<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Hindu &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/hindu/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Nov 2025 12:42:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Hindu &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kunjungi Persembahyangan Umat Hindu, Jember Rumah Besar Keberagaman Miniatur of Indonesia</title>
		<link>https://memontum.com/kunjungi-persembahyangan-umat-hindu-jember-rumah-besar-keberagaman-miniatur-of-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2025 08:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keberagaman]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungi]]></category>
		<category><![CDATA[miniatur]]></category>
		<category><![CDATA[persembahyangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=228011</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa Kabupaten Jember adalah kota toleransi, rumah besar bagi keberagaman seluruh adat budaya, suku, ras hingga agama. Pernyataan itu disampaikannya, saat melakukan kunjungan ke area persembahyangan Umat Hindu di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, Sabtu (22/11/2025) tadi. Kunjungan yang dilakukan ini, menjadi wujud penghormatan pemerintah daerah terhadap keberagaman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa Kabupaten Jember adalah kota toleransi, rumah besar bagi keberagaman seluruh adat budaya, suku, ras hingga agama. Pernyataan itu disampaikannya, saat melakukan kunjungan ke area persembahyangan Umat Hindu di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, Sabtu (22/11/2025) tadi.</p>



<p>Kunjungan yang dilakukan ini, menjadi wujud penghormatan pemerintah daerah terhadap keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan di Kabupaten Jember. Bupati Fawait sendiri, hadir untuk menyapa Umat Hindu, masyarakat setempat yang melakukan persiapan pelaksanaan Upacara Melasti. Hal ini, sekaligus mempertegas komitmen Jember sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan harmoni antar umat beragama.</p>



<p>Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait-sapaan Bupati Jember, menyampaikan bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai bagian dari agenda Bunga Desaku ke-7, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada keberagaman masyarakat Jember yang hidup berdampingan dalam bingkai NKRI. “Alhamdulillah, dalam kesempatan Bunga Desa ke-7 ini, kami bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari Umat Hindu yang memiliki tempat peribadatan di Pantai Selatan, tepatnya di Pantai Paseban,” kata Gus Fawait.</p>



<p>Bupati Fawait juga menegaskan, bahwa Jember telah bertekad mentasbihkan diri sebagai miniatur of Indonesia, rumah besar bagi semua agama, suku, golongan dan organisasi masyarakat. Bupati menyoroti, bahwa keberagaman tersebut tampak nyata dalam kebersamaan seluruh pihak yang ikut mendampingi kegiatan Bunga Desaku, mulai dari Dinas Perhubungan, Satpol PP, TNI, Polri, hingga organisasi masyarakat seperti Ansor, Banser dan Kokam Muhammadiyah.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Di Jember hari ini, kita harus memperkuat diri sebagai rumah besar semua organisasi yang sesuai dengan NKRI. Rumah besar semua kebudayaan, semua kesenian, bahkan semua agama,” tegasnya.</p>



<p>Selain menyapa Umat Hindu yang sedang mempersiapkan pelaksanaan ibadah mereka, Gus Fawait juga menyampaikan informasi tentang rencana pembukaan rute penerbangan Bali &#8211; Jember. Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat memberikan kemudahan mobilitas bagi Umat Hindu yang kerap beraktivitas ke wilayah selatan Jember maupun kawasan Senduro di Kabupaten Lumajang.</p>



<p>“Harapannya, saudara-saudara kita dari Bali yang ingin melaksanakan persembahyangan atau wisata spiritual ke Paseban ataupun ke Senduro, tidak lagi harus melalui jalur darat sepenuhnya. Mereka bisa terbang ke Jember, transit dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dengan lebih efisien,” tambah Bupati Fawait.</p>



