<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>corona &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/corona/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jul 2023 15:54:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>corona &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>New Normal Life, Hidup Bersama Corona dan Virus Lainnya, Beban Ganda Penyakit</title>
		<link>https://memontum.com/new-normal-life-hidup-bersama-corona-dan-virus-lainnnya-beban-ganda-penyakit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2020 17:09:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[bersama]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[ganda]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten]]></category>
		<category><![CDATA[Lainnya.....????]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[normal]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/115240-new-normal-life-hidup-bersama-corona-dan-virus-lainnnya-beban-ganda-penyakit</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Pemerintah RI mulai menggulirkan tahapan new normal life, pasca PSBB di beberapa daerah, dalam menghadapi pendemi covid19. Ini dilakukan, karena hingga saat ini belum ada obat farmasi atau medis, untuk penyakit covid. Berikut ini analisa DR M Yusuf Alumudi yang disampaikan ke Januar Triwahyudi, wartawan memontum.com. SARS CoV 2 atau yang dikenal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Pemerintah RI mulai menggulirkan tahapan new normal life, pasca PSBB di beberapa daerah, dalam menghadapi pendemi covid19. Ini dilakukan, karena hingga saat ini belum ada obat farmasi atau medis, untuk penyakit covid. Berikut ini analisa DR M Yusuf Alumudi yang disampaikan ke Januar Triwahyudi, wartawan memontum.com.</p>
<p>SARS CoV 2 atau yang dikenal dengan Covid 19, telah menginfeksi lebih dari 5 juta orang di lebih dari 120 negara, orang yang meninggal lebih dari 100 ribu orang dan lebih dari 1 juta orang sembuh dari Covid 19. Di Indonesia, Covid 19 telah menginfeksi lebih dari 20 ribu orang, lebih dari 1000 orang meninggal dan lebih dari 6000 orang sembuh dari Covid 19.</p>
<p>Lockdown merupakan salah satu kebijakan yang digunakan untuk memutus rantai penularan dan menurunkan kasus infeksi Covid 19. Ini disebabkan Covid 19 pola penularan memiliki kesamaan dengan influenza, menginfeksi antar manusia sangat cepat. Sehingga mengurangi aktifitas manusia sangat diperlukan dan diharapkan dapat menghentikan penularan Covid 19 di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Beberapa negara di dunia telah membuka Lockdown, seiring terjadinya penurunan kasus Covid 19 pada orang, memulai sebuah kehidupan yang baru. Ketika Lockdown diterapkan, setiap orang wajib beraktifitas dari rumah termasuk bekerja, menggunakan teknologi informasi dalam berkomunikasi, bekerja dan menjalankan kehidupan sehari-hari, Negara memberikan berbagai fasilitas termasuk biaya kehidupan terhadap tiap penduduk yang terdampak Covid 19.</p>
<p>Februari 2020, Indonesia mengumumkan Covid 19 telah terjadi di Indonesia, menerapkan PSBB atau yang dikenal dengan Pembatasan Sosial Skala Besar. Tujuan dari PSBB adalah memutus rantai penularan Covid 19 dan jumlah infeksi Covid 19 pada orang/penduduk di Indonesia. PSBB berbeda dengan Lockdown, PSBB masih memungkinkan orang untuk melakukan aktifitas di luar rumah dan memungkinkan untuk terinfeksi oleh Covid 19 dan menambah jumlah kasus orang yang terinfeksi Covid 19.</p>
<p>Per tanggal 26 Mei 2020, Indonesia mulai mewacanakan New Normal atau memulai sebuah tatanan baru kehidupan. Adanya New Normal diharapkan ekonomi bangsa kembali berjalan normal dan aktifitas kehidupan berjalan seperti semula, termasuk sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah, Industri, pabrik, perkantoran bisa menjalankan aktifitasnya kembali dalam menopang kehidupan masyarakat dan negara.</p>
