<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Infeksi &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/infeksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Aug 2019 10:29:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Infeksi &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Stunting Jangan Diremehkan, Anak Rentan Terserang Infeksi</title>
		<link>https://memontum.com/stunting-jangan-diremehkan-anak-rentan-terserang-infeksi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Aug 2019 10:29:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[RSUD Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Stunting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=89434</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Stunting merupakan masalah gizi yang saat ini tengah ramai dibicarakan. Stunting sendiri merupakan masalah yang diakibatkan karena seseorang tidak cukup mendapat asupan gizi yang berimbang sejak kecil atau bahkan sejak berada dalam kandungan. Salah satu Nutrisionist Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang, Eni Fitrianti Wijasari, S.Gz mengatakan, Stunting adalah salah satu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Stunting merupakan masalah gizi yang saat ini tengah ramai dibicarakan. Stunting sendiri merupakan masalah yang diakibatkan karena seseorang tidak cukup mendapat asupan gizi yang berimbang sejak kecil atau bahkan sejak berada dalam kandungan.</p>
<p>Salah satu Nutrisionist Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang, Eni Fitrianti Wijasari, S.Gz mengatakan, Stunting adalah salah satu permasalahan gizi tidak langsung yang dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.</p>
<div id="attachment_89437" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?ssl=1"><img aria-describedby="caption-attachment-89437" decoding="async" class="size-full wp-image-89437" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="Eni Fitrianti Wijasari, S.Gz, Nutrisionist RSUD Kota Malang" width="650" height="366" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?resize=600%2C338&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?resize=200%2C113&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG_1217.jpg?resize=120%2C69&amp;ssl=1 120w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a><p id="caption-attachment-89437" class="wp-caption-text"><strong>Eni Fitrianti Wijasari, S.Gz, Nutrisionist RSUD Kota Malang</strong></p></div>
<p>&#8220;Stunting itu penyebabnya masa lalu. Dalam artian, kekurangan gizi yang dialami seseorang saat masa pertumbuhan, atau juga bisa saat seorang anak masih berada dalam kandungan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurutnya, saat ini masih banyak orang yang belum menyadari bahwa stunting itu merupakan sebuah masalah kekurangan gizi sejak dini. Pasalnya, stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya.</p>
<p>Bahkan beberapa orang tua beranggapan, jika anaknya memiliki tinggi badan yang kurang, itu bukan merupakan sebuah masalah, selama sang anak masih bisa beraktifitas normal seperti anak yang lainnya.</p>
<p>&#8220;Masalahnya disitu, misalnya ada 10 anak yang tumbuh bersama, dan sebenarya dari 10 tersebut, delapan anak diantaranya tinggi badannya relatif sama dan kurang sesuai dengan usianya. Kebanyakan orang tua yang anaknya memiliki tinggi badan kurang akan berfikir anaknya baik-baik saja. Padahal mereka belum menyadari kalau anaknya kurang asupan gizi yang berimbang. Yang jika dibiarkan akan berdampak hingga anaknya tumbuh dewasa,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Lebih lanjut ia menjelaskan, selain berdampak pada kehidupan sosial seorang anak, stunting juga dapat mengakibatkan seorang anak rentan terserang infeksi.</p>
<p>&#8220;Kalau dampak sosial sudah jelas ya, kalau ada seorang anak memiliki tinggi badan yang kurang sesuai dengan usianya pasti bisa mengganggu aktifitasnya. Selain dampak sosial, seorang anak yang terkena stunting akan rawan terkena infeksi. Misalnya batuk pilek, batuk pilek yang terjadi secara berkelanjutan itu kan bisa dikarenakan seorang anak terkena infeksi,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Selain itu, ia menyebut jika stunting tidak ditangani sejak dini, dikhawatirkan stunting bisa berlanjut hingga dewasa, bahkan akan sangat berbahaya jika pada wanita yang sedang mengandung. Pasalnya, wanita yang sedang mengandung juga harus menahan beban atas kandungannya.</p>
