<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Dampak Tol &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/dampak-tol/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Mar 2019 19:58:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Dampak Tol &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Cluster Development dan Urban-Rural Linkages, Solusi Ekonomi Terdampak Tol</title>
		<link>https://memontum.com/cluster-development-dan-urban-rural-linkages-solusi-ekonomi-terdampak-tol</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2019 19:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak Tol]]></category>
		<category><![CDATA[jalan tol]]></category>
		<category><![CDATA[Solusi Ekonomi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/81046-cluster-development-dan-urban-rural-linkages-solusi-ekonomi-terdampak-tol</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pembangunan jalan tol sebagai bagian pembangunan infrastruktur di semua bidang dinilai memiliki banyak manfaat. Mulai dari memperlancar lalu lintas hingga meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pengguna jalan tol akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan Biaya Operasi Kendaraan (BOK) dan waktu, dibanding apabila melewati jalan non-tol. &#8220;Di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pembangunan jalan tol sebagai bagian pembangunan infrastruktur di semua bidang dinilai memiliki banyak manfaat. Mulai dari memperlancar lalu lintas hingga meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pengguna jalan tol akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan Biaya Operasi Kendaraan (BOK) dan waktu, dibanding apabila melewati jalan non-tol.</p>
<p>&#8220;Di sisi lain, jalan tol juga mempunyai dampak negatif. Salah satunya, penghasilan ekonomi penduduk sekitar tol yang tidak lagi dilewati langsung akan terimbas menurun. Setelah adanya jalan tol, kendaraan tak lagi melintas di jalan biasa. Karena mereka lebih memilih lewat jalan tol,&#8221; ungkap Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, usai menjadi keynote speaker dalam The 4th International Conference Planning in The Era of Uncertainty di Auditorium Prof Ir Suryono lantai 2 Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB), Rabu (13/3/2019).</p>
<p>Tanggap hal tersebut, Emil Dardak mengenalkan konsep cluster development untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan mengembangkan area sekitar exit tol itu agar ekonomi di sekitar tol tetap hidup dan berkembang.</p>
<p>&#8220;Diawali pengembangan residential area dulu. Seperti kawasan kota satelit yang ada di Jabodetabek. Setelah itu, akan muncul kegiatan-kegiatan komersial untuk melayani basis residensial,&#8221; terang mantan Bupati Trenggalek ini.</p>
<p>Selain itu, Emil juga memaparkan konsep pengembangan wilayah berbasis urban-rural linkages, yakni keterkaitan desa kota (rural township) yang sehat, dengan mengembangkan kawasan kota di pedesaan atau pusat pertumbuhan desa.</p>
<p>&#8220;Konsep ini membutuhkan komitmen pemerintah setempat untuk mengonsentrasikan jaringan transportasi agar investasi terkonsentrasi ke pusat kota. Maksudnya, bukan pusat kota atau ibu kota di tiap kabupaten, melainkan semacam lintas kota dua-tiga kecamatan yang akan dijadikan konsentrasi kegiatan. Jika pengunjungnya banyak, maka orang bisa buka rumah makan, oleh-oleh, dan usaha lainnya,&#8221; tandas suami Arumi Bachsin ini. <strong>(adn/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">81046</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
