<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>ironi &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/ironi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2021 12:34:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>ironi &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Ardiansyah, Akhirnya Kembali Bersekolah</title>
		<link>https://memontum.com/ardiansyah-akhirnya-kembali-bersekolah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 May 2018 13:22:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[Dindik Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lamongan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=41795</guid>

					<description><![CDATA[Sempat Berhenti Sekolah karena Merawat Ibu Sakit &#160; Memontum Lamongan &#8212; Ardiyansyah, pelajar berumur 10 tahun yang terpaksa berhenti sekolah karena merawat ibu kandungnya yang sedang sakit akhirnya kembali ke bangku sekolah, Senin (7/5/2018). Pelajar yang masih duduk di kelas 5 SDN Kandangrejo, Desa Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring ini, berangkat ke sekolah bersama salah seorang guru [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Sempat Berhenti Sekolah karena Merawat Ibu Sakit</strong></h2>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Memontum Lamongan</strong> &#8212; Ardiyansyah, pelajar berumur 10 tahun yang terpaksa berhenti sekolah karena merawat ibu kandungnya yang sedang sakit akhirnya kembali ke bangku sekolah, Senin (7/5/2018).</p>
<p>Pelajar yang masih duduk di kelas 5 SDN Kandangrejo, Desa Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring ini, berangkat ke sekolah bersama salah seorang guru SD tempat Ardi menuntut ilmu, yaitu bersama Abdul Rouf, guru Pendidikan Agama. Selain bersama guru, Ardi juga diantar oleh sejumlah relawan Berkas yang selama ini sudah membujuk Ardi agar mau sekolah lagi.</p>
<p>Kembalinya Ardi ke sekolah inipun disambut riuh oleh teman-temannya. Begitu datang, Ardi langsung bersalaman dengan guru dan teman-temannya sesama siswa SDN Kandangrejo dan langsung mengikuti upacara bendera yang rutin digelar setiap Senin. Usai upacara, Ardi pun kembali ke kelasnya untuk belajar. &#8220;Kami berterimakasih kepada relawan Berkas yang telah membujuk ananda Ardi agar mau dan bersedia masuk sekolah lagi,&#8221; terang Kepala Sekolah SDN Kandangrejo, Jaelan, Senin (7/5/2018).</p>
<p>(<strong>baca juga : </strong><a href="https://memontum.com/40789-demi-merawat-ibunya-yang-lumpuh-bocah-10-tahun-rela-berhenti-sekolah" rel="noopener" target="_blank">Demi Merawat Ibunya yang Lumpuh, Bocah 10 Tahun Rela Berhenti Sekolah</a> )</p>
<p>Disisi lain, Wali kelas Ardi, Sri Wilujeng mengaku bersyukur karena Ardi sudah bisa masuk sekolah kembali. Sri mengaku, selama belajar, Ardi dikenal anak yang baik dan pendiam. &#8220;Ardi memang anaknya pendiam dan sebelum ini, Ardi memang sudah jarang masuk dan kalaupun masuk, setelah istirahat pertama harus balik ke rumah untuk merawat ibunya,&#8221; ucapnya. </p>
<p>Sementara, salah seorang relawan Berkas, Bripka Purnomo  menyampaikan rasa syukurnya atas kembalinya Ardi untuk bersekolah. Para relawan juga berharap agar Ardi bisa belajar meski sambil merawat sang ibu.&#8221;Sekolah juga sudah memberi dispensasi agar Ardi bisa sekolah sambil merawat ibunya,&#8221; ujar Purnomo.</p>
<p>(baca juga : <a href="https://memontum.com/41260-dindik-lamongan-beri-bantuan-dan-gratiskan-biaya-sekolah-ardiansyah-bocah-yang-berhenti-sekolah-demi-rawat-ibunya" rel="noopener" target="_blank">Dindik Lamongan Beri Bantuan dan Gratiskan Biaya Sekolah Ardiansyah, Bocah yang Berhenti Sekolah Demi Rawat Ibunya</a> )</p>
