<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Dinas Pertanian Kota Batu &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/dinas-pertanian-kota-batu/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Feb 2021 05:35:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Dinas Pertanian Kota Batu &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Dinas Pertanian Batu Bantu Petani Apel Atasi Penyakit Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/dinas-pertanian-batu-bantu-petani-apel-atasi-penyakit-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2021 04:58:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pertanian Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Hama]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Mata Ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Penyemprotan]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Apel]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Apel Batu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=134073</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Untuk mengatasi penyakit mata ayam (busuk buah) pada buah Apel, Dinas Pertanian Kota Batu memberikan bantuan penyemprotan insektisida kepada petani. Adalah Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, yang menjadi sasaran penyemprotan, Jumat (05/02) tadi. &#8220;Hari ini agenda dinas pertanian bersama kelompok tani yang punya lahan beserta teman-teman kelompok pengendalian, melakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Untuk mengatasi penyakit mata ayam (busuk buah) pada buah Apel, Dinas Pertanian Kota Batu memberikan bantuan penyemprotan insektisida kepada petani. Adalah Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, yang menjadi sasaran penyemprotan, Jumat (05/02) tadi.</p>
<p>&#8220;Hari ini agenda dinas pertanian bersama kelompok tani yang punya lahan beserta teman-teman kelompok pengendalian, melakukan tindakan untuk apel yang terserang penyakit (mata ayam). Baik kategori sedang maupun berat. Khususnya, untuk busuk buah yang disebabkan iklim atau cuaca,&#8221; jelas Kepala Dinas Pertanian, Sugeng Pramono.</p>
<p>Penyakit busuk buah atau yang umum di sebut mata ayam, tambahnya, memang sering muncul pada musim penghujan dan menyerang apel Jenis Manalagi. Langkah yang diambil Dinas Pertanian, yakni dengan mengendalikan hama melalui penyemprotan maupun pensortiran buah yang terkena busuk buah lalu menimbun dengan diberikan dekomposer supaya bisa terurai.<br />
Dinas Pertanian menambahkan, bahwa petani apel yang ada di Kota Batu, tidak semuanya menjadi anggota kelompok tani. Sebagian besar merupakan petani mandiri. Sementara Dinas Pertanian, tidak bisa memaksa petani harus menjadi anggota kelompok tani.</p>
<p>&#8220;Memang petani disini belum semuanya menjadi anggota kelompok tani dan kegiatan yang dilakukan hari ini adalah membantu kepada kelompok tani. Tetapi, kami juga melakukan pendampingan pada petani yang bukan anggota kelompok (petani mandiri),&#8221; tambah Sugeng.</p>
<p>Sedangkan penimbunan apel yang terkena busuk buah, tambahnya, dimaksudkan agar jamur glosforium yang menyerang buah apel, supaya bisa terurai. Karena kalau dibiarkan di atas permukaan tanah, maka jamur tersebut juga masih bisa menyerang buah apel lain. Sebab, glosforium ini bukan penyakit ulat tanah. Sehingga jika sudah dikubur, tidak akan menularkan lagi.<br />
Selain itu, menurut Sugeng, buah yang terkena busuk buah itu, 20 sampai 25 persen. Itu, bukan berarti dalam waktu yang sama. Karena, apel sepanjang tahun penitrasi penyakit busuknya pada waktu hujan tinggi mulai Desember sampai Maret.</p>
<p><a href="https://memontum.com/132703-penyakit-mata-ayam-petani-apel-batu-butuh-solusi-bukan-keyakinan#ixzz6lfN1IbT5"><strong>Baca Juga : Penyakit Mata Ayam Petani Apel Batu Butuh Solusi, Bukan Keyakinan</strong></a></p>
<p>&#8220;Sebenarnya ini sudah efektif menurut kajian ilmiahnya. Tapi memang kita kurang memotivasi para petani sebab seharusnya kegiatan ini bisa di lakukan secara bersamaan namun masih belum bisa karena petani yang belum masuk gapoktan masih banyak. Karena seharusnya seluruh petani untuk melakukan kegiatan serentak jadi ini kurang efektif, sedang aturan regulasinya yang bisa kita bantu yang sudah masuk di kelembagaan,&#8221; paparnya.</p>
<p>Anggota kelompok tani dari Desa Sidomulyo, Hadi Utomo, yang lahannya berada di Desa Sumbergondo, ini ada 300 pohon apel dari luas 3000 m persegi miliknya. Dirinya mengatakan, setiap musim hujan, tanaman Manalagi akan merugi. Namun, ketika musim kemarau, akan tertutupi.</p>
<p>&#8220;Hama ini sudah sekitar tiga tahun menyerang apel di lahan saya, dan Jenis Manalagi yang paling rentan terkena busuk buah,&#8221; ujarnya. <strong>(bir/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">134073</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dinas Pertanian Kota Batu, Klarifikasi Hasil Kerjasama BPPT dengan Gapoktan</title>
		<link>https://memontum.com/dinas-pertanian-kota-batu-klarifikasi-hasil-kerjasama-bppt-dengan-gapoktan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2020 06:46:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[BPPT]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pertanian Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Gapoktan]]></category>