<p>Kunjungan ini menjadi penegasan, bahwa Pemerintah Kabupaten Jember tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat ruang kebersamaan dan toleransi antar umat beragama. Program Bunga Desaku kembali menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, memperlihatkan bagaimana kehadiran negara dapat dirasakan langsung hingga ke tingkat desa. <strong>(kom/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228011</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ratusan Umat Hindu Malang Raya Lakukan Upacara Ngembak Geni di Candi Badut</title>
		<link>https://memontum.com/ratusan-umat-hindu-malang-raya-lakukan-upacara-ngembak-geni-di-candi-badut</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2023 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=185537</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Warga Umat Hindu Malang Raya, usai melakukan perayaan Hari Raya Nyepi, pada Rabu (22/03/2023) kemarin, kini berlanjut dengan menggelar upacara Ngembak Geni di area Candi Badut, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Kamis (23/03/2023) siang. Dalam upacara tersebut, turut hadir Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, Ketua Parisada Hindu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Warga Umat Hindu Malang Raya, usai melakukan perayaan Hari Raya Nyepi, pada Rabu (22/03/2023) kemarin, kini berlanjut dengan menggelar upacara Ngembak Geni di area Candi Badut, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Kamis (23/03/2023) siang.</p>



<p>Dalam upacara tersebut, turut hadir Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, Putu Moda dan ratusan para umat Hindu Malang Raya.</p>



<p>Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, mengatakan bahwa Upacara Ngembak Geni dilakukan sebagai wujud syukur, karena sudah melalui Hari Raya Nyepi dengan Catur Bhrata penyepian. &#8220;Kami berkumpul melakukan Upacara Ngembak Geni ini untuk mengucapkan puji syukur kehadirat Sang Hyang Widi Wase, Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu, kita akan melakukan silaturahmi, maaf-maafan di antara sesama Umat Hindu,” ucap Made.</p>



<p>Kemudian, pihaknya berharap saat memasuki tahun Baru Saka 1945 ini, khususnya umat Hindu yang ada di Kota Malang, Malang Raya, maupun Indonesia, jauh akan lebih baik dari pada sebelumnya. Terlebih, menurutnya dalam menyambut pesta demokrasi.</p>



<p>“Semoga ke depan akan jauh lebih baik, apalagi sebentar lagi kita akan masuk dalam pesta demokrasi. Semua akan berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah dicanangkan dan kita bisa melalui itu semua dengan kebersamaan. Marilah semua bergandeng tangan dan saling silih mewangi, saling merangkul semua untuk menguatkan kita di hajat besar kita kedepan,” katanya.</p>



<p>Baca juga :</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/wali-kota-malang-pastikan-harga-bahan-pangan-turun">Wali Kota Malang Pastikan Harga Bahan Pangan Turun</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-ajak-masyarakat-taat-pajak-dan-tertib-laporan-spt-tahunan">Bupati Lumajang Ajak Masyarakat Taat Pajak dan Tertib Laporan SPT Tahunan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/1-270-pedagang-pasar-induk-gadang-direlokasi-swadaya-ke-lahan-sewa">1.270 Pedagang Pasar Induk Gadang Direlokasi Swadaya ke Lahan Sewa</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/soroti-masalah-pendidikan-di-kabupaten-malang-bupati-sanusi-terima-audiensi-bersama-bem">Soroti Masalah Pendidikan di Kabupaten Malang, Bupati Sanusi Terima Audiensi bersama BEM</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/tinjau-relokasi-pasar-induk-gadang-pemkot-malang-pastikan-pedagang-pindah-usai-lebaran">Tinjau Relokasi Pasar Induk Gadang, Pemkot Malang Pastikan Pedagang Pindah Usai Lebaran</a></li>
</ul>


<p>Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, Putu Moda, mengatakan jika makna dari nyepi sendiri yaitu kontemplasi (renungan). Dimana, dalam kondisi keheningan, digunakan untuk mengintropeksi perjalanan seorang diri.</p>



<p>“Sehingga ini akan menjadi renungan untuk melihat baik secara individu, hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan manusia. Itu disebut hening di dalam filsafat tri hita karana. Kita melihat tiga hubungan itu,” tutur Putu.</p>



<p>Sehingga menurutnya, pesan yang diambil melalui prosesi renungan tersebut yakni harus mencintai perbedaan, harus bersatu dalam perbedaan. Karena, dengan adanya rasa cinta itu menimbulkan kontrol satu sama lain.</p>