<p>Lebih lanjut, Purnomo menuturkan, simpati dan empati dari para donatur untuk keluarga Ardi sampai saat ini masih terus berdatangan. &#8220;Sesaat sebelum berangkat ke sekolah, para relawan Berkas juga menyerahkan donasi yang sudah terkumpul untuk diberikan kepada orangtua Ardi,&#8221; terangnya. <strong>(ifa/zen/yan)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41795</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Demi Merawat Ibunya yang Lumpuh,  Bocah 10 Tahun Rela Berhenti Sekolah</title>
		<link>https://memontum.com/demi-merawat-ibunya-yang-lumpuh-bocah-10-tahun-rela-berhenti-sekolah</link>
					<comments>https://memontum.com/demi-merawat-ibunya-yang-lumpuh-bocah-10-tahun-rela-berhenti-sekolah#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 May 2018 15:34:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lamongan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=40789</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lamongan &#8212; Ardiansyah, seorang bocah berumur 10 tahun di Dusun Kedung, Desa Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan merelakan dirinya tidak bersekolah hanya untuk merawat ibu kandungnya, Fitri Maya Wulandari (34) yang tergolek lemah di atas kasur tipis yang beralaskan tikar lebih dari lima tahun. &#8220;Saya gak tega ninggalkan ibu di rumah sendirian, gak ada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lamongan</strong> &#8212; Ardiansyah, seorang bocah berumur 10 tahun di Dusun Kedung, Desa Kandangrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan merelakan dirinya tidak bersekolah hanya untuk merawat ibu kandungnya, Fitri Maya Wulandari (34) yang tergolek lemah di atas kasur tipis yang beralaskan tikar lebih dari lima tahun. </p>
<p>&#8220;Saya gak tega ninggalkan ibu di rumah sendirian, gak ada yang suapin maem,” kata Ardiansyah lirih dengan mata berkaca-kaca, Rabu (2/5/2018). Menurut Ardiansyah, bocah yang masih duduk dibangku sekolah dasar (SD)  kelas V ( lima)  ini mengaku, memilih tidak sekolah demi untuk bisa menunggui, merawat dan menyuapi ibunya saat pagi, siang dan sore hari. </p>
<div id="attachment_40792" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://memontum.com/40789-demi-merawat-ibunya-yang-lumpuh-bocah-10-tahun-rela-berhenti-sekolah/img_20180501_181712-copy" rel="attachment wp-att-40792"><img aria-describedby="caption-attachment-40792" decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_20180501_181712-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="Ardiansyah (10) menunggui ibunya,  Fitri Wulandari (34) yang lumpuh saat dikunjungi sejumlah awak media" width="650" height="366" class="size-full wp-image-40792" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_20180501_181712-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_20180501_181712-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_20180501_181712-copy.jpg?resize=600%2C338&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG_20180501_181712-copy.jpg?resize=200%2C113&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a><p id="caption-attachment-40792" class="wp-caption-text"><em><strong>Ardiansyah (10) menunggui ibunya,  Fitri Wulandari (34) yang lumpuh saat dikunjungi sejumlah awak media</strong></em></p></div>
<p>“Ibu gak bisa ambil makan dan minum sendiri. Ibu lumpuh,&#8221; ungkapnya dengan sesekali menyeka air matanya yang menetes. Dikatakan Ardiansyah, sebenarnya Ia sempat bersekolah dan setiap jam istirahat sekolah, selalu pulang untuk menyuapi ibunya. </p>
<p>“Tapi pas saya sekolah ibu jadi tambah kurus, karena gak tega jadi saya gak sekolah saja,” ucapnya. Sang Bapak, Puryanto (38) pun menceritakan awal mula Ardiansyah memilih untuk menunggui ibunya, dan meninggalkan bangku sekolah. </p>
<p>&#8220;Saya ngomong ke anak saya, apakah tidak bisa sekolah sambil menunggu ibu,&#8221; ucapnya. Namun, Ardiansyah memilih menjaga ibunya karena tidak tega dengan kondisi ibunya semakin kurus karena tidak ada yang menyuapi dan menjaga. </p>