<p>Saat ini, Indonesia masih mengalami pertumbuhan kasus infeksi Covid 19 dan belum ada tanda-tanda terjadinya penurunan kasus infeksi Covid 19, termasuk kasus kematian masih bertambah. Kabar baik adalah, telah diadakan uji cepat terhadap Covid 19, hasil uji cepat menunjukkan hasil reaktif terhadap Covid 19. Hasil uji cepat ini memberikan makna secara imunologi, bahwa sistem kekebalan tubuh memberikan respon terhadap benda asing, dalam hal ini adalah Covid 19.</p>
<p>Semakin banyak yang memberikan hasil reaktif terhadap Covid 19, memberikan makna bahwa komunitas atau masyarakat, telah terdapat respon dari tubuh terhadap benda asing/agen infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Meskipun observasi atau kajian lebih dalam dibutuhkan, uji cepat reaktif dan hasil PCR positif, orang tersebut memiliki gejala klinis yang ringan atau parah, dari aspek virology dibutuhkan kajian Covid 19 termasuk tipe yang virulensi/keganasannya tinggi atau rendah.</p>
<p>Penerapan New Normal Life membutuhkan syarat ketat dan masyarakat harus patuh terhadap persyaratan tersebut. Jika melanggar atau tidak mematuhi persyaratan tersebut, kemungkinan akan terinfeksi oleh Covid 19 bisa terjadi. Persyaratan tersebut antara lain : pembatasan penumpang pada moda transportasi, pemakaian masker ketika keluar rumah, penerapan protokol kesehatan pada fasilitas umum, tempat ibadah, terminal, bandara, stasiun kereta, Pusat Perbelanjaan, Pasar Tradisional, rumah sakit dan puskesmas maupun pada tempat-tempat yang berpotensi terjadi penularan agen infeksi termasuk Covid 19.</p>
<p>Ini disebabkan Indonesia memiliki beban ganda penyakit yaitu penyakit infeksi dan non infeksi, sehingga orang bisa memiliki lebih dari 1 penyakit dan menjadi pemberat ketika terinfeksi oleh Covid 19.</p>
<p>Dunia pernah mengalami pandemi, mulai dari spanish flu 1918, Flu Asia 1950- an, Flu Burung dan H1N1 pandemik, SARS, Mers CoV dan saat ini (2019-2020), SARS-CoV 2 atau yang lebih dikenal dengan covid 19. Di awal terjadinya kasus Covid 19, banyak sekali ditemukan kematian yg disebabkannya. Seiring dengan waktu, kematian semakin berkurang. Banyak ditemukan orang tanpa gejala (OTG) namun positif covid 19.</p>
<p>Fenomena ini memberikan sinyal, bahwa sistem kekebalan tubuh pada diri kita mulai beradaptasi dan mengenali covid 19, bukan benda asing lagi seperti di awal terjadinya kasus covid 19. Covid 19 saat ini belum ada obatnya. Hampir sama dengan virus-virus lain seperti HIV, Cytomegalovirus, Rubella. Salah satu bentuk pertahanan terhadap serangan virus adalah meningkatkan kekebalan tubuh. Nenek moyang kita sudah menerapkan budaya minum jamu maupun empon-empon. Kandungan jamu dan empon-empon mampu menjadi imunomodulator terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga memiliki respon yang baik ketika ada benda asing/virus yang masuk ke dalam tubuh.</p>
<p>Budaya nenek moyang yang kedua adalah ilmu silat yang didampingi dengan teknik pernafasan. Berdasarkan hasil penelitian kekuatan fisik dan psikologi yang baik, memicu timbulnya interleukin pro inflamasi, yang berperan cukup penting dalam menangkal infeksi penyakit, khususnya virus. <strong>(*)</strong></p>
<p><strong>Penulis/editor :</strong></p>
<p><em>Januar Triwahyudi</em></p>
<p><strong>Narasumber :</strong></p>
<p><em>DR M Yusuf Alamudi, S.Si,M.Trop.Med</em></p>
<p><strong>Pendidikan :</strong></p>
<p><em>S1: Biologi FST Unair<br />
S2: Ilmu Kedokteran Tropis FK Unair<br />
S3: Ilmu Kedokteran FK Unair</em></p>
<p><strong>Praktisi :</strong></p>
<p><em>Peneliti Senior di Professor Nidom Foundation<br />
Dosen UIN Sunan Ampel</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">115240</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hidup Bersama Corona, Mengenal Virus Basah dan Kering, Bisa Mati pada Suhu Tertentu</title>
		<link>https://memontum.com/hidup-bersama-corona-mengenal-virus-basah-dan-kering-bisa-mati-pada-suhu-tertentu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2020 12:51:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[basah]]></category>