<p>“Tuhan sudah memberikan ke kita, seperti seorang laki-laki yang mencintai perempuan. Tidak mungkin laki-laki itu mencintai laki-laki, karena akan menimbulkan ketidakseimbangan alam. Kemudian, yang lebih beruntung mencintai yang kurang beruntung, yang punya jabatan harus mencintai yang tidak punya jabatan dan sebaliknya. Jadi kita mencintai perbedaan dengan rasa cinta,” imbuhnya.</p>



<p>Dalam upacara Ngembak Geni tersebut, para umat Hindu melakukan ritual doa dengan khusyu. Usai melakukan doa bersama, mereka juga melakukan salam-salaman antar umat, untuk saling mengucap permohonan maaf.</p>



<p>Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut juga telah diberikan penghargaan pada 10 perwakilan Ogoh-Ogoh, yang telah tampil pada Upacara Tawur Agung Kesanga, pada Selasa (21/03/2023) lalu. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">185537</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadiri Pawai Ogoh-ogoh Umat Hindu Suku Tengger, Wabup Jatim Dinobatkan Jadi Warga Kehormatan</title>
		<link>https://memontum.com/hadiri-pawai-ogoh-ogoh-umat-hindu-suku-tengger-wabup-jatim-dinobatkan-jadi-warga-kehormatan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Mar 2023 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pawai]]></category>
		<category><![CDATA[Pawai Ogoh-ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Wagub]]></category>
		<category><![CDATA[wagub jatim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=185558</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Ada yang menarik dalam Pawai Ogoh-ogoh Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Tosari, Selasa (21/03/2023) sore. Yakni, kehadiran Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak, yang turut menghadiri perayaan Umat Hindu, sekaligus dinobatkan menjadi warga kehormatan Suku Tengger. Dalam prosesi penobatan sebagai warga kehormatan tersebut, ditandai dengan pemasangan udeng khas Tengger ke kepala [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Ada yang menarik dalam Pawai Ogoh-ogoh Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Tosari, Selasa (21/03/2023) sore. Yakni, kehadiran Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak, yang turut menghadiri perayaan Umat Hindu, sekaligus dinobatkan menjadi warga kehormatan Suku Tengger.</p>



<p>Dalam prosesi penobatan sebagai warga kehormatan tersebut, ditandai dengan pemasangan udeng khas Tengger ke kepala Wabup Emil. &#8220;Saya bangga sekali hadir sore ini dan matur suwon, karena telah dinobatkan sebagai warga kehormatan Suku Tengger,&#8221; kata Wabup Emil.</p>



<p>Dirinya juga menyebutkan, Pemerintah Jawa Timur mengapresiasi kegiatan yang dihadiri setidaknya oleh ribuan masyarakat ini. Dirinya pun menyebut, Pawai Ogoh-ogoh di Kecamatan Tosari ini adalah kebersamaan dan kreatifitas warga.</p>



<p>&#8220;Mewakili pemerintah Jawa Timur, saya merasa bahagia karena warga bisa memperingati kembali setelah sebelumnya terjadi Covid-19,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Baca juga :</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/wali-kota-malang-pastikan-harga-bahan-pangan-turun">Wali Kota Malang Pastikan Harga Bahan Pangan Turun</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-ajak-masyarakat-taat-pajak-dan-tertib-laporan-spt-tahunan">Bupati Lumajang Ajak Masyarakat Taat Pajak dan Tertib Laporan SPT Tahunan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/1-270-pedagang-pasar-induk-gadang-direlokasi-swadaya-ke-lahan-sewa">1.270 Pedagang Pasar Induk Gadang Direlokasi Swadaya ke Lahan Sewa</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/soroti-masalah-pendidikan-di-kabupaten-malang-bupati-sanusi-terima-audiensi-bersama-bem">Soroti Masalah Pendidikan di Kabupaten Malang, Bupati Sanusi Terima Audiensi bersama BEM</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/tinjau-relokasi-pasar-induk-gadang-pemkot-malang-pastikan-pedagang-pindah-usai-lebaran">Tinjau Relokasi Pasar Induk Gadang, Pemkot Malang Pastikan Pedagang Pindah Usai Lebaran</a></li>
</ul>


