<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Gerabah &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/gerabah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Mar 2020 10:43:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Gerabah &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Era Modern, Gerabah Masih Tetap Berjuang Puluhan Tahun</title>
		<link>https://memontum.com/era-modern-gerabah-masih-tetap-berjuang-puluhan-tahun</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2020 10:43:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Gerabah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengrajin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=109242</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Meski perkembangan zaman mulai modern, seorang ibu rumah tangga di Kota Keripik Tempe tetap menekuni usaha sebagai pembuat gerabah. Sejak 1975 lalu, Sumiati warga Desa Tamanan, Kecamatan Trenggalek, menekuni usaha ini. Di masanya, Desa Tamanan dikenal sebagai daerah pengrajin gerabah. Namun kini hanya menyisakan segelintir saja yang masih mau melanjutkan usaha tersebut. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Meski perkembangan zaman mulai modern, seorang ibu rumah tangga di Kota Keripik Tempe tetap menekuni usaha sebagai pembuat gerabah. Sejak 1975 lalu, Sumiati warga Desa Tamanan, Kecamatan Trenggalek, menekuni usaha ini.</p>
<p>Di masanya, Desa Tamanan dikenal sebagai daerah pengrajin gerabah. Namun kini hanya menyisakan segelintir saja yang masih mau melanjutkan usaha tersebut.</p>
<p>Dengan memakai alat berupa batu dan tatap, Sumiati mulai membuat bagian tengah kuali atau lambung. Tangan kirinya menggenggam batu, tangan itu berada di sisi dalam kuali. Dan tangan kanan memegang alat tatap.</p>
<p>Tak..tak..nada yang ditimbulkan ketika alat itu dipukulkan tidak terlalu kuat pada bagian luar kuali.</p>
<p>Sedangkan kaki kiri Sumiati menyentuh perbot, sesekali kakinya mengangguk-angguk hingga menggerakkan alat putar itu. Alat itu memutar dengan kecepatan yang konsisten.</p>
<p>“Ini lagi membuat lambung, dibentuk agak melengkung,” terangnya.</p>
<p>Keahliannya membentuk gerabah itu dia pelajari sejak umurnya masih 17 tahun. Dahulu, Sumiati belajar membuat gerabah dengan Ibunya.</p>
<p>Dia belajar membuat kuali dengan tujuan untuk untuk mencari pundi-pundi rupiah, dengan menjual kuali-kuali tersebut.</p>
<p>Ada dua ukuran gerabah yang diproduksi Sumiati, yaitu sedang dan kecil. Dia menjual kuali yang ukuran sedang itu dengan harga Rp 7500, sedangkan ukuran kecil hanya Rp 3500. Padahal kuali itu kalau semakin kena panas maka semakin kuat, bahkan bisa sampai setahun lebih.</p>
<p>&#8220;Kuat hanya dalam artian khusus, karena kuali itu akan rusak ketika mengalami benturan keras bisa bertahan selama dua tahun bisa,” imbuhnya.</p>
<p>Dari masa ke masa, Sumiati merasakan ada perubahan tren yang drastis. Dulu Desa Tamanan sempat dikenal sebagai komoditas perajin gerabah, karena nyaris setiap inci orang-orang di desa itu memiliki pekerjaan serupa.</p>
<p>Namun mendekati tahun milenium baru pada abad 21-an, generasi lama pembuat gerabah signifikan menurun, karena usaha itu dinilai tak memberikan keuntungan yang cocok.</p>
<p>“Dulu sampai delapan pembeli yang beli ke saya, tapi sekarang tinggal satu,” ujarnya.</p>
<p>Menurut nenek dengan enam cucu itu, usaha gerabah semakin punah karena orang tidak lagi membutuhkan kuali seperti dulu.</p>
<p>Gerabah dulu adalah alat pokok untuk memasak makanan, namun kini sudah alat pemanas nasi, wajan dengan bahan lain, dan panci untuk merebus.</p>
<p>Orang memasak pun kini tidak ada lagi yang menggunakan kompor tungku, tapi pakai kompor gas.</p>
<p>“Sekarang konsumennya terbatas, bukan buat masak sayur, tapi untuk membuat jamu,” ujarnya.</p>
<p>Di tengah usia yang semakin lanjut itu, Sumiati mengaku akan tetap meneruskan usaha dari warisan orang tuannya, biarpun ketiga anaknya tidak ada yang ikut meneruskan usahanya.</p>
<p>Dia meneruskan usaha itu karena tidak memiliki keahlian lain untuk mendapatkan penghasilan.</p>
<p>“Saya hanya bisa kerja begini, tida punya keahlian lain,” katanya.</p>
<p>Di sebuah teras rumah nenek yang berusia 62 tahun terlihat beberapa kuali di jemur di bawah terik matahari.</p>
<p>Ukuran kuali-kuali itu disebutnya dengan ukuran sedang, karena kalau besar bisa sampai berukuran melebihi 30 cm.</p>
<p>Dia mengaku tidak memproduksi gerabah dalam ukuran besar, karena mengingat kulit dan tulangnya semakin melekat. Sehingga tenaganya pun jadi lebih terbatas.<strong> (mil/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">109242</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemdes Pagelaran Bersiap Dirikan Show Room Gerabah</title>