		<category><![CDATA[bersama]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten]]></category>
		<category><![CDATA[kering,]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[mati,]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal]]></category>
		<category><![CDATA[pada]]></category>
		<category><![CDATA[suhu]]></category>
		<category><![CDATA[tertentu]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=114969</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Pada artikel sebelumnya, wartawan memontum.com, Januar Triwahyudi melakukan wawancara daring dengan DR Yusuf Alumudi, peneliti senior dari Professor Nidom Foundation. Melihat perkembangan sosial dalam masa darurat kesehatan nasional dan pemberlakuan PSBB di beberapa daerah, DR Yusuf menegaskan jika PSBB tidak akan efektif jika tidak dilakukan serentak secara nasional. Baca : Mengukur Efektifitas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Pada artikel sebelumnya, wartawan memontum.com, Januar Triwahyudi melakukan wawancara daring dengan DR Yusuf Alumudi, peneliti senior dari Professor Nidom Foundation. Melihat perkembangan sosial dalam masa darurat kesehatan nasional dan pemberlakuan PSBB di beberapa daerah, DR Yusuf menegaskan jika PSBB tidak akan efektif jika tidak dilakukan serentak secara nasional.</p>
<p><strong>Baca : <a href="https://kotamalang.memontum.com/5235-mengukur-efektifitas-psbb-dari-kajian-ilmu-virus-bersama-dr-yusuf-alumudi?PageSpeed=noscript" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Mengukur Efektifitas PSBB dari Kajian Ilmu Virus bersama DR Yusuf Alumudi</a></strong></p>
<p>Berdasarkan fakta sosial tersebut, sekiranya tidak ada salahnya, kita mempersiapkan diri untuk hidup bersama virus covid-19, seperti hidup bersama virus lainnya. Maka kita perlu mengenal lebih jauh karakter virus corona. Kajian virologi, mengenal dua jenia virus, yaitu virus basah dan kering.</p>
<p>&#8220;Dari aspek virologi, virus adalah mikroorganism. Yang dimaksud dengan virus basah adalah virus/mikroorganisme yang memiliki habitat atau siklus hidupnya di daerah sub tropis dan temperata. Berkembang biak atau bereplikasi dengan baik pada daerah di bawah suhu 25 derajat celsius. Virus kering adalah virus yang memiliki daya replikasi atau berkembang biak pada suhu 25 derajat celsius,&#8221; ujar DR Yusuf.</p>
<p>Alumni Unair ini melanjutkan, virus covid 19 adalah mikroorganisme yang termasuk pada virus basah. Ini dibuktikan, bahwa pada iklim bersuhu 56 derajat celsius selama 30 menit, virus covid-19 akan mati. Pada iklim bersuhu 30 derajat celsius, virus covid-19 akan mati kurang dari 60 menit.</p>
<p>Bukti lain bahwa virus covid-19 adalah virus basah, bisa dilihat dari orang yang terinfeksi virus ini, paling banyak ditemukan di negara-negara sub tropis. Begitu pula dengan penularan covid 19 yang sangat cepat pada wilayah sub tropis dibandingkan dengan negara-negara tropis.</p>
<p>Paling penting dari ulasan DR Yusuf ini, bahwa virus apapun itu, termasuk corona, bisa mati secara alami pada kondisi tertentu. Ini yang perlu dipahami bahwa virus corona itu adalah makhluk hidup yang bisa mati juga.</p>
<p>DR Yusuf, memastikan jika virus covid-19 dapat dimatikan dengan menggunakan pemanasan 56 derajat celsius selama 30 menit, menggunakan sabun dan deterjen kurang lebih 30 detik, menggunakan disinfectan, sinar UV dengan konsentrasi dan panjang gelombang tertentu. Meski demikian, kita harus tetap waspada. Karena penularan virus covid-19 secara harfiah melalui droplet.</p>
<p>WHO menyatakan virus Corona tidak dapat ditularkan melalui udara. Virus Corona umumnya dapat ditularkan melalui tetesan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara. Selanjutnya, virus covid-19 bereplikasi (berkembang biak) pada saluran pernafasan.</p>