<p>Ditambahkannya, Pawai Ogoh-ogoh ini adalah aset yang sangat luar biasa. Gerakan-gerakan Ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh anak-anak muda adalah kreatifitas luar biasa. &#8220;Ini bisa jadi aset festival, budayanya dan juga alamnya,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Mantan Bupati Trenggalek ini juga merasa takjub dan kagum, atas keberagaman budaya dan kerukunan umat beragama yang ada Tosari. Karenanya, hal ini harus tetap dijaga dan tidak heran dengan apa yang dilakukan warga Tosari, dianugerahi sebagai Kecamatan Bhinneka Tunggal Ika.</p>



<p>&#8220;Luar biasa damainya di sini. Sangat ramah dan hangat,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Sementara itu, Ketua PHDI Kecamatan Tosari, Suparji, menjelaskan bahwa kegiatan hari ini adalah rangkaian hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh Umat Hindu. Ogoh-ogoh sendiri adalah simbol, dari pada sifat-sifat negatif, yang nantinya setelah diupacarai akan dibawa ke desa-desa untuk dibakar.</p>



<p>&#8220;Nantinya Ogoh-ogoh akan dibawa ke desa masing-masing untuk dibakar. Adalah untuk membakar sifat-sifat negatif itu,&#8221; kata Parji. <strong>(kom/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">185558</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Jelang Nyepi, Jalan Menuju Bromo Ditutup</title>
		<link>https://memontum.com/jelang-nyepi-jalan-menuju-bromo-ditutup</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2021 14:42:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Wonokerto]]></category>
		<category><![CDATA[Ditutup]]></category>
		<category><![CDATA[Forkopimka]]></category>
		<category><![CDATA[gunung bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Memontum.com]]></category>
		<category><![CDATA[Pawai Ogoh-ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[protokol kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Tengger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=136803</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Probolinggo &#8211; Sejumlah ruas akses jalan masuk menuju obyek wisata Gunung Bromo, bakal dilakukan penutupan pada Minggu 14 Maret 2021 hingga Senin 15 Maret. Pasalnya di waktu&#160; itu, merupakan momen Hari Raya Nyepi 1943 Saka/2021 Masehi bagi Umat Hindu Suku Tengger yang tinggal di wilayah lereng Gunung Bromo. Untuk titik akses jalan yang bakal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Probolinggo</strong> &#8211; Sejumlah ruas akses jalan masuk menuju obyek wisata Gunung Bromo, bakal dilakukan penutupan pada Minggu 14 Maret 2021 hingga Senin 15 Maret.</p>



<p>Pasalnya di waktu&nbsp; itu, merupakan momen Hari Raya Nyepi 1943 Saka/2021 Masehi bagi Umat Hindu Suku Tengger yang tinggal di wilayah lereng Gunung Bromo.</p>



<p>Untuk titik akses jalan yang bakal ditutup, yakni jalur dari arah Probolinggo, ditutup di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Lalu dari arah Pasuruan, penutupan akses jalan dilakukan di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Sedangkan dari arah Lumajang dan Malang, penutupan dilakukan di Jemplang.</p>



<p>Terkait penutupan akses jalan sendiri, dimulai sejak pukul 00.00 WIB, Minggu 14 Maret 2021, lalu dibuka kembali pada pukul 06.00 WIB, Senin 15 Maret 2021. Sejumlah akses jalan yang ditutup, bakal dijaga oleh Forkopimka setempat, yang melibatkan unsur TNI/Polri, kecamatan dan masyarakat adat di daerah masing-masing.</p>



<p>Sementara guna menjaga kesakralan ritual Catur Bratha penyepian, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, bakal dijaga oleh sekitar 100 orang Jagabaya , yakni petugas keamanan adat Suku Tengger.</p>



<p>Nantinya mereka akan berjaga di desanya masing-masing, sekaligus sesekali berkeliling guna menjaga ritual Catur Bratha penyepian umat Hindu Suku Tengger agar berlangsung khidmat dan lancar.</p>



<p><strong><a href="https://memontum.com/136658-khawatir-banjir-susulan-puluhan-warga-di-dua-desa-probolinggo-pilih-bertahan-di-pengungsian#ixzz6p0FEELfL" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Baca Juga : Khawatir Banjir Susulan, Puluhan Warga di Dua Desa Probolinggo Pilih Bertahan di Pengungsian</a></strong></p>



