<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>DAM &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/dam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Jun 2023 11:47:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>DAM &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong, Ini Kata Bupati Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/larung-kepala-kerbau-di-dam-bagong-ini-kata-bupati-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2023 09:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[di]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191119</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral. Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral.</p>



<p>Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya adalah bersedekah, dengan harapan mendapatkan berkah Allah SWT.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, merupakan bentuk penghormatan masyarakat atas perjuangan Ki Ageng Menak Sopal yang telah berjasa membawa kemakmuran masyarakat setelah membangun Dam Bagong. Lebih-lebih Dam ini, diyakini selain sebagai sumber pengairan pertanian juga dapat menampung air ketika musim kemarau dan mampu mengendalikan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>&#8220;Ini prosesi nyadran sudah dilaksanakan. Semoga sedekahnya seluruh warga Desa Ngantru dan sedekahnya seluruh warga Desa Kerjo nanti dibalas oleh Allah dengan rejeki yang melimpah,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (16/06/2023) siang.</p>



<p>Dijelaskan suami Novita Hardiny ini, kepala kerbau sebenarnya simbol kehormatan dan kepercayaan. &#8220;Jadi kalau membangun atau kita katakanlah sebagai pelayanan masyarakat, kepercayaan itu adalah segala-galanya,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Dapat diartikan, ujarnya, kepala ini adalah performa Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kerbau juga melambangkan makhluk Tuhan yang biasa bekerja keras. Maka kepercayaan dan kerja keras itu yang akan menghantarkan kepada kesuksesan.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Jika ada yang mengira, kepala kerbau itu dilarung maka akan mengapung di air dan bisa menyebabkan difteri, itu adalah salah besar. Kenyataannya, setelah dilemparkan ke dalam Dam Bagong, kepala kerbau beserta kaki dan kulitnya akan direbut lagi oleh masyarakat.</p>



<p>&#8220;Jadi tidak ada yang tertinggal di aliran sungai. Sebenarnya upacara adat ini adalah sedekah untuk masyarakat. Jadi dagingnya dimakan lagi oleh masyarakat,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p>Pihaknya juga akan meminta Dinas Pengairan untuk mengecek secara berkala, karena Dam ini tidak hanya mengaliri sawah yang ada di kota. Namun, juga mengaliri sampai ke Pogalan dan seterusnya.</p>



<p>Cita-cita besarnya Pemerintah saat ini adalah Proyek Strategis Nasional itu mereplikasi atau membesarkan Dam Bagong dengan Bendungan Bagong yang nanti ada di Sumurup. Ini perjuangan Menak Sopal jaman dulu dengan Menak Sopal jaman kini dan untuk Menak Sopal jaman kini adalah Pemerintah Daerah.</p>



<p>&#8220;Mari kita doakan pembangunan Bendungan Bagong yang saat ini dilaksanakan, masyarakat di sana juga yang mengikhlaskan bahwa kegiatan di sana bisa berjalan semoga diberi rizqi yang melimpah. Diberi kesabaran dan juga yang mengerjakan bisa tepat waktu dan semoga bisa segera termanfaatkan,&#8221; paparnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191119</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Melihat Sedekah Tahunan Nyadran Dam Bagong, Kerbau Diarak Singgah ke Pendopo Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/melihat-sedekah-tahunan-nyadran-dam-bagong-kerbau-diarak-singgah-ke-pendopo-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 11:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[diarak]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ke]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[singgah]]></category>
		<category><![CDATA[tahunan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191041</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru. Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru.</p>



<p>Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon, untuk dijadikan persembahan pembangunan Dam Bagong. Sebelum disembelih dan dipersembahkan, kepala Kerbau harus dikirab terlebih dahulu.</p>



<p>Kirab Kerbau yang diperuntukkan Nyadran Dam Bagong ini menjadi salah satu bagian sakral dari adat budaya yang dilestarikan oleh masyarakat di Kelurahan Ngantru dan baru tahun ini dilakukan. &#8220;Ini memang terbilang baru, karena sebelum-sebelumnya tidak ada. Tahun ini kita mencoba melakukan rekonstruksi kembali sejarah kenapa Nyadran Dam Bagong. Kalau dahulunya, akadnya Menak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon itu akan dikembalikan. Namun, akhirnya disembelih sebagai syarat membangun Dam Bagong,&#8221; terang Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, saat dikonfirmasi, Kamis (15/06/2023) sore.</p>



<p>Akan tetapi, tambah Bupati Arifin, pihaknya ingin merekonstruksi sejarah tersebut. Menurutnya, masyarakat Krandon sudah ikhlas Gajah itu disembelih karena manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. Dari sini, kedua desa ini coba dirangkaikan karena menjadi asal usul dari upacara adat Dam Bagong. Keduanya coba di kolaborasikan, sehingga Kerbau untuk Nyadran disinggahkan semalam di Desa Kerjo. Juga, ada beberapa rangkaian kegiatan dilakukan disana.</p>



<p>&#8220;Dari Kerjo kemudian Kerbau atau Mahesa, ini di kirab menuju Pendopo Trenggalek. Lalu di kirab kembali ke Tlatah Mbagongan (Dam Bagong),&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Kegiatan ini, ada Bregodo yang mana Mahesa diserahkan kepada Bupati Trenggalek. Kemudian, bupati menyerahkan kembali Kerbau ini untuk dibawa ke Dam Bagong dan berikut dengan peralatan sembelihnya.</p>



<p>&#8220;Jadi kegiatan hari ini sebenarnya kegiatan rutin tahunan. Yaitu, Nyadran Dam Bagong ditandai dengan sedekah daging Kerbau kepada masyarakat di Desa Ngantru,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Maka dari itu, sambungnya, ini memang sudah diniatkan untuk sedekahan. Kerbau yang diarak dimulai dari Desa Kerjo, Kecamatan Karangan sampai ke Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek. Selanjutnya, dari pendopo akan diarak kembali ke Ngantru untuk dilakukan penyembelihan.</p>