<p>Dunia pernah mengalami pandemi, mulai dari Spanish flu 1918, flu Asia 1950- an, flu burung dan H1N1 pandemik, SARS, Mers dan saat ini (2019-2020) SARS-CoV 2 atau yg lebih dikenal dg covid 19. Di awal terjadinya kasus Covid 19, banyak ditemukan kematian.</p>
<p>&#8220;Seiring dengan waktu, bahwa kematian semakin berkurang. Banyak ditemukan orang tanpa gejala namun positif covid 19. Fenomena ini memberikan sinyal, bahwa sistem kekebalan tubuh manusia mulai beradaptasi. Tubuh manusia sudah mengenali covid-19, bukan sebagai benda asing lagi, seperti di awal-awal terjadinya kasus,&#8221; jelas DR Yusuf.</p>
<p>Maka, hidup bersama corona bukan hal yang tidak mungkin. Setiap saat manusia bisa menjalankan protokol kesehatan pribadi yang sama dengan hidup bersama virus influenza. <strong> (*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Penulis/editor :</strong><br />
Januar Triwahyudi</em></p>
<p><em><strong>Narasumber :</strong></em><br />
<em>DR M Yusuf Alamudi, S.Si,M.Trop.Med</em></p>
<p><em><strong>Pendidikan :</strong></em><br />
<em>S1: Biologi FST Unair</em><br />
<em>S2: Ilmu Kedokteran Tropis FK Unair</em><br />
<em>S3: Ilmu Kedokteran FK Unair</em></p>
<p><em><strong>Praktisi :</strong> Peneliti Senior di Professor Nidom Foundation</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">114969</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Corona, Mendadak Perhatian</title>
		<link>https://memontum.com/corona-mendadak-perhatian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 10:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngopi pagi]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[mendadak]]></category>
		<category><![CDATA[ngopi]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/114133-corona-mendadak-perhatian</guid>

					<description><![CDATA[SAYA kembali teringat ketika ada istilah mendadak dangdut. Artinya, mendadak dangdut itu, yang awalnya dulu gak suka dangdut, tiba-tiba menjadi suka. Entah dangdut sedang jadi trend, atau uji popularitas personal saja. Faktanya, saat itu banyak bermunculan artis dangdut, namun semendadak datangnya, secepat itu pula perginya. Sama halnya dengan kondisi saat ini, ketika terjadi pendemi covid-19. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>SAYA</em></strong> kembali teringat ketika ada istilah mendadak dangdut. Artinya, mendadak dangdut itu, yang awalnya dulu gak suka dangdut, tiba-tiba menjadi suka. Entah dangdut sedang jadi trend, atau uji popularitas personal saja. Faktanya, saat itu banyak bermunculan artis dangdut, namun semendadak datangnya, secepat itu pula perginya.</p>
<p>Sama halnya dengan kondisi saat ini, ketika terjadi pendemi covid-19. Entah disadari atau tidak, sebenarnya banyak fenomena baru atau fenomena mendadak yang terjadi. Mendadak kampanye hidup sehat, mendadak masuk rumah lepas sandal, mendadak sering cuci tangan, mendadak waspada dan mendadak perhatian.</p>
<p>Kali ini yang saya tulis adalah mendadak perhatian, yang saya anggap mewakili mendadak lainnya. Ini pun berdasarkan pengalaman saya sendiri. Bukan berdasarkan olah kata, atau guyon tumon. Karena saya juga tidak mau terseret ke fenomena mendadak juga.</p>
<p>Sejak tahun 1992, saya kuliah di Unair. Saya yang berasal dari kota kecil, yaitu Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, saat itu dipandang sebagai mahasiswa yang gagap sosial. Wajar saja karena saya pemuda asal kota kecil, yang masuk ke kota besar, Surabaya. Kota terbesar kedua setelah Jakarta. Sementara saya, arek ndeso begitu.</p>
<p>Saya akui, saya butuh adaptasi dengan lingkungan sekitar. Terutama iklim dan udara Surabaya. Aromanya beda dengan aroma alam di kampung saya. Kabut pagi juga terasa lengket di kulit lengan. Panas siang, sangat terik dan menyengat. Suhu lingkungan tinggi, sehingga sepanjang hari kulit berkeringat. Apalagi kalau naik motor, dari kampus Fisip ke THR kemudian ke tempat kos di Jl Srikana, wajah pasti penuh debu yang nempel di keringat.</p>
