<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>diolah &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/diolah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Oct 2025 09:54:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>diolah &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Limbah MBG Lumajang Diolah Jadi Peluang Inovasi, Wirausaha hingga Kontribusi untuk Lingkungan</title>
		<link>https://memontum.com/limbah-mbg-lumajang-diolah-jadi-peluang-inovasi-wirausaha-hingga-kontribusi-untuk-lingkungan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Oct 2025 06:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[diolah]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontribusi]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=226450</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Di balik aroma lezat Program Makan Bergizi Graatis (MBG), tersimpan potensi yang jarang diperhatikan, yaitu limbah makanan. Sebagian orang, melihatnya sebagai sampah. Namun bagi generasi muda di Lumajang, limbah itu bisa menjadi peluang untuk berinovasi, berwirausaha, dan berkontribusi bagi lingkungan. Asriafi Ath Thaariq, founder Waroeng Domba 99 dan Rumah Muda Berdaya, sekaligus [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Di balik aroma lezat Program Makan Bergizi Graatis (MBG), tersimpan potensi yang jarang diperhatikan, yaitu limbah makanan. Sebagian orang, melihatnya sebagai sampah. Namun bagi generasi muda di Lumajang, limbah itu bisa menjadi peluang untuk berinovasi, berwirausaha, dan berkontribusi bagi lingkungan.</p>



<p>Asriafi Ath Thaariq, founder Waroeng Domba 99 dan Rumah Muda Berdaya, sekaligus penerima kalpataru dan lencana inovasi desa kementerian desa, menekankan bahwa limbah MBG dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bermanfaat dan bernilai salah satunya eco enzyme produk ramah lingkungan bagi rumah tangga dan pertanian. “Ada beberapa peluang yang bagus saat ini, yaitu mencari limbah makanan dari Program MBG yang bisa dibuat eco enzyme,” ujarnya, Rabu (01/10/2025) tadi.</p>



<p>Asriafi menambahkan, eco enzyme bukan sekadar pembersih. Dari limbah makanan yang sama, bisa dibuat disinfektan, sabun, pupuk cair, hingga pakan magot untuk pertanian. Dengan demikian, limbah yang semula terbuang justru bisa bernilai ekonomi dan menjadi sumber penghasilan baru bagi pemuda.</p>



<p>Salah satu peserta yang telah mempraktikkan ide ini, adalah Dzaki Fahruddin, seorang petani muda yang juga aktif di komunitas lingkungan. Dari dapur umum MBG di SPPG Yosowilangun, Dzaki mengumpulkan sisa makanan untuk diolah menjadi kompos dan pupuk cair.</p>



<p>“Selain mengurangi sampah, hasilnya juga bermanfaat untuk pertanian. Sekarang, saya sedang mengembangkan limbah ini menjadi inovasi lain yang bisa dijadikan produk bernilai jual,” ujarnya, sambil menunjukkan botol-botol eco enzyme yang telah siap dipasarkan.</p>



<p>Dzaki menuturkan, bahwa prosesnya sederhana namun membutuhkan disiplin. Limbah makanan dicacah kecil, dicampur gula merah dan air, kemudian difermentasi selama tiga bulan sebelum menjadi eco enzyme yang siap digunakan.</p>



<p>Menurut Asriafi, kunci keberhasilan terletak pada kesadaran dan kreativitas pemuda. “Limbah makanan seharusnya dipandang sebagai modal, bukan masalah. Dengan inovasi dan bimbingan, kita bisa menciptakan produk ramah lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi lokal,” jelasnya.</p>



<p>Selain Dzaki, Siti Aisyah, peserta lainnya, juga mencoba mengolah limbah MBG menjadi pupuk cair. “Awalnya saya ragu, tapi setelah melihat hasilnya, pupuk ini lebih subur daripada yang biasa saya pakai. Tanaman saya tumbuh lebih sehat, dan saya bisa menghemat biaya pertanian,” ujarnya.</p>



<p>Praktik ini menunjukkan bahwa limbah MBG tidak hanya bisa diubah menjadi produk jualan, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan. Bahkan beberapa peserta sudah bereksperimen mencampur eco enzyme dengan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Bagi Asriafi, kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif. Para pemuda belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan, mengelola sumber daya, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.</p>



<p>“Eco enzyme bukan hanya soal bisnis. Ini soal kesadaran kolektif, bagaimana kita mengubah sampah menjadi manfaat, lingkungan menjadi bersih, dan ekonomi tetap bergerak,” katanya.</p>



<p>Tidak semua dapur MBG mampu mengolah limbah makanan. Beberapa memberikan sisa makanan secara cuma-cuma ke tetangga untuk pakan ternak. Namun bagi mereka yang mau berinovasi, limbah MBG adalah bahan mentah yang bernilai tinggi.</p>



<p>Peserta lain, Rifqi Hidayat, menambahkan bahwa pengalaman mengolah limbah MBG mengajarkannya disiplin dan kesabaran. “Fermentasi membutuhkan waktu dan perhatian, tapi ketika eco enzyme jadi, rasanya bangga sekali. Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi karya nyata,” ungkapnya.</p>



<p>Selain menghasilkan produk, praktik ini juga membangun jejaring komunitas muda peduli lingkungan. Pertemuan rutin antara peserta untuk bertukar pengalaman dan strategi pemasaran membuat ekosistem inovasi semakin hidup.</p>



<p>Asriafi berharap, program seperti ini bisa direplikasi di seluruh Lumajang. Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas muda, dan penggiat inovasi, limbah makanan bisa menjadi sumber daya ekonomi dan edukasi lingkungan.</p>