		<link>https://memontum.com/pemdes-pagelaran-bersiap-dirikan-show-room-gerabah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jan 2020 11:26:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Pagelaran]]></category>
		<category><![CDATA[Gerabah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/105276-pemdes-pagelaran-bersiap-dirikan-show-room-gerabah</guid>

					<description><![CDATA[Jemput Wisatawan dan Kenalkan Produk Unggulan Desa Malang, Memontum &#8211; Gerabah adalah jenis perabot rumah tangga seperti cobek, gendok kendi, tungku, wajan penggorengan kopi, guci dan souvenir yang terbuat dari tanah liat.Proses pembuatan cukup menghandalkan kaki dan tangan pengrajin. Namun hasilnya tak kalahkan produksi modern dengan menggunakan mesin. Para pengrajin gerabah ini dominan di Kampung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Jemput Wisatawan dan Kenalkan Produk Unggulan Desa</h2>
<p><strong>Malang, Memontum</strong> &#8211; Gerabah adalah jenis perabot rumah tangga seperti cobek, gendok kendi, tungku, wajan penggorengan kopi, guci dan souvenir yang terbuat dari tanah liat.Proses pembuatan cukup menghandalkan kaki dan tangan pengrajin. Namun hasilnya tak kalahkan produksi modern dengan menggunakan mesin.</p>
<p>Para pengrajin gerabah ini dominan di Kampung Getaan, Desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Untuk mengoptimalkan strategi pemasaran produk unggulan desa ini, Moh Widodo SE, Kepala Desa Pagelaran bakal mendirikan show room gerabah, dengan tujuan untuk memperkenalkan produk tersebut kepada wisatawan yang berlalu lalang menuju Pantai selatan.</p>
<div id="attachment_105278" style="width: 760px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-105278" decoding="async" class="size-full wp-image-105278" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0081-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="Sukat Salah Seorang Pengrajin Gerabah. (sur) " width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0081-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0081-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0081-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0081-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-105278" class="wp-caption-text">Sukat Salah Seorang Pengrajin Gerabah. (sur)</p></div>
<p>Disisi lain, Widodo berharap, ke depan dusun ini menjadi wisata edukasi kampung gerabah.</p>
<p>&#8220;Untuk jumlah pengrajin gerabah di Kampung Getaan saat ini ada sekitar 150 orang tepatnya di RT18, 19, 20 dan RT21 RW2C, &#8221; jelas Widodo Kamis (30/1/2020) siang.</p>
<p>Ditambahkannya, untuk pendirian show room nanti, pihaknya akan memanfaatkan gedung PGRI yang dulu dibangun dengan menggunakan dana pribadi.</p>
<p>&#8220;Rencananya kami akan bikin gedung PGRI baru.Tetapi seperti apa mekanismenya masih kami bicarakan,&#8221; ulasnya.</p>
<div id="attachment_105277" style="width: 760px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-105277" decoding="async" class="size-full wp-image-105277" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0082-copy.jpg?resize=740%2C493&#038;ssl=1" alt="Gapura Masuk Kampung Getaan. (Sur)" width="740" height="493" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0082-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0082-copy.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0082-copy.jpg?resize=600%2C400&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/01/IMG-20200130-WA0082-copy.jpg?resize=200%2C133&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-105277" class="wp-caption-text">Gapura Masuk Kampung Getaan. (Sur)</p></div>
<p>Terlepas dari itu, Widodo juga berharap, kampung Getaan ini menjadi wisata edukasi gerabah. Selain membeli gerabah, pengunjung juga bisa belajar cara membuat kerajinan gerabah yang sudah ditekuni warga sejak puluhan tahun.</p>
<p>Guna mewujudkan niat Getaan menjadi kampung gerabah, saat ini Pemdes Pagelaran tengah membuat gapura yang dikemas dengan dua buah guci raksasa.</p>
<p>&#8220;Maksud dibuatnya gapura berbentuk guci raksasa ini,supaya pengunjung nantinya tahu,bahwa kampung Getaan ini dominan pengrajin gerabah,&#8221; terang salah seorang warga.</p>
<p>Sementara itu, Sukat salah seorang pengrajin gerabah mengaku, saat ini yang paling laku dipasaran adalah gendok kecil tempat ari-ari bayi.Dalam satu hari Sukat dapat menjual gendok tersebut hingga 100 biji dengan harga satuan Rp 1300.</p>
<p>&#8220;Gendok itu diambil oleh pengepul untuk dikirim ke Rumah Sakit,&#8221; jelasnya.<strong> (sur/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">105276</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