<p>Karena itu, selama saya di Surabaya, selalu pake helm fullface dan masker. Masker? Ya masker. Kenapa heran? Karena saat itu belum ada namanya pemerintah mewajibkan pake masker. Helm saja masih banyak yang tidak pakai. Masker saya sudah modis, ada yang warna merah, hijau, biru, hitam, kuning dan orange. Bahkan udeng juga saya pakai masker.</p>
<p>Tapi saat itu, namanya lebih keren, yaitu bandana dan scraft. Apa sebab? Karena saya gak kuat dengan debu dan polusi udara Surabaya. Rasanya lengket di lubang hidung. Makanya kemana-mana saya selalu bawa bandana atau scraft atau tutup hidung. Tapi kebiasaan saya ini, nyaris membawa petaka di sekitaran tahun 1999. Saat itu meledak isu ninja, semua kampung siaga, warga mengawasi gerak-gerik orang asing. Termasuk helm fullface, wajib dilepas saat masuk kampung.</p>
<p>Ndilalah saat itu saya pulang ke Lawang, karena sudah lulus kuliah dan mulai pindahan kos. Maka motor saya bawa pulang. Tiba di jalan sebelah kecamatan Lawang, saya dicegat warga setempat yang sedang jaga di gang belakang kecamatan. Saya pikir, ada kecelakaan atau kejadian lain. Saya dihentikan, disuruh buka helm fullface dan disuruh lepas masker. Supaya wajah bisa dikenali. Sempat bersitegang juga karena ada yang minta KTP saya. Untungnya saat itu ada seorang warga yang tahu jika saya sering main ke rumah teman saya di seputaran kecamatan Lawang. Hingga cegatan pun menjadi acara ngopi.</p>
<p>Nah ketegangan semacam itu, sudah terasa saat ini. Jalan-jalan kampung ditutup. Kalau tahun 1999 cegatan ninja, kalau sekarang kampung lockdown. Lebih kerenlah. Pos kamling aktif lagi. Bahkan kewaspadaan terhadap mobil bernopol luar kota pun meningkat. Teman saya, yang rumahnya di Merjosari Dinoyo, saat silaturahmi di sebuah kawasan di Kota Batu, sempat didatangi Ketua RT dan beberapa warga. Pasalnya, plat nopolnya L.</p>
<p>Padahal setiap hari dipakai, selama ini tidak ada yang perhatian. Nah Sabtu (18/4/2020) ketika sholat subuh, ketegangan sosial menimpa saya sendiri. Ketika mau berangkat ke masjid, saya sudah merasakan sesuatu. Maka saya pun bawa masker, sajadah dan hand sanitizer. Lha dalah, terjadi beneran. Di pintu masuk tertulis peringatan wajib pakai masker dan bawa sajadah.</p>
<p>Bahkan karena saya belum pakai masker saat di tangga, marbot masjid mengejar saya dan menanyakan mana masker dan sajadah saya. Setelah saya tunjukkan sajadah dan bandana milik saya, marbot pun membolehkan saya masuk masjid. Bagaimana jika tidak bawa masker dan sajadah? Boleh sholat tapi di teras masjid.</p>
<p>Kondisi ini mungkin yang menurut jangka Jayabaya adalah wolak-walike jaman. Selang 21 tahun dari tahun 1999, terbalik kondisinya. Saat itu, orang pakai masker dicurigai, dihentikan disuruh melepas. Tak peduli apapun alasannya, sakit atau tidak. Sedang flu atau tidak, pokoknya masuk kampung, wajah harus terlihat jelas. Kini di tahun 2020, terbalik. Masker diwajibkan. Tak peduli punya duit apa tidak, untuk beli masker. Tak peduli status soslal, pekerjaannya apa, sekolah dimana, mau kemana, ada dimana, bahkan muncul kabar hoax jika tak pakai masker akan ditahan polisi. Sebegitu wajibnya masker saat ini, hingga mendadak perhatian ataukah ketakutan yang berlebihan?.</p>
<p>Bagaimana tidak berlebihan jika mencegah virus dengan mblokade jalan kampung mendirikan dinding batako. Ada orang batuk, pilek, bersin dipandang dengan penuh curiga. Seseorang nyetir mobil sendirian wajib pakai masker. Bahkan ada pejabat di depan publik menyatakan jika suami istri gak boleh boncengan, tapi kalau naik ojek boleh. Terjadi bersitegang, antara suami dan aparat, yang menolak istrinya disuruh pindah duduk di belakang.<strong> (*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penulis :</strong><br />
<em>Januar Triwahyudi<br />
Pemred Memontum.com</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">114133</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Corona, Hoax Pun Bertebaran Kemana-Mana</title>