<p>“Kita ingin generasi muda sadar bahwa setiap bahan memiliki potensi. Limbah makanan bisa jadi eco enzyme, pupuk, atau pakan magot. Ini adalah peluang usaha sekaligus kontribusi bagi bumi,” jelas Asriafi.</p>



<p>Dzaki menambahkan bahwa pengolahan limbah MBG bukan sekadar inovasi individu. “Ini adalah gerakan kolektif. Kita bisa menginspirasi desa lain untuk memanfaatkan limbah, mengurangi sampah, dan menciptakan peluang ekonomi baru,” ujarnya.</p>



<p>Menurut Asriafi, potensi ekonomi dari eco enzyme cukup menjanjikan. Satu liter eco enzyme bisa dijual dengan harga yang kompetitif, sementara pupuk cair atau pakan magot juga memiliki pasar tersendiri, baik untuk petani maupun pengusaha kecil.</p>



<p>Lebih dari itu, program ini menumbuhkan jiwa wirausaha hijau generasi muda belajar mengelola bisnis sambil peduli lingkungan. Eco enzyme menjadi simbol bagaimana kreativitas bisa mengubah masalah menjadi solusi bernilai.</p>



<p>Dengan kolaborasi yang terus berkembang, limbah MBG kini memiliki wajah baru, yaitu dari sisa makanan menjadi eco enzyme, pupuk, dan pakan, sekaligus media edukasi, peluang usaha, dan pemberdayaan generasi muda.</p>



<p>Dzaki menutup perbincangan dengan keyakinan: “Kita membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa berdampak besar. Limbah MBG bukan lagi sampah, tapi modal untuk masa depan yang lebih hijau, kreatif, dan mandiri. <strong>(kom/adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226450</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Festival Tempe Desa Beji, Siapkan 2 Kuintal Kedelai untuk Diolah Jadi Sajian Makanan Inovasi Baru</title>
		<link>https://memontum.com/festival-tempe-desa-beji-siapkan-2-kuintal-kedelai-untuk-diolah-jadi-sajian-makanan-inovasi-baru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jul 2023 10:39:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[Batu]]></category>
		<category><![CDATA[beji,]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[diolah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[jadi]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kedelai]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[kuintal]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[sajian]]></category>
		<category><![CDATA[siapkan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempe]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=193151</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Festival Tempe yang digelar Pemerintah Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, yang berlangsung 13 sampai 15 Juli 2023, dipastikan akan berlangsung meriah. Itu karena, panitia menyiapkan 2 kuintal kedelai untuk diolah menjadi tempe. Sedangkan, dari kreasi kedelai menjadi tempe, ini ternyata mewujudkan inovasi baru pembuatan mie yang berasal dari kulit kedelai. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Festival Tempe yang digelar Pemerintah Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, yang berlangsung 13 sampai 15 Juli 2023, dipastikan akan berlangsung meriah. Itu karena, panitia menyiapkan 2 kuintal kedelai untuk diolah menjadi tempe. Sedangkan, dari kreasi kedelai menjadi tempe, ini ternyata mewujudkan inovasi baru pembuatan mie yang berasal dari kulit kedelai.</p>



<p>Kepala Desa Beji, Deny Cahyono, mengatakan Festival Tempe yang digelar tersebut sudah menjadi agenda tahunan. Dan, tahun 2023 ini merupakan tahun ke empat digelar acara itu.</p>



<p>&#8220;Tahun 2023 ini adalah tahun keempat digelarnya Festival Tempe. Dan, dalam kegiatan ini disiapkan 2 kuintal kedelai untuk diolah warga dari beberapa dusun dan tingkat rukun warga, secara bersamaan untuk dijadikan tempe. Dalam acara puncak nanti, tempe yang sudah jadi itu diolah lagi menjadi makanan,&#8221; terangnya di lokasi Festival Tempe di Desa Beji, Kamis (13/07/2023) tadi.</p>



<p>Sebenarnya, ujar Deny, olahan kedelai bukan hanya bisa dijadikan tempe semata. Warga pengrajin tempe, pun berhasil juga membuat olahan tempe menjadi makanan ringan. Seperti brownies, puding, sate, keripik.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>





<p>Bahkan, selain kedelainya yang bisa diolah, kulit kedelai juga bisa diolah menjadi mie yang selama ini dinamakan mie Sule. Mie ini pernah mendapatkan penghargaan inovasi teknologi pangan tahun 2022 lalu.</p>



<p>&#8220;Jadi, tujuan dari festival ini tentunya untuk mengenalkan lebih jauh, bagaicaranya pengolahan kedelai menjadi tempe. Lalu, bagaimana selanjutnya olahan tempe itu bisa diproses ke olahan lain. Dan, untuk kulit kedelainya juga bisa diolah menjadi mie. Tentunya, disinilah masyarakat luas juga bisa mengetahui bahwa Desa Beji adalah sentra produksi tempe di Kota Batu,&#8221; urainya.</p>



<p>Mengenai pengrajin tempe, jelas Deny, tercatat sejak Januari 2023 di Desa Beji sebanyak 263. Sedangkan, setiap harinya untuk kedelai yang dibutuhkan setiap harinya oleh para warga pengrajin tempe ini mencapai 7 ton.</p>



<p>&#8220;Yang jelas, kami berharap dari tempe ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Untuk itu, melalui Festival Tempe ini tentunya secara langsung wisatawan dan masyarakat luar akan mengenal edukasi tempe dan bisa berkunjung disini,&#8221; paparnya. <strong>(put/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">193151</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
