu tersebut dengan sejarah keluarga Tonko Oosterhuis, Yohan Oosterhuis dan Yan Oosterhuis. Karena, keluarga tersebut dianggap memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Kota Malang.</p>



<p>“Salah satu anak mereka, Johan Oosterhuis, meninggal pada Juni 1945 di Lapas Lowokwaru. Johan ditangkap oleh tentara Jepang, karena dianggap sebagai mata-mata karena ia sering menggunakan senter pada malam hari ketika ada pesawat terbang,” katanya.</p>



<p>Terlebih, Keluarga Oosterhuis awalnya merupakan tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) (Tentara Kerajaan Hindia Belanda, red) yang bertugas di berbagai tempat di Indonesia. Seperti Kepulauan Alor Kalabahi, Waingapu, Cimahi, Surabaya, dan Samarinda.</p>



<p>“Tonko Oosterhuis sendiri sangat mencintai Hindia Belanda dan bertugas di Batalyon Infanteri 8 Gerampal di Malang. Namun, saat invasi Jepang terjadi pada tahun 1942, Tonko ditahan di Surabaya. Istrinya dan anak-anaknya dikumpulkan di interniran di Jalan Welirang Straat 43. Istri Tonko berasal dari Timor Timur dan mereka menikah saat Tonko bertugas di Waingapu, Kalabahi. Ada tanda kelahiran Kalabahi 1923 terukir di logamnya,” tuturnya.</p>



<p>Karena itu, imbuhnya, keluarga besar dari Tonko Oosterhius meminta izin kepada dinas terkait untuk memasang bangku tersebut di area publik, pada bulan Februari 2016 lalu. Itu semua juga terekam sejarahnya dalam sosial mesia arsitek pembuat ketiga batu tersebut. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">192492</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