		<link>https://memontum.com/corona-hoax-pun-bertebaran-kemana-mana</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2020 15:40:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngopi pagi]]></category>
		<category><![CDATA[bertebaran]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[Hoax]]></category>
		<category><![CDATA[kemana-mana]]></category>
		<category><![CDATA[ngopi]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/112313-corona-hoax-pun-bertebaran-kemana-mana</guid>

					<description><![CDATA[LAGI-LAGI saya tergelitik menulis seputar berita hoax, yang belakangan begitu gencar di medsos terutama WA. Maka tulisan saya ini semoga bisa menjadi pencerahan bagi masyarakat agar bijak bermedsos. Tidak asal share, sebelum benar-benar terbukti kebenarannya. Sebelumnya, saya telah menulis dampak sosial covid-19, yaitu banyak bermunculan &#8216;profesor&#8217; WA. Apa itu? &#8216;Profesor&#8217; WA yang saya maksudkan, adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAGI-LAGI </strong>saya tergelitik menulis seputar berita hoax, yang belakangan begitu gencar di medsos terutama WA. Maka tulisan saya ini semoga bisa menjadi pencerahan bagi masyarakat agar bijak bermedsos. Tidak asal share, sebelum benar-benar terbukti kebenarannya.</p>
<p>Sebelumnya, saya telah menulis dampak sosial covid-19, yaitu banyak bermunculan &#8216;profesor&#8217; WA. Apa itu? &#8216;Profesor&#8217; WA yang saya maksudkan, adalah seseorang atau mereka yang memposting atau men-share tips-tips atau kiat-kiat tentang teknis pembuatan disinfektan, bilik sterilisasi, hand sanitizer dan pembuatan masker. Jika itu digunakan untuk konsumsi pribadi mereka, ya gak apa-apalah.</p>
<p>Tapi akan menjadi persoalan jika digunakan oleh orang lain. Apalagi jika ada ajakan, agak maksa lagi. Lebih lagi jika seseorang ini dijadikan referensi, padahal dia tidak punya kompetensi di bidang kimia atau medis. Luar biasa lagi, jika seseorang tanpa kompetensi di bidang kimia dan medis, malah berani ngeyel jika seorang profesor kimia ITS, guru besar lagi, bukan bidangnya menyampaikan teknis bilik disinfektan. Jika berdampak buruk, siapa yang bertanggungjawab?</p>
<p><strong>Baca :</strong> <a href="https://kotamalang.memontum.com/4703-corona-dan-profesor-grup-wa" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Corona dan ‘Profesor’ Grup WA</a></p>
<p>Kali ini, tulisan saya soal hoax kejadian kriminal. Saya contohkan, kejadian aksi massa menghajar seorang penjahat. Wartawan saya yang ngepos di liputan hukum dan kriminal, masih kelabakan nyari data dan konfirmasi, tiba-tiba vidio beredar. Seorang pemuda diinterogasi massa, sambil dikaploki di pos kamling. Postingannya, dikasih keterangan rampok tertangkap di Jl Hamid Rusdi Bunulrejo. Saya juga sempat mengirimkan vidio itu ke wartawan saya.</p>
<p>Ternyata dia sudah melakukan peliputan, dan ternyata bukan rampok. Tapi kasus penipuan dan korbannya teman pelaku sendiri. Bahasa malangan, adalah sanjipak. <strong>Baca :</strong> <a href="https://kotamalang.memontum.com/4677-sempat-dihajar-massa-dikira-maling-hp-jebule-sanjipak" rel="noopener noreferrer" target="_blank">Sempat Dihajar Massa Dikira Maling HP, ‘Jebule Sanjipak’</a></p>
<p>Meski begitu, sebagian masyarakat masih ngeyel itu rampok. Padahal keterangan resmi dari Polsek Blimbing adalah pidana penipuan/penggelapan alias sanjipak. Itulah yang saya maksudkan polisi medsos. Lalu apa hubungannya dengan corona?</p>
<p>Terhubung erat karena Menkumham saat terjadi covid-19, membuat kebijakan memberikan asimilasi atau pembebasan bersyarat ke warga binaan. Hingga muncul asumsi jika gara-gara warga binaan dibebaskan, tingkat kriminalitas meningkat. Padahal tidak ada bukti, jika semua yang dapat asimilasi berbuat jahat. Mantan napi juga manusia, mereka juga punya hak untuk bertobat. Juga punya hak untuk mendapat reward atas perilaku baik selama di dalam Lapas.</p>