		<category><![CDATA[Klarifikasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=117616</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu – Berawal dari kekecewaan seorang petani yang sekaligus peneliti bibit kentang varietas baru, Rudy Madiyanto dari Desa Sumberbrantas. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono akhirnya memberikan penjelasan terkait dana penelitian yang diperuntukkan kepada para petani di Desa Sumber Brantas, Kota Batu. Sebelumnya, diberitakan bahwa peneliti sekaligus petani asal Desa Sumber Brantas, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> – Berawal dari kekecewaan seorang petani yang sekaligus peneliti bibit kentang varietas baru, Rudy Madiyanto dari Desa Sumberbrantas. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono akhirnya memberikan penjelasan terkait dana penelitian yang diperuntukkan kepada para petani di Desa Sumber Brantas, Kota Batu.</p>
<p>Sebelumnya, diberitakan bahwa peneliti sekaligus petani asal Desa Sumber Brantas, Rudy Madiyanto mengutarakan kekecewaannya karena anggaran dana penelitian yang telah ia tandatangani tidak jelas realisasinya.</p>
<p>Dikatakan Rudy, saat itu ia meneken tandatangan untuk penganggaran senilai Rp 1,2 M dari Kemenristek Dikti melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Serpong. Belakangan diketahui bahwa Rp 1,2 M itu adalah dana usulan, namun realisasinya yang cair senilai sekitar Rp 570 juta.</p>
<p>Sugeng menegaskan bahwa anggaran Rp 570 itu turun dari pemerintah pusat ke kelompok tani Sumber Jaya di Desa Sumber Brantas. Sedangkan Dinas Pertanian Batu tidak tahu menahu terkait anggaran tersebut. Dikatakannya, Dinas Pertanian Batu hanya bertindak sebagai fasilitator.</p>
<p>“Jadi perlu saya luruskan. Angka Rp 1.2 M itu adalah usulan, namun yang disetujui Rp 570 juta. Anggaran itu berupa sarana dan prasarana (sarpras), lalu pengembangan keilmuan dan biaya perjalanan ke Batu,” ujarnya, Kamis (25/6/2020).</p>
<p>Sugeng mengaku baru mengetahui kalau anggaran yang disetujui sekitar Rp 570 juta setelah menghubungi pihak BPPT dengan disaksikan ketua Gapoktan Sumber Jaya, Joni serta satu anggota dan Rudy pada Kamis (25/6/2020).</p>
<p>“Baru saja saya menghubungi orang BPPT dan baru tahu kalau yang disetujui itu senilai Rp 570 jutaan. Tadi semuanya mendengar karena saat telpon, suaranya diperkeras,” terang Sugeng.</p>
<p>Namun Sugeng tidak memberi tahu siapa orang BPPT yang ia hubungi. Diterangkan Sugeng, proyek dari BPPT itu telah selesai. Proyek berlangsung selama tiga tahun sejak 2016 hingga 2018. Proyek tersebut memang untuk pengembangan pertanian kentang di Sumber Brantas.</p>
<p>Proyek itu menyisakan antara lain green house yang kondisinya tidak terawat saat ini. Pasalnya, pada akhir 2019 lalu diterpa angin kencang. Sugeng juga mengatakan kalau ada anggaran Rp 10 juta namun untuk pembayaran sewa lahan kebutuhan pertanian.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Jaya, Joni mengatakan kalau bantuan yang diterimanya salah satunya adalah bibit kentang. Bibit kentang tersebut dikelola dan dikembangkan di Desa Sumber Brantas.</p>
<p>“Bantuannya dalam bentuk bibit kentang. Sejak ada bibit itu, bibit kentang di Sumber Brantas tidak pernah lagi impor,” katanya.</p>
<p>Ditanya terkait kucuran dana dari pusat ke Gapoktan Sumber Jaya, Joni mengatakan kalau anggaran berbentuk sarana dan prasarana yang mendukung pembibitan kentang. Ternyata selama ini Rudy tidak banyak dilibatkan dalam Gapoktan. Padahal Rudy adalah orang yang menandatangani anggaran untuk mendukung pembibitan kentang di Sumber Brantas. Joni juga mengaku baru mengetahui kalau anggaran yang disetujui Rp 570 juta.</p>
<p>Sementara itu, Rudy mengaku kecewa karena hasil temuannya terhadap varietas kentang tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan cenderung dimanfaatkan oleh pihak lain. Rudy bahkan mengatakan kesulitan mengembangkan temuannya di kampung halamannya sendiri.</p>
<p>“ Di Jawa Tengah saya banyak membina petani, bahkan kerjasama berjalan sangat baik, tapi di sini di kampung halaman saya sendiri (Batu, Red) justru kesulitan,” katanya dengan nada heran.</p>
<p>Rudy juga mengaku baru mengetahui kalau anggaran yang disetujui senilai Rp 570 jutaan juga.</p>
<p>“Tapi yang penting hubungan dengan BPPT yang awal adalah nitip bibit. Saya berharap bibit yang saya titipkan itu bisa berjalan baik seperti program di sebuah universitas di Belanda,” katanya.</p>
<p>Awalnya Rudy menitipkan 10 varietas kentang temuannya di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Serpong. Kemudian turun anggaran untuk mengembangkan bibit milik Rudy yang dititipkan tersebut. Kalau tidak ada 10 jenis itu, anggaran tidak bisa dicairkan.</p>
<p>“Kalau ternyata anggaran turun ke Gapoktan ya silahkan, tapi benihnya jangan dikeluarkan dulu karena belum matang. Kalau sudah matang, silahkan siapapun yang membawa. Nah kalau begini, bagaimana cara kerjasamanya. Saya pikir selisih semuanya,” katanya.</p>
<p>“Kita juga antara Gapoktan, saya juga anggota Gapoktan. Terus sinkronnya di mana? Anggap saja saya sebagai tim risetnya Gapoktan kan ciamik begitu, saya ingin, idealisme dan saya dihargai sebagai peneliti. Jangan diplilntir-plintir, ya bingung saya,” tegas Rudy. <strong>(bir/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">117616</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
