<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Harga Turun &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/harga-turun/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2020 14:33:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Harga Turun &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Petani Tembakau ‘Menjerit’</title>
		<link>https://memontum.com/petani-tembakau-menjerit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2020 14:33:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bondowoso]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Turun]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Tembakau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=123481</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Bondowoso &#8211; Petani tembakau menjerit karena harga tembakau turun hingga 25% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebutan tanaman mas untuk tembakau tidak berlaku lagi. Ditambah lagi sampai saat ini, Pabrik Rokok (PR) yang beroperasi di Bondowoso belum melakukan pembelian terhadap tembakau milik petani. Lengkaplah penderitaan petani tembakau. Menurut Ketua DPC APTI (Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Bondowoso</strong> &#8211; Petani tembakau menjerit karena harga tembakau turun hingga 25% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebutan tanaman mas untuk tembakau tidak berlaku lagi. Ditambah lagi sampai saat ini, Pabrik Rokok (PR) yang beroperasi di Bondowoso belum melakukan pembelian terhadap tembakau milik petani. Lengkaplah penderitaan petani tembakau.</p>
<p>Menurut Ketua DPC APTI (Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Bondowoso, Mohammad Yasid, hanya sebagian kecil gudang milik PR yang melakukan pembelian tembakau. “Sekarang sudah masa panen tembakau. Kalau hasil panen petani tidak segera dibeli, bisa rugi. Padahal biaya produksinya bukan modal sendiri, hasil pinjaman,” kata Yasid, panggilannya.</p>
<p>Sebetulnya, kata Yasid, sudah ada kemitraan antara petani tembakau dengan PR. Tapi pola kemitraan tersebut tidak bisa mendongkrak harga yang turun hingga 25%. Seakan-akan pola kemitraan tersebut tidak ada manfaatnya. “Kami, tanggal 1 September 2020 mendapat daftar harga tembakau dari PR. Setelah saya bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, harganya turun hingga 25%,” terangnya.</p>
<p>Riil dilapangan, average atau rata-rata harga tembakau perkilo, sekitar Rp 19.000,00. Walaupun ada juga yang berharga Rp 22.000,00. Dengan harga seperti itu, petani rugi. “Pada tahun sebelumnya, panen pertama harganya mencapai Rp 30.000,00/kg. Sekarang harganya antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu,” keluh Yasid sambil garuk-garuk kepala.</p>
<p>Yasid juga mengeluhkan sikap Gudang PR yang pilih-pilih daun tembakau. Sehingga menambah tembakau milik petani yang tidak bisa terjual. “Saya berharap pemerintah membantu petani,” harapnya. <strong>(sam/mzm)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123481</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tak Mau Merugi, Petani Cabai Poncokusumo Pilih Duduk Manis</title>
		<link>https://memontum.com/tak-mau-merugi-petani-cabai-poncokusumo-pilih-duduk-manis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2020 10:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[cabai]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Turun]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[Poncokusumo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=123386</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Petani cabai di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang mengeluh karena harga cabai turun drastis, dari sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram kini tinggal Rp 17 ribu per kilogram. Cabai yang seharusnya sudah siap panen sengaja dibiarkan karena takut merugi akan operasional tenaga kerja. Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Poncokusumo Syaiful [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Petani cabai di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang mengeluh karena harga cabai turun drastis, dari sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram kini tinggal Rp 17 ribu per kilogram.</p>
<p>Cabai yang seharusnya sudah siap panen sengaja dibiarkan karena takut merugi akan operasional tenaga kerja.</p>
<p>Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Poncokusumo Syaiful Asyari, memang untuk saat ini petani lebih memilih tidak memanen cabai dikarenakan beaya pengeluaran untuk operasional tenaga kerja terlalu tinggi. &#8220;Biaya operasionalnya sekitar 3 ribu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Petani cabai kini lebih memilih duduk manis dan bersiap menerima kerugian besar.</p>
<p>Sebagai gambaran, lanjut Syaiful dalam satu hektar lahan lahan tanaman cabai, petani butuh beaya sebanyak 50 Juta rupiah.</p>
<p>Kabupaten Malang, termasuk Kecamatan Poncokusumo merupakan salah satu produsen cabai terbesar selain Pujon dan Wajak dengan akumulasi dalam satu hari menghasilkan puluhan ton cabai yang biasa dikirim ke sejumlah kota kota besar di Jatim.</p>
<p>&#8220;Untuk cabai keriting dalam 1 hari menghasilkan 40 ton sedangkan cabai rawit sekitar 25 ton,&#8221; tegasnya saat diwawancarai awak media.</p>
<p>Untuk sementara waktu, Syaiful memberikan saran untuk petani cabai agar lebih memahami kebutuhan tanaman. &#8220;Pemberian pupuk dan obat-obat lain sebisa mungkin jangan sampai berlebihan agar biaya tidak membengkak,&#8221; tutupnya.<strong> (syn)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123386</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