<p>Apa tidak ada yang berbuat jahat lagi? Ada, ini buktinya. <strong>Baca:</strong> <a href="https://kotamalang.memontum.com/4614-residivis-curanmor-dihajar-massa-baru-3-hari-bebas-asimilasi-dari-lapas-madiun" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Residivis Curanmor Dihajar Massa Baru 3 Hari Bebas Asimilasi dari Lapas Madiun</a></p>
<p>Apakah pelaku berbuat jahat karena dibebaskan dari Lapas? Ya bukanlah! Siapapun orangnya, dia berbuat jahat dikarenakan punya niat jahat dan ada kesempatan. Bukan soal diberi asimilasi Kemenkumham.</p>
<p>Sebelum pendemi corona, sudah terjadi kejahatan. Di Kota Malang, tiap hari terjadi curanmor. Tapi masyarakat tidak begitu memperhatikan. Ketika wabah corona, mendadak banyak orang menjadi &#8216;polisi&#8217;, &#8216;jaksa&#8217; sekaligus &#8216;hakim&#8217;. Banyak kejadian kejahatan, tanpa melalui media pers, tanpa ada keterangan atau konfirmasi dari pihak yang bersangkutan atau pihak yang berwenang, sebuah rekaman cctv luar negeri beredar dan dikasih tulisan kejadian di Sawojajar Kota Malang di toko anu.</p>
<p>Tanpa ada wawancara dengan korban atau polisi yang menangani, tanpa ada keterangan hari tanggal jam kejadian. Tapi yang men-share ngeyel bahwa itu benar. Padahal dia tidak punya kompetensi membenarkan kejadian perampokan. Ini yang mungkin tidak disadari masyarakat kita. Bahwa yang punya kompetensi memberitakan peristiwa, kejadian, kegiatan dan menayangkan artikel, adalah media pers. Person yang punya kompetensi menulis berita adalah wartawan yang diatur <a href="http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_40_99.htm" rel="noopener noreferrer" target="_blank">UU Pers 40/1999</a>. Parah lagi, jika yang menyebarkan berita hoax adalah mereka yang berstatus pendidikan menengah ke atas.</p>
<p>Apalagi ditengah pendemi corona, maka bijaklah dalam bermedsos. Sadarilah jika bukan wartawan, maka jangan asal memberitakan, jangan asal posting, jangan asal men-share. Karena sekali lagi, jika berdampak buruk, siapa yang bertanggungjawab? (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penulis :</strong><br />
<em>Januar Triwahyudi<br />
Pemred memontum.com</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">112313</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Corona dan &#8216;Profesor&#8217; Grup WA</title>
		<link>https://memontum.com/corona-dan-profesor-grup-wa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2020 09:42:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngopi pagi]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[grup]]></category>
		<category><![CDATA[ngopi]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/112207-corona-dan-profesor-grup-wa</guid>

					<description><![CDATA[Saya tergelitik menulis ringan ditengah wabah covid-19 (coronavirus disease). Sekedar tulisan enteng-entengan yang menggambarkan kondisi masyarakat sekitar lingkungan saya sendiri. Karena sejak wabah atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan pagebluk ini muncul, banyak pula muncul pengamat medsos, wartawan medsos, dokter medsos, polisi dan tentara medsos pun ada. Bahkan &#8220;jurnalis&#8221; WA, Fesbuk, IG dan Tweeter ini, ngeyelnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tergelitik menulis ringan ditengah wabah covid-19 (coronavirus disease). Sekedar tulisan<em> enteng-entengan</em> yang menggambarkan kondisi masyarakat sekitar lingkungan saya sendiri. Karena sejak wabah atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan <em>pagebluk</em> ini muncul, banyak pula muncul pengamat medsos, wartawan medsos, dokter medsos, polisi dan tentara medsos pun ada.</p>
<p>Bahkan &#8220;jurnalis&#8221; WA, Fesbuk, IG dan Tweeter ini, ngeyelnya luar biasa. Ngalah-ngalahi wartawan atau jurnalis yang sudah bersertifikasi UKW (Uji Kompetensi Wartawan). Jangankan UKW muda atau madya, wartawan dengan UKW utama pun, bisa kalah eyel-eyelan.</p>