<p>“Untuk mereka yang berjaga, tentunya tetap menjalankan protokol kesehatan, karena saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19,”ujar Bambang, Sabtu (13/03).</p>



<p>Bambang juga menyampaikan, semenjak dua tahun terakhir dampak pandemi Covid-19, serangkaian ritual upacara penyepian umat Hindu Suku Tengger di Bromo, tak semeriah dibanding tahun-tahun sebelumnya atau sebelum adanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Itu karena, kegiatan seperti Tawur Agung Kesanga, yang biasanya dimeriahkan pawai ogoh-ogoh, tak bisa digelar secara ramai seperti sebelum adanya pandemi. Salah satu alasannya, yakni mencegah terjadinya kerumunan.</p>



<p>“Kalo dulu itu ramainya, biasanya pas pawai ogoh-ogoh dijadikan satu di daerah Sumber, yakni di Jurang Kendil. Tapi kalo sekarang, meski ada ya, paling di desanya sendiri-sendiri. Selama upacara nyepi ini, serangkaian ritualnya tetap dilakukan tapi jumlah umatnya dikurangi,&#8221; imbuhnya</p>



<p>Meski demikian, Bambang menyebut, kondisi tersebut tak mengurangi kesakralan dan kehidmatan umat hindu Suku Tengger, dalam melangsungkan serangkaian upacara ritual penyepian.</p>



<p>“Harapan kami dimomen nyepi kali ini, semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Agar masyarakat di seluruh dunia, bisa hidup secara normal seperti sebelumnya,” harap Bambang.</p>



<p>Sekadar informasi, serangkaian upacara ritual penyepian sendiri meliputi Melasti yang digelar di Goa Widodaren, Tawur Agung Kesanga di Jurang Kendil, Catur Bratha Peyepian di rumah masing-masing dan Ngembak Geni di pura desa. <strong>(geo/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">136803</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Umat Hindu Se-Jember Sembahyang Galungan di Pura Swastidharma</title>
		<link>https://memontum.com/umat-hindu-se-jember-sembahyang-galungan-di-pura-swastidharma</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jul 2019 13:13:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[galungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten jember]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/89161-umat-hindu-se-jember-sembahyang-galungan-di-pura-swastidharma</guid>