<p>&#8220;Besok (Jumat, red) akan dilakukan adat Nyadran Dam Bagong dengan melempar kepala kerbau beserta kakinya,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Untuk rangkaian Nyadran Dam Bagong sendiri, jelas Bupati Trenggalek, sudah dimulai pada hari Rabu malam dan hari sakralnya Nyadran Dam Bagong sendiri yang dilaksanakan pada Jumat besok. Menurutnya, ini akan menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan rutin setiap tahun.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, sebenarnya merupakan perwujudan rasa syukur dari warga lingkungan sekitar dan petani yang dialiri oleh aliran sungai Dam Bagong. Mereka bersyukur karena sebelumnya Trenggalek merupakan rawa rawa tandus yang kering ketika musim kemarau dan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>Berawal dari tokoh yang bernama Menak Sopal, keadaan ini dirubah. Dengan membangun sebuah Dam atau bendungan kecil di area Bagongan, tanah yang dahulunya tandus ketika kemarau dan banjir ketika hujan menjadi areal persawahan yang subur.</p>



<p>Sedangkan cerita-cerita lain di balik pembangunan Dam ini, menyembelih Gajah Putih yang pada waktu itu milik Mbok Roro Krandon, menjadi cikal bakal upacara adat Nyadran sekarang. Cuma, hewan yang disembelih dari Gajah digantikan dengan seekor kerbau.</p>



<p>&#8220;Besok kepala kerbau dan kaki kerbau akan dilarung dengan cara dilemparkan ke dalam Dam Bagong. Yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan, barang siapa mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya,&#8221; papar Bupati Arifin. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191041</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tekan Sedimen Sungai, PU Bina Marga Jember Gelontor Walet</title>
		<link>https://memontum.com/tekan-sedimen-sungai-pu-bina-marga-jember-gelontor-walet</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Sep 2019 11:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[PU Bina marga Jember]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/92998-tekan-sedimen-sungai-pu-bina-marga-jember-gelontor-walet</guid>

					<description><![CDATA[Jember, Memontum &#8211; Guna melancarkan debit air terutama di DAM Desa Pondok Waluh, Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) Jember, melaksanakan gelontor walet kantong lumpur yang di rencanakan selama 3 hari, mulai hari ini Selasa (17/9/2019) hingga 19 September mendatang. Menurut Hari prasetya kordinator (SDA kencong Penggelontoran walet ini biasanya di lakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jember, Memontum </strong>&#8211; Guna melancarkan debit air terutama di DAM Desa Pondok Waluh, Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) Jember, melaksanakan gelontor walet kantong lumpur yang di rencanakan selama 3 hari, mulai hari ini Selasa (17/9/2019) hingga 19 September mendatang.</p>
<p>Menurut Hari prasetya kordinator (SDA kencong Penggelontoran walet ini biasanya di lakukan 2 kali dalam setahun pada bulan april dan september menjelang musim hujan. Akan tetapi tahun ini dilaksanakan sekali, karena April debit air masih terlalu tinggi bisa membahayakan para pekerja.</p>
<p><div id="attachment_23234" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-23234" decoding="async" class="size-full wp-image-23234" src="https://i0.wp.com/pemerintahan.memontum.com/wp-content/uploads/sites/5/2019/09/IMG-20190917-WA0060-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="Dinas SDA dan PU Bina marga Gelontor walet kantong lumpur di dam Pondok Waluh. (bud) " width="650" height="366" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-23234" class="wp-caption-text"><strong>Dinas SDA dan PU Bina marga Gelontor walet kantong lumpur di dam Pondok Waluh. (bud) </strong></p></div></p>
<p>&#8220;Jadi gelontor walet dilakukan sekali di bulan ini (September) saat debit air sudah tidak membahayakan, untuk hari pertama ini kami mengerahkan 60 orang dari dinas SDA jember, dinas pengairan propinsi dan juga dari bendung dan untuk hari kedua kami akan mengerahkan 200 tenaga kerja termasuk Hippa, &#8221; ungkapnya.</p>
<p>Hari mengatakan, gelontor walet ada kaitannya untuk menekan kadar sedimen yang ada di dasar sungai yang tujuannya untuk memperlancar debit air, karena bagaimanapun juga hal itu merupakan pelayanan kita ke irigasi untuk petani dengan luasan areal 7000 ha lebih.</p>
<p>&#8220;Karena bagaimanapun juga pemanfaatan air untuk pertanian dan yang merasakan juga petani sendiri,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia berharap agar kegiatan ini bisa berguna bagi kemaslahatan masyarakat petani di Kabupaten Jember dalam meningkatkan produksi tanaman pangan khususnya padi, di areal pertanian yang mendapatkan kemamanfaatan dari pengairan dam pondok Waluh ini.</p>
<p>Sementara itu Andik Handoko Kasi pemeliharaan dan rehabilitasi pengairan Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa, untuk pengelolaan irigasi di bawah 1000 ha itu di bawah kewenangan kabupaten.</p>
<p>&#8220;Seluas 1000 &#8211; 3000 di bawah kewenangan propinsi, dan diatas 3000 ha itu di bawah kewenangan pusat, Dam Pondok Waluh ini baku, sawahnya diatas 3000 ha, jadi ini adalah kewenangan pusat, &#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Karena ini ada TPOP, jadi ini di TPOP kan ke provinsi dan tenaganya kita cari di sekitar wilayah di DAM berada, termasuk di UPT kencong dan Gumukmas dibawah komando UPT kencong,&#8221; tambahnya. <strong>(bud/yud/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">92998</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
