<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Haram &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/haram/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 May 2019 11:32:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Haram &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Jual Beli Uang Baru Itu Haram !</title>
		<link>https://memontum.com/jual-beli-uang-baru-itu-haram</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2019 11:32:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli Uang]]></category>
		<category><![CDATA[MUI Kota Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/85170-jual-beli-uang-baru-itu-haram</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Setiap Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri, trend jual beli uang kembali marak dilakukan dalam transaksi di beberapa ruas jalanan Kota Malang, seperti kawasan Alun-alun Kota Malang, jalan Trunojoyo, Kertanegara, Basuki Rahmat, Kawi, dan lainnya. Modus yang dikemas yaitu penukaran uang. Hanya saja, harga yang ditebus ada nilai lebih dibandingkan uang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Setiap Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri, trend jual beli uang kembali marak dilakukan dalam transaksi di beberapa ruas jalanan Kota Malang, seperti kawasan Alun-alun Kota Malang, jalan Trunojoyo, Kertanegara, Basuki Rahmat, Kawi, dan lainnya. Modus yang dikemas yaitu penukaran uang. Hanya saja, harga yang ditebus ada nilai lebih dibandingkan uang yang ditukarkan. Bahkan, ada dugaan nakal yang dilakukan penjual dengan mengurangi isi lembaran, dan parahnya ditemukan beberapa lembar uang palsu didalamnya.</p>
<p>Menyadari hal itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang kembali mengingatkan masyarakat terkait keputusan hukum jual-beli uang baru adalah haram. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang tergiur secara mudah membeli uang baru tanpa harus antri. MUI pun mengeluarkan surat edaran ke sejumlah instansi terkait putusan tersebut.</p>
<p>&#8220;Berkenaan dengan banyaknya pertanyaan dari berbagai kalangan tentang status hukum jual beli mata uang, maka MUI Kota Malang memutuskan bahwa transaksi jual beli uang hukumnya haram,&#8221; kata Ketua MUI Kota Malang, KH Baidowi Muslich.</p>
<p>Salah satu pengasuh Ponpes di kawasan Gading Kasri ini menjelaskan, transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh. Namun ada sejumlah syarat dan ketentuan, misalnya tidak ada spekulasi, ada kebutuhan transaksi atau simpanan. &#8220;Jika transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis, maka nilainya harus sama dan secara tunai. Namun apabila lain jenis, maka harus dilakukan dengan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai,&#8221; terangnya.</p>
<p>Terkait kasus jual-beli mata uang di jalanan, tergolong haram jika terpenuhi unsur riba dalam proses tukar menukarnya. &#8220;Contohnya, uang Rp 100 ribu ditukar dengan perjanjian jadi Rp 120 ribu. Yang demikian ini terdapat unsur diperjanjikan keuntungan, sehingga tukar menukar yang demikian tergolong riba yang haram hukumnya,&#8221; tegas KH. Baidowi.</p>
<p>Disebutkannya, tukar menukar seharusnya sesuai dengan nilai awal atau tidak ada unsur diperjanjikan. Misalnya, uang Rp 100 ribu yang ditukar, akan mendapatkan uang dengan nilai yang sama yakni Rp 100 ribu. &#8220;Tetapi jika ada unsur tolong menolong dan tanpa unsur diperjanjikan, maka proses tukar menukar yang dilanjutkan dengan uang tanda terima kasih, hukumnya diperbolehkan,&#8221; tambah KH. Baidowi</p>
<p>KH Baidowi pun mengimbau agar mayarakat menggunakan jalur resmi dalam penukaran uang tersebut. &#8220;Kan pemerintah melalui Bank Indonesia atau bank-bank lain itu sudah memberikan fasilitas penukaran uang. Itu gratis, jadi boleh. Kalaupun malas antre, bisa disiasati menukarkan di awal Ramadan,&#8221; tandas KH. Baidowi. <strong>(adn/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">85170</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
