<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>gribig &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/gribig/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Apr 2025 11:26:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>gribig &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>HUT Ke-111 Kota Malang, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ziarah ke Makam Ki Ageng Gribig</title>
		<link>https://memontum.com/hut-ke-111-kota-malang-wali-kota-dan-wakil-wali-kota-ziarah-ke-makam-ki-ageng-gribig</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[ke-111]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=220926</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dalam rangkaian Peringatan HUT ke-111 Kota Malang, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, bersama Forkopimda dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Malang, berziarah ke Makam Ki Ageng Gribig, Selasa (08/04/2025) tadi. Secara bersama-sama, rombongan berangkat dari Balai Kota Malang dengan menaiki Bus Malang City [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dalam rangkaian Peringatan HUT ke-111 Kota Malang, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, bersama Forkopimda dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Malang, berziarah ke Makam Ki Ageng Gribig, Selasa (08/04/2025) tadi. Secara bersama-sama, rombongan berangkat dari Balai Kota Malang dengan menaiki Bus Malang City Tour (Macito), yang salah satunya dikemudikan langsung oleh Wali Kota Malang.</p>



<p>Sesampainya di area makam, rombongan melakukan ziarah ke komplek pesarean Ki Ageng Gribig dan beberapa pesarean lainnya termasuk ke Bupati Malang ke 1. Perlu diketahui, di kompleks pemakaman tersebut terdapat makam-makam para bupati terdahulu seperti Malang, Situbondo, Banyuwangi dan lainnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Usai berziarah, Wali Kota Wahyu Hidayat mengatakan ziarah ke makam tersebut penting dilakukan untuk mengenang para leluhur yang telah turut membangun daerah Kota Malang dan Jawa Timur. &#8220;Ini untuk menghormati bagaimana perjuangan luhur. Kita bisa jadi seperti ini, tentu adalah perjuangan dari luhur-luhur kita,&#8221; tambah Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Ditambahkannya, pihaknya berdoa kepada para leluhur, untuk bisa menjalankan Pemerintahan Kota Malang 5 tahun ke depan dengan penuh amanah. &#8220;Perjuangan para leluhur yang memimpin Malang dahulu sangat berpengaruh positif terhadap pondasi pemerintahan daerah saat ini. Pondasi-pondasi tersebut, kini saya lanjutkan bersama Mas Wawali untuk membangun Kota Malang,&#8221; jelasnya. <strong>(pro/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220926</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadan, Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Gelar Tradisi Kirab Apem</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-ramadan-pokdarwis-pesarean-ki-ageng-gribig-gelar-tradisi-kirab-apem</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Feb 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[pesarean]]></category>
		<category><![CDATA[Pokdarwis]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=219710</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi. Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi.</p>



<p>Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang damai. Dalam pembuatan dan pembagian kue apem, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut.</p>



<p>&#8220;Konsep apem dalam megengan adalah simbol permohonan maaf dan refleksi diri sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini diwariskan oleh para tetua kami sebagai bentuk kesiapan spiritual dalam menyongsong bulan suci,&#8221; ujar Devi.</p>



<p>Sebagai bagian dari syiar Ramadan, kue apem tersebut tidak hanya dibuat dan dibagikan saja, namun juga dikirab keliling area makam Ki Ageng Gribig.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Dikirabnya apem ini bertujuan untuk syiar, grebek, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa besok sudah memasuki bulan puasa. Ini cara kami meramaikan sekaligus mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan suka cita,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Pada tahun ini, kue apem yang diproduksi ada sekitar 15 kilogram, di mana setiap kilogramnya menghasilkan sekitar 70 kue. Apem-apem tersebut nantinya akan dibagikan kepada masyarakat, pengunjung dan peziarah yang datang ke kompleks makam.</p>



<p>&#8220;Banyak warga yang juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan apem sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,&#8221; katanya.</p>



<p>Sebagai informasi, tradisi Kirab Apem di Pesarean Ki Ageng Gribig telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2020, setelah Pokdarwis resmi berdiri pada 2017. Sebagian besar peserta kirab berasal dari lingkungan sekitar, yang setiap tahunnya dengan antusias menjaga dan melestarikan budaya tersebut sebagai bagian dari wisata religi di kawasan makam Ki Ageng Gribig. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219710</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Terima Tambahan Rp 34 Miliar, DPUPRPKP Kota Malang Bidik Jalan Pasar Gadang hingga Gribig</title>
		<link>https://memontum.com/terima-tambahan-rp-34-miliar-dpuprpkp-kota-malang-bidik-jalan-pasar-gadang-hingga-gribig</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Nov 2024 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[DPUPRPKP]]></category>
		<category><![CDATA[gadang]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[miliar]]></category>
		<category><![CDATA[tambahan]]></category>
		<category><![CDATA[terima]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216383</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, mendapatkan tambahan pagu anggaran sebesar Rp 34 miliar, dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) APBD 2025. Penambahan itu, rencananya akan dipergunakan untuk perbaikan dan pelebaran jalan di Kota Malang. Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, mendapatkan tambahan pagu anggaran sebesar Rp 34 miliar, dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) APBD 2025. Penambahan itu, rencananya akan dipergunakan untuk perbaikan dan pelebaran jalan di Kota Malang.</p>



<p>Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menyampaikan jika tambahan pagu tersebut berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat dan juga dari anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur. &#8220;Jadi kami mendapatkan tambahan Rp 34 miliar itu dari DAK pusat dan senilai Rp 25 miliar untuk peningkatan jalan. Rencananya akan kami alokasikan untuk 4 lokasi,&#8221; kata Dandung, Senin (11/11/2024) tadi.</p>



