<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Cacing &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/cacing/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jun 2025 08:01:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Cacing &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Dispangtan Kota Malang Temukan 583 Kasus Cacing Hati pada Hewan Kurban Idul Adha 2025</title>
		<link>https://memontum.com/dispangtan-kota-malang-temukan-583-kasus-cacing-hati-pada-hewan-kurban-idul-adha-2025</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2025 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Cacing]]></category>
		<category><![CDATA[dispangtan]]></category>
		<category><![CDATA[Kurban]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[temukan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=222805</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang menemukan sejumlah penyakit pada hewan kurban selama pemeriksaan post mortem. Salah satu temuan yang paling dominan, adalah penyakit cacing hati atau fasioliasis yang ditemukan pada 583 ekor hewan kurban. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispangtan Kota Malang, Anton Pramujiono, menyampaikan bahwa pemeriksaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang menemukan sejumlah penyakit pada hewan kurban selama pemeriksaan post mortem. Salah satu temuan yang paling dominan, adalah penyakit cacing hati atau fasioliasis yang ditemukan pada 583 ekor hewan kurban.</p>



<p>Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispangtan Kota Malang, Anton Pramujiono, menyampaikan bahwa pemeriksaan itu telah dilakukan sejak Jumat (06/06/2025) hingga Minggu (08/06/2025), dengan menyasar 332 titik lokasi penyembelihan hewan kurban. &#8220;Dari hasil pemeriksaan post mortem sementara, ditemukan 583 kasus cacing hati, baik pada sapi maupun kambing. Selain itu, kami juga menemukan 213 kasus pneumokoniosis atau radang paru-paru,” kata Anton, Senin (09/06/2025) tadi.</p>



<p>Ditambahkannya, bahwa di tahun ini terjadi peningkatan jumlah dan jenis kasus, dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan itu, disebabkan karena pemeriksaan yang semakin detail, terutama pada bagian jeroan seperti hati, paru-paru, jantung, rumen dan organ dalam lainnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Tahun ini kami juga kembali menemukan paramphistomum, yaitu cacing yang ada di rumen, sebanyak tujuh kasus pada sapi,” jelasnya.</p>



<p>Sejauh ini, paparnya, jumlah hewan kurban yang telah diperiksa meliputi 1.227 ekor sapi, 4.027 ekor kambing dan 4.077 ekor domba. Angka tersebut, masih bersifat sementara karena tim lapangan, menurutnya masih melanjutkan pemeriksaan kembali pada hari ini.</p>



<p>&#8220;Data hasil pemeriksaan akan kami sinkronkan antara laporan manual petugas dan data yang dihimpun melalui Google Form dari panitia masjid agar hasilnya valid dan akurat,” imbuh Anton. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">222805</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Karang Taruna Babat Jerawat Sukses Kelola Budidaya Cacing</title>
		<link>https://memontum.com/karang-taruna-babat-jerawat-sukses-kelola-budidaya-cacing</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2018 15:53:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cacing]]></category>
		<category><![CDATA[Karang Taruna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=62522</guid>

					<description><![CDATA[* Hasil Studi Banding di Malang &#160; Memontum Surabaya &#8211; Karang Taruna di wilayah RT 5 RW XI, Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal Surabaya sukses mengelola usaha budidaya cacing. Bahkan mampu mendatangkan rezeki tersendiri bagi kaum muda yang mengelolanya. Usaha ini sendiri berangkat dari kegemaran memancing. Ketika hendak memancing, diantara mereka kebingungan mencari cacing sebagai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>* Hasil Studi Banding di Malang</strong></h2>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Memontum Surabaya</strong> &#8211;  Karang Taruna di wilayah RT 5 RW XI, Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal Surabaya sukses mengelola usaha budidaya cacing. Bahkan mampu mendatangkan rezeki tersendiri bagi kaum muda yang mengelolanya.</p>
<p>Usaha ini sendiri berangkat dari kegemaran memancing. Ketika hendak memancing, diantara mereka kebingungan mencari cacing sebagai umpan. “Apabila hendak beli, lokasi penjualan cacing jauh,” kata Rizki, salah satu dari anggota Karang Taruna tersebut.</p>
<p>Seketika itu muncul ide budidaya cacing, lantas direalisasikan. Setelah berjalan, mulai pendatangkan keuntungan. “Sebelum memulai budidaya, kami sempat melakukan studi banding ke Malang untuk tahu cara budidaya cacing yang baik serta mencari tempat pemasaran,” sambung Rizki, Kamis (1/11).</p>
<p>Selain studi banding mereka juga mencari tahu mengenai budidaya cacing lewat internet kemudian dipraktekkan sendiri sejak Mei 2018. “Kegagalan produksi sempat kami alami hingga dua kali. “Ya dulu sempat gagal dua kali, kemudian ada teman saya yang paham bagaimana cara budidaya yang benar hingga akhirnya berhasil,” cetusnya.</p>
<p>Rizki juga menjelaskan, budidaya cacing ini memang susah-susah gampang. Ditambah dengan menjaga suhu ruangan karena jika suhu ruangan lebih dari 30 derajat celcius maka cacing ini tidak akan bisa jadi. Dan untuk makanannya pun harus menggunakan kotoran sapi dan juga ampas tahu agar cacing nantinya berkambang biak dengan baik.</p>
<p>“Sedikit saja lupa memberi makan dan apalagi jika musim kemarau cacing ini bisa-bisa gagal untuk diproduksi,” paparnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">62522</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
