<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Desa Bumiaji &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/desa-bumiaji/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Jan 2021 06:10:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Desa Bumiaji &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Buang Apel Hingga Ratusan Ton, Petani Bumiaji Temukan &#8216;Obat&#8217; Penyakit Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/buang-apel-hingga-ratusan-ton-petani-bumiaji-temukan-obat-penyakit-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2021 05:56:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu Punah]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bumiaji]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Mata Ayam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132727</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar. Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar.</p>



<p>Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi hingga miliaran rupiah, karena pernah membuang sekitar 70 ton hasil panennya karena rusak, mulai punya cara dalam mengatasi penyakit mata ayam pada tanaman Apel. Walau pun, selama perjalanannya mengatasi penyakit itu, butuh biaya yang mahal.</p>



<p>&#8220;Saya pernah mengalami kerugian, yang kalau di total bisa sampai miliaran rupiah karena ada ratusan ton apel yang saya buang. Bahkan, satu lahan saja pernah 70 ton, yang harus terbuang,&#8221; ujarnya menceritakan perjalanannya mengatasi mata ayam.</p>



<p>Meruginya petani apel ini, dirasakan hingga kurun waktu sampai tiga tahun terakhir ini. Bahkan, Slamet mengaku telah mengeluarkan modal sebanyak Rp 2,3 miliar. Uang itu, didapatkan dari berhutang sebab perlu untuk mempertahankan apel miliknya.</p>



<p>&#8220;Sejak memakai fungisida temuan Rudy, sekitar dua bulan lalu, buah apel tampak sehat. Meskipun, ada satu dan dua buah terserang. Namun, secara keseluruhan kondisinya bisa diatasi. Bintik mata ayam tidak sampai merusak apel. Penyebaran wabah juga tidak meluas,&#8221; katanya.</p>



<p>Sambil menunjukkan tanaman apel yang sedang berbuah di ladangnya, Slamet berharap, besar panen apel kali ini bisa mendapatkan keuntungan. Meski pun, dirinya tahu bahwa rupiah yang bakal didapat nanti akan digunakan untuk membayar hutang jua.</p>



<p>“Hutang saya banyak. Kalau buat beli Rubicon (mobil, red) bisa dapat dua,” katanya sambil tersenyum, Rabu (20/01) tadi.</p>



<p>Slamet sendiri, tetap bertahan menjadi petani apel, karena memiliki kebanggaan tersendiri. Apel adalah sumber kehidupan baginya, maka tidak mungkin mematikan sumber penghidupannya.</p>



<p>“Penyakit mata ayam itu sendiri nampak ketika apel telah berusia 60 hari sejak berbunga. Mulai nampak bintik hitamnya. Sudah dilakukan penyemprotan masih saja tidak mempan. Menggunakan obat apa saja juga tidak ada hasilnya. Terus masih saya rawat secara terus menerus dengan melakukan pengompresan sedikit demi sedikit,” paparnya.</p>



<p>Awal mula Slamet bertemu Rudy, siapa sangka melalui perantara temannya. Saat itu, dirinya mengeluhkan kepada temannya akan serangan mata ayam yang tiada henti. Sudah banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, namun tidak membuahkan hasil bagus.</p>



<p>“Kota Batu sebagai kota apel itu hanya slogan saja namun pada kenyataannya banyak petani apel yang dibunuh. Salah satunya adalah sangat sulitnya melakukan perawatan apel,” keluhnya.</p>



<p>Kemudian Slamet bertemu Rudy dan membeli fungisida ciptaan lelaki yang telah banyak melakukan penelitian di sektor pertanian tersebut. Tidak sulit bagi Slamet untuk mendapatkan bahan.</p>



<p>Dengan mencoba formula ciptaan Rudy tersebut, sejumlah apel di ladangnya tampak bagus. Beberapa hari ke depan, bahkan sudah siap dipanen. Terutama Apel Manalagi.</p>



<p>Slamet merindukan, panen apel yang berlangsung cemerlang seperti tahun-tahun sebelum 2018. Kala itu, hasil panen apel selalu memberikan dampak positif bagi petani termasuk penjual.</p>



<p>&#8220;Saat memasuki tahun 2018 atau tiga tahun belakangan, saya mulai banyak membuang buah karena terserang hama mata ayam. Yang paling terasa terjadi pada 2018. Saya membuang 60 ton hingga 70 ton. Dari 1 Ha ladang. Angka kerugiannya mencapai Rp 350 juta,” kenangnya.</p>



<p>Padahal, tambahnya, di tahun sebelumnya sekitar 2016, Slamet bisa memanen hingga 80 ton Apel Manalagi dan 15 ton Apel Anna.</p>



<p>“Dengan menggunakan fungisida ini, buahnya bisa lebih bagus. Memang ada beberapa yang masih terkena namun tidak separah dulu,” terangnya.</p>



<p>Dengan adanya temuan itu, Slamet berharap panen apel kali ini bisa lebih bagus. Dirinya memperkirakan akan membuang sekitar 5 ton apel saja pada panen kali ini.</p>