<p>&#8220;Kalau ada seorang wanita stunting yang sedang hamil, itu juga beresiko. Jika tidak diberi penanganan yang tepat dengan asupan gizi yang berimbang, bisa mengakibatkan bayi yang berada dalam kandungan juga beresiko stunting,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Untuk itu, agar bisa mendeteksi sejak dini seorang anak mengalami stunting atau tidak, disarankan kepada para orang tua yang memiliki anak yang masih berusia dibawah lima tahun agar rutin memeriksakan tumbuh kembang sang buah hati ke puskesmas atau posyandu terdekat.</p>
<p>&#8220;Kalau ingin tahu anaknya stunting atau tidak, ya periksakan sang anak ke puskesmas atau posyandu. Untuk dapat mengetahui tinggi badan, berat badan apakah sudah sesuai dengan usianya,&#8221; katanya saat ditemui di ruang kerjanya.</p>
<p>Namun, asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh juga harus diimbangi dengan aktifitas seorang anak. Pasalnya, dengan aktifitas zat gizi akan dapat terserap ke dalam tubuh secara maksimal.</p>
<p>&#8220;Oleh karena itu, aktifitas anak itu juga sangat diperlukan dalam tumbuh kembang sang anak. Karena sebagai penyeimbang zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan dapat terserap lebih maksimal. Kadang kan ada orang tua bingung, anaknya mendapat asupan gizi yang cukup dengan susu, vitamin dan lainnya, tapi kok susah tinggi, nah itu berarti masih kurang terserap maksimal. Maka dari itu, aktifitas anak juga diperlukan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Untuk itu dia menyarankan kepada para orang tua agar rutin memeriksakan anaknya ke puskesmas atau posyandu untuk bisa mendeteksi stunting sejak dini, agar dapat diberi penanganan yang tepat.</p>
<p>&#8220;Bisa dengan vitamin atau yang lainnya. Karena pertumbuhan seseorang itu kan maksimal hingga usia 18-19 tahun. Jadi kalau sudah di atas 20 tahun kalau yang ingin bertambah tinggi badannya ya kemungkinan tidak bisa,&#8221; pungkasnya.<strong> (gim/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">89434</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ratusan Warga di Trenggalek Terinfeksi Virus Hepatitis</title>
		<link>https://memontum.com/ratusan-warga-di-trenggalek-terinfeksi-virus-hepatitis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jul 2019 11:54:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Hepatitis]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[RSUD dr Soedomo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=87250</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Hingga pertengahan tahun 2019, ratusan warga di Kabupaten Trenggalek dinyatakan menderita penyakit Hepatitis. Menurut informasi yang diterima, tercatat 303 pasien yang menderita penyakit Hepatitis baik A, B maupun C. Pada akhir bulan Juni 2019 kemarin, belasan warga Trenggalek dinyatakan positif menderita penyakit hepatitis A. Dari belasan pasien tersebut ada yang dinyatakan sembuh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Trenggalek </strong>&#8211; Hingga pertengahan tahun 2019, ratusan warga di Kabupaten Trenggalek dinyatakan menderita penyakit Hepatitis. Menurut informasi yang diterima, tercatat 303 pasien yang menderita penyakit Hepatitis baik A, B maupun C.</p>
<p>Pada akhir bulan Juni 2019 kemarin, belasan warga Trenggalek dinyatakan positif menderita penyakit hepatitis A. Dari belasan pasien tersebut ada yang dinyatakan sembuh serta lainnya masih menjalani perawatan medis.</p>
<p>Bagian Humas RSUD Dr Soedomo Trenggalek, Sudjiono mengatakan dari jumlah pasien yang menderita Hepatitis A, beberapa sempat dirawat di rumah sakit dan sebagian lainnya dirawat di Puskesmas.</p>
<p>&#8220;Dari belasan pasien yang dirawat di RSUD Dr Soedomo Trenggalek dan mendapatkan perawatan medis dapat diperbolehkan pulang. Sedangkan lainnya masih ada yang dirawat di Puskesmas terdekat, &#8221; ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (03/07/2019).</p>
<p>Dijelaskan Sudjiono, beberapa pasien yang dirawat di Puskesmas diantaranya 3 pasien ada di puskesmas Pandean, 3 pasien di Puskesmas Dongko, 1 pasien di Puskesmas Bodag, 2 pasien di Puskesmas Panggul, dan 1 pasien di Puskesmas Pule serta 1 pasien di rawat di Puskesmas Pogalan.</p>
<p>Guna mengantisipasi penularan Hepatitis, pihaknya menghimbau agar masyarakat menjaga kebersihan baik kebersihan makanan maupun kebersihan lingkungan.</p>
<p>&#8220;Kami sudah menghimbau kepada pasien penderita Hepatitis, keluarga pasien maupun masyarakat pada umumnya untuk selalu menjaga kebersihan baik dari segi makanan maupun lingkungan, &#8221; imbuhnya.</p>