					<description><![CDATA[Jember, Memontum &#8211; Minggu, 28 Juli 2019, dilaksanakan Persembahyangan sentral hari raya galungan merupakan tradisi umat hindu di kabupaten jember yaitu perayaan atau persembahyangan bersama umat hindu sekabupaten jember yang dilaksanakan pada hari minggu setelah hari raya. Perayaan Hari Raya Galungan merupakan sebuah perayaan hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), yaitu kemenangan kebenaran lewat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jember, Memontum </strong>&#8211; Minggu, 28 Juli 2019, dilaksanakan Persembahyangan sentral hari raya galungan merupakan tradisi umat hindu di kabupaten jember yaitu perayaan atau persembahyangan bersama umat hindu sekabupaten jember yang dilaksanakan pada hari minggu setelah hari raya.</p>
<p>Perayaan Hari Raya Galungan merupakan sebuah perayaan hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), yaitu kemenangan kebenaran lewat restu dari Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan yang Maha Esa bagi Umat Hindu yang setiap tahun dilaksanakan.</p>
<p>Seperti halnya yang di lakukan Umat Hindu se kabupaten Jember, di ketahui perhimpunan umat Hindu se Kabupaten jember melakukan tradisi turun temurun (persembahyangan) Sentral hari raya galungan di pura Swastidharma dusun krajan kidul desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember, Minggu (28/7/2019) malam.</p>
<p>Hadir dalam acara Persembahyangan tersebut kurang lebih 500 umat Hindu, juga hadir Ketua Parisada Hindu Dharma ( PHDI ) Kabupaten Jember, Ketua PHDI kecamatan Umbulsari, PHDI Kecamatan Jombang , PHDI Kecamatan Jombang.</p>
<p>Menurut Wahyu widodo S.A.g , pengawas guru agama hindu kabupaten jember &#8211; lumajang Hari raya galungan sendiri menggunakan perhitungan jawa dan jatuh pada hari rabu kliwon wuku dungulan dan pada hari itu umat hindu akan merayakan atau melaksanakan persembahyangan di pura sekitar tempat tinggal.</p>
<p>“Setelah itu pada hari Minggunya kami laksanakan persembahyangan sentral galungan, &#8221; ujar pria yang akrab disapa Widodo.</p>
<p>Dalam wawancaranya Widodo sedikit menjelaskan bahwa hari raya galungan waktu turunnya Bhuta Kala Tiga atau tiga kekuatan yang datang ke dunia untuk mengganggu umat manusia yakni Kala Dungulan, Kala Amangkurat dan Kala Galungan.</p>
<p>“Galungan ini menjadi perlambang dan momentum bahwa manusia bisa melawan musuh-musuhnya, baik musuh dalam diri dan di luar diri, dalam diri itu diantaranya hawa nafsu, kebencian, kemabukan dan kebingungan, sedangkan musuh luar diri adalah kemiskinan, kebodohan, penyakit dan sebagainya, ” pungkasnya.<strong> (yud/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">89161</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perusakan Sanggah Padmasari di Senduro Lumajang Terjadi Lagi</title>
		<link>https://memontum.com/perusakan-patung-hindu-di-senduro-lumajang-terjadi-lagi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Mar 2019 11:10:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[pengrusakan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=80480</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang – Lagi, Lumajang digemparkan dengan kabar perusakan simbol agama Hindu di Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur, Selasa (5/3/2019). Kali ini sanggah yang dirusak bukanlah patung yang berada di Pura Mandara Giri Agung Senduro. Akan tetapi merupakan sanggah Padmasari yang berada di pinggir jalan. Anggota Polsek Senduro Lumajang yang mengetahui kejadian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lumajang</strong> – Lagi, Lumajang digemparkan dengan kabar perusakan simbol agama Hindu di Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur, Selasa (5/3/2019). Kali ini sanggah yang dirusak bukanlah patung yang berada di Pura Mandara Giri Agung Senduro. Akan tetapi merupakan sanggah Padmasari yang berada di pinggir jalan.</p>
<p>Anggota Polsek Senduro Lumajang yang mengetahui kejadian tersebut dibantu anggota dari Polres Lumajang turun langsung ke tempat kejadian Setelah dikroscek secara langsung, memang benar telah terjadi pengrusakan sanggah padmasari di tiga tempat yang berbeda, yakni di dekat Jembatan Jurang gedok Jalan Desa Argosari Kecamatan Senduro, lalu di tikungan Jalan Desa Argosari Kecamatan Senduro, serta di Simpang tiga Bakalan Jalan Desa Argosari Kecamatan Senduro.</p>
<p><a href="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190306-WA0062-e1551870055472.jpg?ssl=1"><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-80462" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190306-WA0062-e1551870055472.jpg?resize=500%2C375&#038;ssl=1" alt="" width="500" height="375" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>AKBP Muhammad Arsal Sahban, Rabu (6/3/2019). menegaskan, kejadian itu tak ada kaitanya dengan unsur SARA. </p>
<p>“Secara tegas saya katakan tak ada keterkaitanya dengan unsur SARA. Saya sangat mengimbau kepada umat hindu untuk menahan diri dan tidak terprovokasi atas kejadian ini, karena memang hanya dilakukan oleh orang iseng saja. Selain itu meskipun agama Hindu adalah agama minoritas di Kecamatan Senduro. Nyatanya tak pernah ada penolakan kegiatan peribadatan selama ini,” kata Kapolres pada media.</p>
<p>Pihaknya berjanji, untuk berusaha mengungkap pelaku pengrusakan tersebut. “Saya tidak ingin masalah ini di plintir oleh orang-orang tak bertanggung jawab,” terang Arsal. </p>
<p>Sementara itu, Parisada Hindu Dharma Indonesia atau yang lebih dikenal PHDI Lumajang juga menyatakan, bahwa umat Hindu di Lumajang akan bersabar dan menahan diri serta melimpahkan segala urusan ke pihak yang lebih berwenang.</p>
<p>“Ini bukanlah sebuah penolakan terhadap kegiatan peribadatan umat Hindu. Saya yakin ini adalah orang iseng semata, kami tak pernah berkonflik dengan masyarakat Argosari selama ini. Kami juga sudah berkomunikasi langsung dengan Kepala Desa Argosari dan Kapolsek Senduro,” ungkap Edy Sumianto, ketua PHDI.</p>
<p>Tahun lalu Lumajang juga dihebohkan dengan peristiwa perusakan sejumlah simbol umat Hindu di Pura Mandara Giri Agung Semeru tepatnya Minggu (18/2/2018). Ada beberapa simbol yang mengalami kerusakan. Patung tersebut diduga dirusak menggunakan sebuah kapak. Namun hingga kini belum diketahui secara pasti siapa pelaku dan apa motif yang melatar belakangi perusakan tempat ibadah itu. <strong>(adi/yan/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">80480</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tari Rejang Renteng di atas Kabut Gunung Kawi</title>
		<link>https://memontum.com/tari-rejang-renteng-di-atas-kabut-gunung-kawi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 13:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Kawi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pura Giri Kawijayan]]></category>
		<category><![CDATA[Tari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=53811</guid>