<p>Namun, saya teringat pesan H Agil, pendiri koran Memorandum. Bahwa wartawan itu punya harga karena karya tulisnya. Selain itu, salah satu tugas jurnalistik, adalah menyampaikan fakta ke masyarakat. Di era kekinian, jurnalisme juga berkewajiban menangkal info hoax.</p>
<p>Jujur saja, info atau berita hoax itu, lebih mudah diterima oleh masyarakat. Meskipun tidak memenuhi kaidah jurmalistik. Karena berita hoax sengaja dibuat tidak lengkap, tidak jelas narasumbernya, sehingga membuat penasaran. Dan, sifat dasar manusia adalah keingintahuan. Semakin bikin penasaran, semakin menarik keingintahuan seseorang.</p>
<p>Pada perkembangannya, media pers tidak lagi menjadi parameter validitas informasi. Masyarakat tidak lagi mempertimbangkan informasi itu dari mana, faktualitasnya, aktualitasnya, akuntabilitasnya, dari media yang legal atau tidak, media yang terverifikasi apa tidak. Asal ada share info, asal forward saja. </p>
<p>Masyarakat tidak lagi bisa membedakan web perusahaan pers siber atau media siber, dengan web pribadi. Karena seseorang dengan namanya pribadi pun bisa punya web, seperti blogger. Bahkan belakangan muncul media siber bodong, yang jelas tidak akan bisa memenuhi standar verifikasi dewan pers.</p>
<p>Karena itulah saya menyusun tulisan ini, dengan harapan bisa memberikan gambaran antara karya jurnalistik, dan bukan alias hoax. Saya contohkan di sebuah grup WA yang saya ikuti. Saya share link berita soal bilik <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Disinfektan" rel="noopener noreferrer" target="_blank">disinfektan</a>.</p>
<p><strong>BACA :</strong> <a href="https://memontum.com/110209-dosen-its-jelaskan-manfaat-dan-bahaya-bilik-sterilisasi" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Dosen ITS Jelaskan Manfaat dan Bahaya Bilik Sterilisasi</a></p>
<p>Karena tidak baca lengkap, seorang anggota grup, langsung menyatakan jika yang membuat artikelnya bukan orang di bidangnya. Katanya menyesatkan, membuat masyarakat bingung. Uniknya, setelah 30 Maret 2020, anggota grup lain memforward, soal bilik disinfektan tidak direkomendasi WHO. Dan tidak ada yang membantah.</p>
<p>Padahal dalam berita yang saya share, di dalamnya disebutkan juga rekomendasi WHO. Sumber beritanya adalah, Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi, guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), jabatannya, Kepala Departemen Kimia ITS. Kurang kompeten apanya? Lha guru besar.</p>
<blockquote><p>&#8220;Profesor kan ada jurusannya&#8230;&#8230;&#8221; itu kalimatnya saya copas dari grup WA. Tertulis pas di bawah kalimat saya, yang menjelaskan kompetensi Prof Fredy.</p></blockquote>
<p>Saya sempat bingung. Namun kemudian, saya memahami mungkin dia tidak baca konten berita. Hanya judul saja. Link nya tidak di klik. Atau juga malas baca, karena naskah beritanya panjang. Dari cerita pengalaman saya pribadi ini, bahwa saya wartawan yang sudah memiliki sertifikasi UKW Utama pun, masih bisa dieyel oleh medsos yang gak jelas sumbernya. Dibantah oleh orang yang tidak tahu ilmu jurnalistik.</p>
<p>Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana halnya di grup WA lain, yang anggota grupnya tidak ada yang berprofesi wartawan. Betapa gencarnya info dan berita menyesatkan, tanpa ada yang bisa meluruskan. Sedangkan saya sendiri, merasa kelabakan bagaimana menjelaskan di grup WA, beda antara berita/news dengan artikel. Lha wong profesor kimia <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Institut_Teknologi_Sepuluh_Nopember" rel="noopener noreferrer" target="_blank">ITS</a>, masih bisa diragukan oleh profesor grup WA, yang lebih percaya postingan tanpa sumber daripada berita media pers yang terverifikasi. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penulis :</strong></p>
<p><em>Januar Triwahyudi<br />
Pemred memontum.com</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">112207</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