<p>Salah satu lokasi yang menjadi fokusnya, yaitu jalan yang berada di daerah Pasar Gadang, Kecamatan Kedungkandang. Yakni, dengan dilakukan pengerasan cor dan perbaikan drainase. Dengan menggunakan cor tersebut diharapkan bisa lebih awet.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Karena selama ini selalu kami lakukan perbaikan, tapi karena aspal, setiap harinya kena siram entah itu air tahu, air laut, aspalnya mengelupas lagi. Makanya nanti akan kami ganti dengan cor, ini yang memang membutuhkan biaya agak besar,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Selain itu juga akan dilakukan pelebaran jalan di Jalan Gribig Sawojajar. Pengerjaan pelebaran jalan tersebut, menurutnya merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya yang sudah dilakukan dari Simpang Tiga Madyopuro hingga DAM Rolak.</p>



<p>&#8220;Nah ini nanti dilanjutkan dari Rolak sampai ke ujung jembatan Kedungkandang. Itu akan kami lakukan peningkatan jalan termasuk pelebaran sehingga nanti lebar jalannya sama seperti yang sudah ada sekarang,&#8221; imbuh Dandung.</p>



<p>Di akhir, Dandung berharap dengan adanya penambahan anggaran yang digunakan untuk perbaikan dan peningkatan jalan, nantinya dapat meningkatkan kenyamanan dan aksesbilitas masyarakat. Termasuk juga mengurangi kerusakan jalan akibat intensitas penggunaan yang tinggi. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216383</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Masuk Tahun Baru Muharram, Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig Malang Gelar Tradisi Mbubar Mbubur Suro</title>
		<link>https://memontum.com/masuk-tahun-baru-muharram-komplek-pesarean-ki-ageng-gribig-malang-gelar-tradisi-mbubar-mbubur-suro</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2023 08:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[ageng]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[gelar]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[komplek]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[mbubar]]></category>
		<category><![CDATA[mbubur]]></category>
		<category><![CDATA[muharram,]]></category>
		<category><![CDATA[pesarean]]></category>
		<category><![CDATA[sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[suro]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=193749</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, Kampung Gribig Religi (KGR) menghadirkan ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan Mbubar Mbubur Suro di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (19/07/2023) tadi. Ketua Pokdarwis KGR, Devi Nur Hadianto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari visi misi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, Kampung Gribig Religi (KGR) menghadirkan ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan Mbubar Mbubur Suro di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (19/07/2023) tadi.</p>



<p>Ketua Pokdarwis KGR, Devi Nur Hadianto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari visi misi pokdarwis untuk mengembangkan kepariwisataan, khususnya di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig tersebut. Terlebih, dalam setahun KGR menggelar enam acara yang berbeda-beda.</p>



<p>“Kami ada enam acara dalam setahun. Diantaranya, konsep bubur atau njenangan. Yang saat ini kita jalani, itu njenang suro atau mbubur suro. Ini telah kita awali pada tahun 2020 lalu, dengan harapan jejak kami sebagai objek wisata religi tetap eksis dan berkelanjutan sampai sekarang,” ujar Devi tadi.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>





<p>Kemudian, Devi juga menjelaskan bahwa bubur tersebut memiliki makna dan filosofi yang tersendiri. Bubur yang memiliki warna putih ini melambangkan awal tahun dan awal doa bagi masyarakat Jawa. Sehingga, tradisi tersebut mengajarkan untuk selalu berbaik sangka dan berharap kebaikan selama setahun ke depan.</p>



<p>“Kita orang jawa hendaknya selalu berbaik sangka. Mengawalinya itu pakai putih, sae, bagus. Dengan harapan dalam satu tahun ke depan apa yang kami harapkan, apa yang kita nikmatkan kepada tuhan semua baik-baik saja. Termasuk kepada semua yang ada di lingkungan masyarakat,” katanya.</p>



<p>Selain berwarna putih, bubur suro ini juga memiliki toping yang melambangkan awal penghidupan, seperti telur, ayam atau ikan, serta beberapa unsur lain. Terlebih, juga harus selalu disajikan dengan daun sebagai simbol harapan akan kehidupan dan doa untuk tahun-tahun mendatang.</p>



<p>“Menurut beberapa tetua kita, tradisi seperti itu jangan sampai diubah. Sebab ada harapan ada penghidupan, ada doa dan ada keinginan yang mungkin bisa terkabul di tahun-tahun yang akan datang,” tambahnya.</p>



<p>Berdasarkan perkembangan dari tahun ke tahun, acara tersebut mengalami peningkatan jumlah bubur yang dibuat. Jika pada tahun sebelumnya hanya sekitar 200 takir bubur yang dimasak, tahun ini jumlahnya meningkat hingga hampir 20 kilogram beras.</p>



<p>“Belum tahu ini nanti jadinya berapa, tapi semoga bisa mencapai sekitar 300 takir bubur untuk dibagikan kepada semua masyarakat yang hadir, baik yang datang untuk berziarah maupun berdoa di komplek makam Ki Ageng Gribig ini,” lanjutnya.</p>



<p>Meskipun bubur tersebut dibagikan kepada para pengunjung dan peziarah, namun tetap disajikan dengan cita rasa yang enak dan gurih. &#8220;Kami ingin setiap pengunjung dan peziarah yang datang agak banyak di bulan suro ini bisa mencicipi jenang suro atau bubur suro yang dibikin oleh pegiat atau masyarakat RW 4 atau sekitar makam ini. Agar sama sama merasakan kenikmatan bubur suro kami, sekaligus menganggapnya sebagai sesuatu yang lezat dan berkesan,&#8221; imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">193749</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