<p>Sementara air, sejumlah pasien penderita Hepatitis juga sudah mendapatkan penanganan khusus dari petugas kesehatan. Bahkan bagi pasien yang dinyatakan positif menderita Hepatitis akan dirawat di ruangan khusus.</p>
<p>Masih terang Sudjiono, bagi pasien penderita Hepatitis memang akan mendapatkan penanganan dan ruangan khusus. Pasalnya, penanganan penyakit yang dibawa oleh virus tersebut memerlukan penanganan serius sesuai SOP yang ada.</p>
<p>&#8220;Hingga akhir bulan Juni kemarin ada 5 pasien yang dirawat disini. 5 diantaranya, 3 sudah boleh pulang, dan 2 lainnya masih dirawat di ruang isolasi, &#8221; tutur Sudjiono.</p>
<p>Untuk pasien Hepatitis yang diperbolehkan pulang tersebut dinilai layak untuk menjadi jalani rawat jalan. Mengingat hasil pemeriksaan dari dampak serangan virus Hepatitis A telah berangsur membaik.</p>
<p>Perlu diketahui sejak 5 bulan terakhir, sedikitnya 303 warga yang menderita Hepatitis beberapa diantaranya ada yang sudah sembuh, meninggal dunia dan ada yang masih menjalani perawatan di Rumah sakit maupun Puskesmas.<strong>(mil/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">87250</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dinkes Blitar Cegah dan Kendalikan Infeksi Agar Tak Berkembang</title>
		<link>https://memontum.com/dinkes-blitar-cegah-dan-kendalikan-infeksi-agar-tak-berkembang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jul 2018 15:50:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blitar]]></category>
		<category><![CDATA[Dinkes Kabupaten Blitar]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/47510-dinkes-blitar-cegah-dan-kendalikan-infeksi-agar-tak-berkembang</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Blitar &#8211; Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar Workshop Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) pada puskesmas yang ada di Kabupaten Blitar. Hal ini dilakukan karena hingga saat ini dunia kesehatan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah dalam infeksi terkait pelayanan kesehatan. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Blitar</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar Workshop Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) pada puskesmas yang ada di Kabupaten Blitar. Hal ini dilakukan karena hingga saat ini dunia kesehatan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah dalam infeksi terkait pelayanan kesehatan.</p>
<p>Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati mengatakan, kegiatan workshop yang menyasar seluruh puskesmas ini dibagi menjadi 3 gelombang. Setiap gelombang dilakukan selama 2 hari. Untuk gelombang pertama dilakukan pada 10 &#8211; 11 Juli 2018 lalu.</p>
<p>&#8220;Setiap puskesmas mengirimkan 5 petugasnya. Gelombang pertama kita lakukan tanggal 10 dan 11 Juli 2018. Untuk tanggal 10 Juli sudah kita lakukian, namun untuk tanggal 11 Juli baru kita tunda dan baru kita lakukan Senin (16/07/2018) ini, Hal ini kita lakukan karena saat itu narasumbernya dari PPI RSUD Wlingi tidak bisa, makanya ditunda,&#8221; kata dr. Christine Indrawati usai membuka workshop, Senin (16/07/2018).</p>
<p>Untuk workshop gelombang kedua, lanjut dr. Cristine,  direncanakan akan dilakukian pada 17 dan 18 Juli 2018. Sementara gelombang ketiga direncanakan pada 24 dan 25 Juli 2018 mendatang. </p>
<p>“Untuk gelombang ketiga, kemungkinan jadwalnya juga masih bisa berubah,” tandas Christine.</p>
<p>dr. Cristine menegaskan, pada pelayanan di Puskesmas dipastilkian ada kuman-kuman yang beredar. Baik dari pasien yang datang karena sakit maupun memang kuman dari pemberi layanan atau petugas dipuskesmas. </p>
<p>&#8220;Contohnya, seorang ibu menunggu anaknya opname di rumah sakit maupun puskesmas atau di klinik. Kemudian waktu pulang, si ibu yang awalnya sehat begitu pulang malah batuk maupun diare. Ini patut diduga kumannya berasal dari tempat anaknya dirawat,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Christine berharap, dengan adanya workshop ini kedepan kuman ada disekitar cukup selesai di lokasi dan tidak berkembang. Sehingga masyarakat  bisa sehat. </p>
<p>“Hasil pantauan selama ini masih banyak masyarakat yang sakit karena terkena infeksi kuman,” pungkas Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. <strong>(fzi/jar/yan)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">47510</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