					<description><![CDATA[* Piodalan Pura Giri Kawijayan 2018 &#160; Memontum Malang &#8211; Tari khas spiritual rejang rentang (dewa) diperagakan 27 perempuan, Kamis (30/8/2018) jelang sore, mengiringi Piodalan Pura Giri Kawijayan di Gunung Kawi. Umat Hindu, sejak siang melaksanakan giat dengan antusias. Dijelaskan Wadi, selaku ketua pelaksana kegiatan, ada sejumlah tahap yang terlaksana. Acara dimulai pukul 12.00 secara [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>* Piodalan Pura Giri Kawijayan 2018</strong></h2>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Tari khas spiritual rejang rentang (dewa) diperagakan 27 perempuan, Kamis (30/8/2018) jelang sore, mengiringi Piodalan Pura Giri Kawijayan di Gunung Kawi. Umat Hindu, sejak siang melaksanakan giat dengan antusias.</p>
<p>Dijelaskan Wadi, selaku ketua pelaksana kegiatan, ada sejumlah tahap yang terlaksana. Acara dimulai pukul 12.00 secara bertahap hingga malam atau selesai perkiraan pukul 20.00. Puncak acara Piodalan pada sore hari.</p>
<p><a href="https://memontum.com/53811-tari-rejang-renteng-di-atas-kabut-gunung-kawi/img_20180830_134527-copy" rel="attachment wp-att-53814"><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_134527-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="366" class="aligncenter size-full wp-image-53814" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_134527-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_134527-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_134527-copy.jpg?resize=120%2C69&amp;ssl=1 120w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>&#8220;Rangkaiannya bertahap, Piodalan, bahasa awamnya merayakan ulang tahun pura. Secara spirit mensucikan lagi, baik itu lingkungannya dan manusianya, &#8221; terang Wadi, Kamis (30/8/2018) siang, saat ditemui di halaman Pura Giri Kawijayan.</p>
<p>&#8220;Inti dari acara ini, ibarat baterai yang low, penuh kembali, aura positif, semangat terbangun, &#8221; urai Wadi kepada Memontum.com, Kamis (30/8/2018) siang.</p>
<p><a href="https://memontum.com/53811-tari-rejang-renteng-di-atas-kabut-gunung-kawi/img_20180830_143033-copy" rel="attachment wp-att-53815"><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_143033-copy.jpg?resize=650%2C400&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="400" class="aligncenter size-full wp-image-53815" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_143033-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_20180830_143033-copy.jpg?resize=300%2C185&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Dijelaskan Wadi, kegiatan serangkaian tahapan dimaksudkan supaya tempat mengeluarkan energi positif. Berkumpulnya energi positif, meningkatkan aura ibadah.</p>
<p>Pura Giri Kawijayan, tengah dibangun di tempat baru. Awalnya, pura berada di latar bawah. Kini bergeser ke permukaan yang lebih tinggi atau berjarak beberapa meter saja. Menuju pura, ada undakan. Proses pembangunan telah berlangsung 4 tahunan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">53811</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