<p>“Ya mau gimana lagi, maunya begitu,” kata Puryanto. Sebagai suami, Puryanto mengaku sudah berupaya untuk membawa istrinya berobat dengan membawa istrinya ke Puskesmas dan juga ke rumah sakit di Ngimbang, Kabupaten Lamongan. </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/demi-merawat-ibunya-yang-lumpuh-bocah-10-tahun-rela-berhenti-sekolah/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">40789</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Potret Kemiskinan di Jombang, Kakek-Nenek Tinggal di Gubuk Reot, Bertahan Hidup dari Belas Kasihan Tetangga dan Orang yang Melintas</title>
		<link>https://memontum.com/potret-kemiskinan-di-jombang-kakek-nenek-tinggal-di-gubuk-reot-bertahan-hidup-dari-belas-kasihan-tetangga-dan-orang-yang-melintas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2017 10:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten jombang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/9077-potret-kemiskinan-di-jombang-kakek-nenek-tinggal-di-gubuk-reot-bertahan-hidup-dari-belas-kasihan-tetangga-dan-orang-yang-melintas</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jombang &#8212; Sungguh memprihatinkan hidup pasangan suami istri ini. Di usia yang sudah senja, Supar (65) dan Istrinya Sartini (60) warga Dusun Pagendingan, Desa Tapen, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang harus rela tinggal digubuk reot berukuruan 2,5 x 3 meter di sekitaran sungai Brantas, jauh dari tetangga. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan tetangga dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jombang</strong> &#8212; Sungguh memprihatinkan hidup pasangan suami istri ini.  Di usia yang sudah senja, Supar (65) dan Istrinya Sartini (60) warga Dusun Pagendingan, Desa Tapen, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang harus rela tinggal digubuk reot berukuruan 2,5 x 3 meter di sekitaran sungai Brantas, jauh dari tetangga. Mereka  bertahan hidup dari belas kasihan tetangga dan orang yang kebetulan melintasi kediamannya.</p>
<p>&#8220;Kulo ten mriki mulai tahun 2006 mas,grio niki nembeh dibangun mantun riaden (Hari Raya). Griyo kulo sampun ambruk,&#8221; ujar Supar sambil menunjuk sisa-sisa puing bangunan rumahnya yang ambruk saat hari lebaran beberapa bulan lalu.</p>
 <em>Puing-puing rumah Supar yang ambruk beberapa bulan lalu</em>
<p>Rumah yang berukuran sekitar 2,5 x 3 meter itu berdiri di atas tanah gogolan (tanah yang dia sewa) seluas 150 bata milik saudaranya.  Berdinding gedek (anyaman bambu) dan sebagian dindingnya terbuat dari triplek yang dicat warna putih, memiliki satu kamar dan satu dipan di ruang tamu yang beralaskan tanah. Sedangkan dapur yang ala kadarnya dari gedek itu tampak doyong ke sebelah kiri.</p>
<p>&#8220;Enggeh ngeten niki mas, griyo kulo. Alhamdulilah niki mawon welase tonggo-tonggo. Ngertos griyo kulo ambruk, wonten 15 tonggo seng gotong royong mbangunaken. Ngeten niki, jawah-jawah lek pas bareng angin, kulo medal wedi ambruk kados singen (kalau hujan dan angin saya keluar di teras mas,  takut ambruk seperti dulu),&#8221; terang Sartini istri Supar.</p>
<p>Sedangkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Supar berjualan kulit debog (kulit batang pisang) yang sudah kering. Namun karena musim hujan kulit debognya tak laku. Namun mereka mensyukuri karena masih ada yang peduli, seperti seorang tambal ban dan beberapa orang yang melintas di dekat rumahnya, sering memberinya bantuan berupa uang dan beras. &#8220;Kulo mreman (nguli)  mboten angsal kaleh mandore. Akhire ngge sadean debog. Ngeten niki sepi mas.Tapi alhamdulilah mas seng tambal ban kalean tiang seng lewat kadang-kadang nyukani arto kalean beras,&#8221; ungkapnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9077</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