<p>&#8220;Saya hanya berharap, Pemkot Batu bisa menawarkan solusi stabilitas harga apel. Harga apel anjlok saat ini. Petani harus menghadapi sendirian anjloknya harga apel. Padahal, Pemkot Batu memiliki keleluasaan untuk mengendalikan harga melalui kebijakan yang dikeluarkan,&#8221; harap Salamet.<strong> (bir/sit)</strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132727</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Desa Bumiaji Salurkan Bantuan BLT DD kepada 259 Warga</title>
		<link>https://memontum.com/desa-bumiaji-salurkan-bantuan-blt-dd-kepada-259-warga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2020 03:05:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[BLT DD]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bumiaji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=117493</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Pembagian bantuan tahap kedua Desa Bumiaji berjalan tertib dan lancar dengan standart protokoler kesehatan. Masyarakat tampak mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan pihak panitia desa. Kegiatan yang dilakukan di balai desa atau pendopo ini untuk 259 keluarga penerima manfaat (KPM) yang bersumber dari BLT DD, seperti yang disampaikan Kepala Desa Bumiaji, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Pembagian bantuan tahap kedua Desa Bumiaji berjalan tertib dan lancar dengan standart protokoler kesehatan. Masyarakat tampak mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan pihak panitia desa. Kegiatan yang dilakukan di balai desa atau pendopo ini untuk 259 keluarga penerima manfaat (KPM) yang bersumber dari BLT DD, seperti yang disampaikan Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, Rabu (24/6/2020).</p>
<p>&#8221; Total hari ini ada 259 (KPM) yang masing-masing menerima Rp.600.000. Kami membagikannya dengan pedoman warga yang terdampak covid-19 serta warga miskin yang telah didata oleh pihak Rt /Rw,”</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-117495" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200624-WA0021-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200624-WA0021-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200624-WA0021-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200624-WA0021-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200624-WA0021-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Ditambahkan pula bahwa warga Desa Bumiaji yang menerima bantuan seluruhnya berjumlah sekitar 800 KPM baik yang bersumber dari Dinsos maupun BLT DD atau 30 persen lebih dari jumlah penduduk Desa Bumiaji.</p>
<p>Sementara Permasalahan yang dihadapi desa yang ada di Kota Batu terkait penyaluran bantuan yang bersumber dari Dana Desa (DD) hampir merata persoalan terjadi pada data penerima bantuan. Terlebih saat ini, di desa juga mengalami kesulitan untuk melakukan perubahan APBDes untuk yang kedua kalinya. Hal ini dipicu karena terdapat aturan yang berubah-ubah. Seiring hal ini, Asosiasi Pemerintah Desa dan Kelurahan (Apel) Kota Batu sempat berkonsultasi ke DPRD Batu beberapa waktu lalu.</p>
<p>Peristiwa yang dialami masing-masing Pemerintah Desa ini, telah mendapatkan tanggapan dari kepala DP3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Bencana), MD Forkan bahwa, dalam pemberian bantuan yang bersumber dari Dana Desa memang terdapat aturan yang menyebutkan penggunaannya 35 persen dari anggaran Dana Desa. Terhitung untuk BLT bulan April, Mei, Juni yang besarannya Rp. 600 ribu per/ KPM (Keluarga Penerima Manfaat).</p>
<p>“ Apabila 35 persen belum mengcover seluruh dari pada Desa, maka bisa Desa itu menambah persentase dengan ijin dari kepala daerah. Sebenarnya dengan adanya undang-undang desa seperti itu, desa itu sudah diberi kewenangan secara luar biasa untuk mengelola. &#8221; Silahkan Desa pede dengan program-programnya, asalkan regulasinya tidak menabrak dari yang pusat,” terang Forkan, Rabu (24/6/2020).</p>
<p>Meski demikian, Forkan juga mengingatkan bahwa aturan itu tidak boleh melampaui aturan yang lebih tinggi yang ada diatasnya. Sedangkan terkait ijin, Forkan menjelaskan, surat ijin atau permohonan tertulis kepala Desa kepada Kepala Daerah yang isinya berupa pengajuan bahwa, didalamnya masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang belum menerima, dan perlu adanya penambahan persentase.</p>
<p>“ Nanti akan ada jawaban. Pengajuan dulu, karena ada beberapa kelompok masyarakat yang belum tercover oleh Dana Desa. Maka, kami mengajukan Persentase pertambahan Dana Desa yang bisa digunakan untuk BLT Dana Desa,” jelas Forkan memberikan contoh.</p>
<p>Sementara, disinggung terkait data yang dikirimkan pihaknya ke masing-masing Desa untuk BLT DD, ia mengakui bahwa data tersebut ia dapatkan dari Dinas Sosial. Forkan juga menegaskan bahwa pihaknya hanya fokus untuk BLT DD. Sedangkan untuk PKH, BPNT, Kartu Sembako, Bantuan sosial dari Kementerian Sosial, Kartu Pra Kerja, merupakan ranah dari Dinas Sosial.<strong> (bir/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">117493</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
